Just wanna say something to u to my girl, my lover. Happy birthday to you, finally you’ve turned 23. Hope you got your wishes, success together, long live, and all good prayers are belongs to you. Happy birthday, Cintia Inggrid Kamara!
Dewasa ini, kemudahan untuk mendapatkan informasi secara cepat dalam benar-benar kita rasakan. Lima tahun yang lalu misalnya, berita online memang sudah bisa kita akses di handphone (smartphone) dan komputer. Namun tetap saja harus membuka browser untuk mengaksesnya.
Kemudahan dan tuntutan untuk mendapatkan informasi secara cepat mungkin adalah dorongan mengapa seiring dengan di ciptakannya dan berkembangnya OS mobile dan desktop banyak aplikasi-aplikasi news reader. Faktor itulah yang mungkin mendorong para penulis berita (dalam hal ini jurnalis media online) untuk sesegera mungkin mendapatkan berita dan menuliskannya. Namun kadang kala hal itu tidak di imbangi dengan kualitas berita yang di tulisnya di media. Entah media yang sudah punya nama maupun media yang masih baru.
Media yang sudah lumayan punya nama, semakin kesini artikelnya jadi kurang bermutu. Entah hanya soal seleb yang melontarkan satu komentar di media sosialnya, atau artikel yang memberikan judul panjang dan menjebak agar kita membuka artikelnya. padahal memang kita tahu bakal terjebak, tapi tetap saja di buka kan? contohnya tidak akan saya sebutkan di sini. Mungkin kalau sudah sering baca portal berita LINE (LINE TODAY) pasti tahu dan hafal pola-pola per-judul-an-nya.
Namun, ada beberapa media yang baru-baru ini saya baca-baca artikelnya yang isinya mendalam, judul singkat dan jelas. Singkat kata berkualitas secara judul dan isi. Di aplikasi news reader saya, Newsflow, saya menambahkan RSS Feed salah duanya dari kanal berita tirto.id dan vice.com (versi bahasa Indonesia). Yang pertama tirto.id, menurut saja situs ini menyajikan berita dan artikel yang saat ini sedang hits, in, booming dengan lengkap dan mendalam. Ada pula beberapa artikel yang jarang kita ketahui untuk menambah pengetahuan di banyak bidang kajian. Untuk vice.com sendiri saya banyak menemukan artikel yang tidak jauh mendalamnya dari tirto.id, sayangnya baru sedikit artikel yang saya baca. yang saya temukan adalah sesuatu yang jarang orang temui selama ini. Satu yang saya tahu adalah bahwa biasanya di banyak artikel di tirto.id banyak di sisipkan infografis untuk menunjang info yang sedalam-dalamnya. Hal itu pun dapat menambah kesan menarik dan akurat.
Tetapi memang, tidak dapat dipungkiri jika pekerjaan penulis berita atau jurnalis memang berat. Dapat dikatakan deadline sudah seperti temannya. Mereka sering berhadapan dengan deadline dan berhadapan dengan kondisi yang bagaimana pun buruknya. Mungkin saja gara-gara terus dikejar untuk setor berita sebanyak-banyaknya (kuantiti), isi yang mereka tulis malah luput dari perhatian (kualiti). Ya, patut dihargai juga. Salute!
Akhir kata, perlu di ketahui bahwa, opini atas penilaian suatu hal adalah bersifat subjektif. Tidak ada benar atau salah. Bagaimana pun, yang benar-benar salah adalah justru yang tidak pernah baca-baca. Dan kembali lagi, untuk lebih memahami masing-masing portal berita tersebut (jika penasaran) bisa di buka dan dibaca sendiri.
I tried to be a better person. Started from a small things like this. You can’t solve the problem with angry. People who resolves problem is with the angry are people who see the world through a keyhole. Extremely narrow view.
He will not improve, but only see the faults of others.
and just watch it.
Original caption says :
Hanya 2,5 menit
.
Marah merupakan salah satu senjata setan, yang dengan itu setan dengan mudah mengendalikan manusia. Ada beberapa tips mengendalikan marah dalam Islam. Apa saja tips mengendalikan marah itu? Simak jawabannya dalam video berikut ini ...
Youtube(HD): https://youtu.be/AHpIDeQmBtU
Silahkan dishare ...
Sumber Artikel: https://konsultasisyariah.com/18243-cara-mengendalikan-emos…
Suka bingung juga kalau sedang mengerjakan proyek desain grafis, illustrasi digital atau gambar manual, ketika sampai di bagian ‘mewarnai’. Entahlah, dari dulu memang saya agak kesusahan ketika ingin memadu-padukan warna yang akan dipakai. Tak jarang saya malah stuck di warna yang itu-itu saja. Kemarin pakai warna ini, sekarang pakai warna itu, besok lagi bisa saja saya pakai warna ini lagi.
Namanya juga tukang gambar amatiran.
Eh, akhirnya nemu artikel ini, 6 website yang mencari kombinasi warna. Boleh juga. Sebenarnya selama ini saya juga sudah mengakalinya dengan mencari palette warna di google, tapi masih kurang bervariasi.Hasilnya juga gitu-gitu saja.
Biar orang lain tahu (kalau dibaca), biar linknya juga terarsip dengan baik, maka seperti biasa saya posting disini.
Se-enggak-sukanya kita sama sinetron, pasti pernah dong sesekali nonton sinetron. Se-enggak-sukanya kita sama sinetron, pasti hafal lah beberapa adegan yang sering muncul dan dimunculkan di sinetron.
Sebut saja adegan tatap-tatapan, atau hampir ketabrak mobil tapi sempet-sempetnya jerit bukannya lari, atau tentang konflik rumah tangga yang tak berkesudahan.
Tapi yang bikin saya akhir-akhir ini ‘terusik’ adalah bagian dimana tokoh pembantu, tukang ojek, pedagang sayur, atau apa lah yang menggambarkan tokoh masyarakat menengah ke bawah (status sosial dan ekonomi), biasanya digambarkan dengan memakai logat bahasa daerah yang 'sangat’ kental sekali. Biasanya bahasa daerah yang dipakai adalah bahasa sunda atau jawa. Eh ada juga yang pakai logat betawi yang kental.
Ya seperti itu lah. Heran juga ya.
Seolah-seolah kalau belum memakai logat ke-bahasa-daerah-an yang kental rasanya belum sah.
Selain itu apa? Oh ya, sering kali orang kampung digambarkan ketika tidur hanya memakai sarung. Ya ampun sebegitunya ya.
Yang saya heran lagi, entah di sinetron atau di FTV sekalipun. Orang jawa yang digambarkan lemah lembut dan kental akan budayanya, selalu memakai atribut blangkon. Tidak selalu, tetapi sering, hampir semua. Entah blangkon, sorjan (baju adat, biasanya bercorak garis-garis warna coklat), atau pakai sepeda ontel.
Begini lho...
Memakai atribut tersebut jika hanya sekali adegan tidak masalah ya, lha dipakai terus lho di setiap adegan. Heran. Seolah-olah orang jawa itu setiap harinya memakai atribut-atribut itu? Ya nggak dong.
Saya aja sebagai orang jawa asli, tidak gitu-gitu amat kok. Apa iya setiap keseharian saya harus pakai blangkon setiap mau ke kampus, sorjan setiap mau main, dan sepeda onthel sebagai sarana transportasi? Nggak kan.
Ya sebaiknya jika ingin menggambarkan tokoh dari asal daerah bisa saja hanya pakai logat bahasa daerah, tapi jangan berlebihan. Soal atribut? boleh saja sesekali asal jangan berlebihan. Sewajarnya.
Saya kira sinetron (dan acara sejenis) sekarang masih terlalu berlebihan dalam menggambarkan tokoh. Jadinya maksa dan tidak realistis. Entah dikejar deadline tayang atau memang hanya dibuat seadanya, bukan sewajarnya.
Mana yang benar? Silakan atau silakan? Tentu kita pernah mendengar kata-kata tersebut.
Saya sendiri sering sekali melihat teman yang sedang berbicara mengucapkan ‘silahkan’. Entah berbicara langsung maupun hanya lewat media sosial. Bukan hanya teman saya, sering kali saya berselancar di internet, melihat dan membaca media online. Tidak jarang mereka masih menggunakan kata ‘silahkan’. Komentar-komentar di kolom komentar oleh netizen pun banyak yang demikian.
Hanya sedikit yang saya ketahui mereka yang pernah menggunakan kata ‘silakan’. Entah teman saya sendiri secara langsung, tidak langsung (chat, sms, texting), media online dan netizen pun demikian.
Saya sendiri sudah sejak lama adalah penganut kata ‘silakan’. Selain berbeda (cieh), tentunya dulu saya pernah mendengar di pelajaran bahasa indonesia waktu smp kalau tidak salah, bahwa yang benar adalah ‘silakan’.
Mengutip berdasarkan pencarian di KBBI daring, ‘silakan’ mempunyai kata dasar ‘sila’, yang artinya adalah :
si.la2
bentuk tidak baku: silah1
v : menyilakan
si.la2
bentuk tidak baku: sela4
v : duduk bersila dengan kaki berlipat dan bersilang:
mengorak –
bangkit dari duduknya
si.la3
n : aturan yang melatarbelakangi perilaku seseorang atau bangsa
n : kelakuan atau perbuatan yang menurut adab (sopan santun)
n : dasar; adab; akhlak; moral:
– dalam Pancasila saling terkait
Hal yang paling sederhana juga bisa lakukan untuk membuktikan bahwa hal tersebut yaitu dengan menggunakan Microsoft Word atau software pengolah kata sejenis. Di Microsoft Word, ubah settingan bahasa ke Bahasa Indonesia. Dengan begitu ketika kita ketika beberapa kalimat saja akan terlihat kata baku dan kata yang tidak baku dalam bahasa indonesia. Jika settingan dalam Bahasa Indonesia, kata yang ditulis menggunakan Bahasa Indonesia baku tidak akan ada garis merah dibawahnya. Sedangkan kata yang tidak baku atau kata-kata asing yang ditulis akan terdapat garis merah dibawahnya.
Saya mencoba sendiri, saya menulis kata silahkan dan silakan. Kata yang terdapat tanda garis merahnya adalah kata silahkan. Hal itu jelas sudah membuktikan.
Dengan begitu sudah jelas mana kata yang seharusnya di pakai kan. Sebenarnya keduanya sah-sah saja dipakai, asal memperhatikan tempat penggunaan. Kata silakan dipakai dalam keadaan formal (non-formal juga bisa) dan kata silahkan dipakai dalam keadaan yang santai (non-formal).
Tidak dapat di pungkiri bahwa masyarakat disekitar kita masih saja banyak yang menggunakan kata ‘silahkan’. Meskipun menggunakan ‘silahkan’ itu masih sah-sah saja tetapi menurut saya tidak pas dan kurang tepat jika masyarakat itu tidak mengetahui pengertiannya dan asal muasalnya. Alangkah baiknya jika kita dapat mengedukasi masyarakat terkait penggunaan bahasa yang baik dan benar. Selain menggunakan sesuatu kaidah kebahasaan dan sesuai EYD, juga mengerti pengertian dan asal muasalnya menurut KKBI atau sumber-sumber terkait.
Untuk pertama kalinya dalam sejarah hidup saya. Mungkin sedikit berlebihan dan hanya berbagi cerita saja.
Akhir tahun saya mencoba peruntungan saya untuk mengikuti lomba desain logo Rumah Sakit Yasmin yang ada di Banyuwangi. Awalnya belum menemukan ide dan konsep yang pas. Kalau tidak salah hari itu tanggal 22 Desember 2016, deadline pengumpulan karya via Instagram. Baru teringat bahwa saya belum mengerjakannya. Buru-buru saya mengerjakan, dimulai sekitar pukul 10 malam.
Selesai pas sekali hampir mendekati jam 12 malam. Deadline tanggal 22 jam 12 malam. Buru-buru sekali malam itu, dan belum upload di instagram juga. Singkatnya selesai upload di instagram dan semuanya sekitar jam 12.03. Entah lah, saat itu hanya bisa pasrah. Entah dianggap atau tidak. Yang pasti tetap berdoa dan optimis.
Pengumuman karya tanggal 30 desember 2016. 30 desember adalah pengumuman pemenang utama dan kandidat 10 besar diumumkan sehari setelahnya. Pengumuman pemenang utama saya tunggu dan ternyata saya kurang beruntung. Tapi masih ada harapan di 10 besar, dan alhamdulillah di malam 31 desember saya cek instagram ternyata saya masuk 10 besar. Alhamdulillah Wasyukurillah.
Pemenang utama mendapat hadiah 5juta, 10 besar mendapat voucher coffeeshop 100ribu. Ketika itu saya bingung perihal voucher tersebut hanya bisa di gunakan di d’cinnamon coffee di Banyuwangi sedangkan saya di Jogja. Saya hubungi pihak RS. Yasmin via DM Instagram. Mereka minta nomor handphone lalu menelepon. Intinya mereka akan mengirim hadiah plus sertifikat atau piagam penghargaan. Saya pun mengirim alamat lengkap.
Beberapa hari saya tunggu akhirnya tanggal 10 januari 2017 paket tersebut telah sampai di tangan. Sebuah amplop besar berisi sertifikat dengan keterangan nama saya sebagai 10 besar dan voucher yang sudah di ganti dengan nominalnya saja (:p). But it’s okay.
Foto dibawah ini adalah foto yang di ambil Cintia siang tanggal 13 hari ini. Karena sebelumnya, pagi harinya saya di telepon pihak RS. Yasmin untuk memfoto diri saya sambil membawa sertifikatnya untuk di post di instagram RS. Yasmin.
Singkat cerita...
Alhamdulillah...
Desain logo saya dapat di lihat di instagram kedua saya di @giffaririfki atau klik link ini untuk menuju ke link terkait.
Desain yang lain dapat diilihat juga di instagram RS Yasmin, disini.
Already few time ago I love this character, Wolverine. However it is very unfortunate, I have seen the movies and no iconic costumes there. But I still like the story.
Just click in the title to go out to the page that descripted Wolverine Costume Evolution.
Ketika kutu buku membaca buku sebelum tidur, ketika yang hobi nyanyi mendengarkan lagi dan menyanyikan lagu favorit sebelum tidur, ketika si doyan makan menyantap makanan kesukaan sebelum tidur.
Saya sendiri akhirnya menemukan formula yang pas sekali. membaca kisah inspirasi dari orang yang menginspirasi. Saya sangat senang membaca kisah inspirasi dari orang yang berpikiran terbuka, berhati besar melihat persoalan sosial di sekitar dan menyikapinya dengan tulus, ikhlas dan tidak kaku. Bukan hanya sekedar melihat, membaca berita, mengomentari, lalu melupakannya. Mas Agus adalah orang yang berhati besar.
Di akhir paparan cerita ini di tutup dengan kalimat yang sangat saya suka. “Tapi inilah medan pertempuran saya bersama mereka yang terpinggir. Buat apa gembar-gembor soal agama dan nama Tuhan jika kamu tidak mengasihi sesamamu?”
Klik pada judul jika akan membaca artikel terkait. Atau klik disini.
Istilah artis tentunya sudah sering kita dengar di dalam kehidupan sehari, termasuk dari media televisi, radio, media cetak, maupun yang sedang ngetren adalah media online (internet). Di Indonesia sendiri istilah artis sering di pergunakan dalam sebuah acara infotainment untuk menyebut orang yang pekerjaannya berakting, menyanyi di layar kaca, dan bahkan kadang-kadang penyebutannya untuk orang yang ‘pernah’ muncul di layar kaca televisi. Entah hanya muncul sebentar maupun yang sudah sering. Menurut saya masyarakat ini mungkin belum menilik kembali asal-muasal katanya.
Artis dalam bahasa Indonesia diserap dari bahasa inggris, Artist, yang artinya seniman. Disini bisa kita lihat bahwa di dalam katanya saja sudah mengandung sebuah kata yaitu 'Art’ artinya seni. Jadi menurut saya, seorang artis itu ya bukan hanya yang sering muncul di layar televisi saja, melainkan adalah orang yang bekerja dibidang seni, atau seseorang yang menghasilkan karya seni dibidang tertentu, misalnya lukis atau menyanyi.
Saya pernah beberapa kali membaca sebuah komentar di sosial media, dia mengomentari berita terkait berita 'gaji endorse para artis Indonesia’. Komentarnya kurang lebih 'si ***** itu artis?’ (si ***** ini adalah orang yang termasuk terkenal di sosial media Instagram tetapi jarang muncul di televisi). Membaca komentar tersebut akhirnya mengilhami saya untuk menulis tentang ini. Lantas apa yang salah? menurut saya jika dilihat lagi seperti arti kata tersebut (seperti yang sudah saya tulis di atas), ya si ***** itu termasuk artis, meskipun jarang muncul di televisi. Mengapa? karena menurut saya, apa yang telah di hasilkan orang si ***** ini termasuk dalam sebuah seni, seni komedi. Ya, komedi adalah seni. Seperti menyanyi, melukis, memahat, menari, dan yang lainnya.
Jadi mengapa masyarakat masih banyak menggunakan istilah artis untuk menyebut orang-orang tersebut? Jawabannya menurut saya adalah karena blow-up berita-berita infotainment di media. Mereka terbiasa menyebut bahwa si aktris, aktor, penyari, penari, pelawak, pembawa acara (host), dan orang-orang yang selalu mengisi acara-acara di televisi kalian itu adalah artis. Mereka benar, tetapi penyebutannya seharusnya satu-satu saja, atau di sebutkan pekerjaan masing-masing saja. Misalnya jika menyebutkan penyayi, ya penyayi saja, jangan artis, karena artis itu terlalu jamak dan ber-arti sangat luas.
Atau... jika saya masih boleh memberikan solusi penyebutan lagi, sebutlah mereka (yang selalu tampil di depan kamera dan tersorot media) dengan sebutan : selebriti, selebritis, selebritas, seleb, celebrity. Menilik dari definisinya di wikipedia bahwa :
Selebriti (bahasa Inggris: celebrity) atau pesohor ialah orang terkenal lantaran terlalu dekatnya dengan dunia pemberitaan (pers). Setiap gerak langkahnya, pes tak pernah luput dari sorotan media massa. Bahkan sering menjadi sasaran empuk sebagai bahan selentingan wartawan informasi hiburan. Ada sebagian pesohor menjadi populer karena prestasi dan kiprahnya, ada pula pesohor yang populer karena kontroversi kehidupannya.Menurut Kamus Dewan Edisi Keempat, halaman 1422, Selebriti diertikan sebagai orang yang terkenal dan menjadi tumpuan ramai, terutamanya dalam bidang hiburan seperti bintang film, pelakon dan penyanyi.
Jadi dapat disimpulkan terserah pembaca tulisan (baca: keresahan) ini.
Bingung ya baca judulnya yang Baca Gak Baca Pengen Baca? hehe sengaja bikin bingung kok. Sekedar mau cerita saja ya. Kebiasaan kecil saya dulu sampai sekarang kalau sedang ada waktu luang atau pergi tapi bingung mau kemana pasti pengennya ke toko buku. Entah cuma mau baca-baca secara gratis atau beli buku, kalau ada uang. Buku yang bikin saya tertarik biasanya buku sejarah, sosial, self-improvement, psikologi, desain, periklanan, dan komik tentunya.
Biasanya jika ada buku yang menarik dan saat itu ada uang ya saya beli. Entah kenapa sampai dirumah biasanya malah tidak dibaca langsung atau malah lama sekali dibaca sampai habis. Ketika di tokok buku rasanya pengen beli, kalau sudah di beli malah kadang-kadang dibaca. Dirumah pun kadang juga pengen baca tapi baca beberapa lembar biasanya langsung ngantuk. Saya gak tahu sampai sekarang entah bagaimana kalau melihat buku rasanya tenang, damai. Apalagi buku yang tersusun rapi di rak buku yang bentuknya aneh. Rasanya pengen memiliki.
Tapi saya rasa memang tidak ada yang salah ketika sudah membeli buku, toh nantinya juga pasti bakal di baca, entah saya baca atau untuk kenang-kenangan jika telah berkeluarga nantinya. Sejujurnya saya lebih menyukai sesuatu hal yang ada bentuk fisiknya, terutama buku. Lihat saja dibandingkan e-book buku lebih enak dibaca kan. E-book memang mudah dan praktis dibawa kemana-mana, tapi kepuasan memiliki secara fisik itu tidak dapat tergantikan.
Jadi, mulai sekarang cintailah buku, walau hanya buku-buku ringan. Bagi saya kebiasaan membaca harus dimulai bertahap. Namanya membudayakan ya harus bertahap dan dimulai dari diri sendiri dan dari hati. Yang penting suka dulu, kalau suka ya dibeli, setelah itu dibaca. Apa lagi dibaca sambil minum coklat dingin. Kenapa gak kopi ya? ya karena saya lebih suka coklat dibanding kopi.
“Sedia Sarapan Pagi…”
“Sedia Menu Sarapan Pagi…”
“Sarapan Pagi, Sedia Bubur Ayam dan Nasi Kuning, dll”
Selamat pagi! Mengawali jumat pagi saya mau bahas satu bahasan yang sudah lama pengen saya posting. Saya sering lihat dan baca tulisan-tulisan yang kurang lebih seperti di atas, tulisan-tulisan yang sering saya temui di warung-warung dari penjual makanan pagi hari yang menyediakan menu sarapan seperti bubur ayam, nasi kuning, dan sejenisnya. Keheranan dan keresahan, kenapa mereka masih menggunakan kata “sarapan pagi”, padahal kata “sarapan” itu sudah merujuk pada kata pagi atau sudah menjelaskan bahwa sarapan itu memang dilakukan pada waktu pagi hari. Jadi seharusnya tidak perlu dijelaskan dengan menambahkan kata “pagi” setelah kata “sarapan”. Tapi ya itu terserah mereka.
Huft.
*Gambar hanya sebagai ilustrasi. Sumber : chicago.eater.com