Untuk kalian yang merasa mengenalku, atau merasa berhak menilaiku.
Aku sering mendengar kalimat seperti ini:
“Anak yang dekat dan hangat dengan orang tuanya akan sukses.”
Kalimat itu mungkin terdengar bijak. Mungkin juga dimaksudkan baik. Tapi yang jarang disadari, bagi orang seperti aku, kalimat itu terdengar seperti vonis diam-diam:
"Kalau begitu, berarti aku tidak akan sukses."
Aku tidak tumbuh dalam kehangatan yang mudah diceritakan. Hubunganku dengan orang tua bukan hubungan yang bisa diringkas dengan kata “dekat” atau “tidak dekat”. Ada banyak hal yang tidak terjadi, banyak kebutuhan emosional yang tidak terpenuhi, dan banyak perasaan yang sejak lama kupelajari untuk kupendam sendiri. Bukan karena aku tidak mau bicara, tapi karena sejak awal aku belajar bahwa berbicara tidak selalu berarti didengar.
Dalam budaya dan agama kita, aku paham betul kata durhaka itu berat. Aku tahu bagaimana Islam memuliakan orang tua. Aku juga tahu betapa mudahnya seseorang dicap tidak tahu diri hanya karena menjaga jarak, memilih diam, atau tidak menunjukkan bentuk bakti yang umum dilihat orang.
Tapi yang sering dilupakan adalah ini:
tidak semua jarak lahir dari kebencian,
dan tidak semua diam adalah bentuk pembangkangan.
Kadang jarak adalah satu-satunya cara seseorang bertahan hidup tanpa hancur. Kadang diam adalah cara paling jujur untuk tidak menyakiti siapa pun, termasuk diri sendiri.
Aku tidak membenci orang tuaku. Tapi aku juga tidak bisa memaksakan diriku untuk berpura-pura hangat hanya demi memenuhi ekspektasi sosial. Aku belajar menerima bahwa hubunganku dengan mereka mungkin tidak ideal, dan itu bukan sepenuhnya salah siapa-siapa—tapi itu nyata, dan aku harus hidup dengan kenyataan itu.
Sebentar lagi aku akan pergi jauh, ke Jepang. Aku memilih berangkat dengan senyap. Tidak banyak cerita, tidak banyak pengumuman. Bukan karena sombong, bukan karena ingin menghilang, tapi karena aku ingin hidup tanpa harus terus-menerus menjelaskan diriku.
Aku ingin orang bebas menilai aku seperti apa.
Dan aku juga ingin bebas dari keharusan meluruskan penilaian itu.
Karena selama ini aku terlalu sering hidup dalam bayang-bayang definisi orang lain: anak yang seharusnya begini, manusia yang seharusnya begitu, hidup yang katanya harus disyukuri dengan cara tertentu—sering kali dengan membandingkannya pada mereka yang “lebih susah”.
Aku tidak menolak rasa syukur. Tapi aku juga percaya bahwa luka tidak hilang hanya karena ada orang lain yang lukanya lebih besar. Rasa sakit bukan lomba. Dan validasi diri tidak seharusnya bergantung pada penderitaan orang lain.
Surat ini bukan permintaan pengertian, apalagi pembenaran. Ini hanya penjelasan yang mungkin tidak pernah sempat atau tidak pernah dianggap perlu untuk didengar.
Jika suatu hari kalian melihat aku berubah, menjadi lebih diam, lebih misterius, atau mungkin terlihat “berhasil” menurut ukuran kalian, ketahuilah: itu bukan hasil dari kehangatan yang sering kalian bicarakan. Itu hasil dari perjalanan panjang berdamai dengan diri sendiri, sendirian.
Aku tidak meminta untuk dimengerti sepenuhnya.
Aku hanya berharap, sebelum menilai, ada jeda untuk berpikir:
bahwa setiap orang punya cerita yang tidak selalu terlihat dari luar.