The Journey is Started, Again?
Nyatanya, kemarin ku masih selalu bertanya dan mencari alasan "kenapa tak kunjung keluar dari tempat ini?". Padahal jika dihitung, sudah memasuki tahun kelima ku berada di tempat ini, iya kampus tercinta. Sebagai apa? Mahasiswa? Aku sudah tak memiliki jadwal kuliah yang harus ku ikuti. Aktivis? Ah, siapa diriku. Bahkan ku tak di dunia mereka lagi sudah hampir 1 tahun terakhir. Lalu? Kau ini sebagai apa sa?
"Siapa yang menungguku diujung sana?" "Siapa yang akan mengiringiku untuk berjuang sampai disana?" "Apa yang mengharuskan ku untuk segera keluar dari sini?"
Iya, sepertinya aku hanya mencari cari alasan. Seolah tak pernah menjawab pertanyaan itu, pertanyaan yang dibuat buat. Lalu tak diduga seseorang datang di kehidupan, menjanjikan sebuah onggokan janji yang manis dan usaha untuk membantuku keluar dari sini. Kukira akan berhasil, karena dia telah merubahku menjadi seseorang yang bukan diriku, entah menjadi lebih baik atau menjadi lebih buruk. Dan akhirnya, ia gagal dan menyerah. Kupikir karena dia memilih cara yang salah, cara yang tak bisa menyentuh hatiku untuk segera bergerak keluar dari sini. Tapi, lagi lagi bukan itu. Ku hanya mencari alasan saja.
Setelah kegagalan dengan menyerahnya dia, ikutku terbawa gagal dan menyerah. 10kg beban dalam tubuhku menghilang, karena sudah tak berdaya. Mengapa tak beban dalam hidupku saja yang menghilang? Kurasa, itu bisa membuatku bahagia. Jangan, itu bukan hidup sa.
Dan kembali, datang seseorang yang lainnya dengan begitu cepat. Menawarkan harapan baru, bukan cinta. Berniat membantuku keluar dari sini, dan ku tertarik. Caranya berbeda dari yang lalu, kurasa kali ini akan menyentuh hatiku. Lebih lembut, lebih menenangkan. Tempat keluh kesah, tempat mengadu, tempat beradu argumen, tempat ku belajar banyak hal. Iya, itu dia. Namun, sekian lama ku merasa. Tidak ada perkembangan, usahaku untuk keluar dari sini. Yang ku dapat, hanya sebagian kecil pelajaran. Tapi tak berhasil membuat ku keluar dari sini. Tapi kali ini ku tak ingin menyerah, dan ingin bertahan. Siapa tahu, ujarku.
Tak begitu lama, datang lagi seseorang yang baru. "Tuhan, mengapa orang-orang hobi sekali datang dan pergi. Tanpa kutau alasan niat mereka datang di kehidupanku. Tak taukah kau Tuhan? Sudah bosan ku dengan mereka yang datang dengan harap dan cinta, tapi tak berniat sungguh". Anehnya, ada sesuatu yang bisa membuatku penasaran. Nyaman? Mungkin, tapi bukan itu awalnya. Cinta? Sungguh, ku tak percaya dengan cinta di waktu yang singkat. Lalu?
Bukan harapan yang dia tawarkan, bukan janji manis, apalagi cinta. Tidak ada sama sekali, tidak ada. Tidak jelas kan ku sebut itu. Lagi ku heran, kenapa bisa begitu singkat dan terlampau jauh ku diajak untuk memasuki dunianya. Ah, ini hanya geerku saja, ujarku. Tapi, percayalah siapa yang bisa begitu hebatnya mengendalikan perasaan agar tak terjebak kembali dengan segala tanda tanya darinya. Lelah sudah ku bermain main, sudah bukan waktunya lagi.
Terciptalah perjalanan sunyi yang tak terduga dengannya, dengan segala yang dia miliki, ku semakin terkagumi. Banyak hal yang bisa ku pelajari darinya, bukan hanya tentang pengalaman. Sesuatu yang berbeda. Tutur katanya, ujarannya, sikapnya, pandangannya terhadap sesuatu, pemikirannya terhadap banyak hal, ku liat dia berbeda dari yang lain. Semakin ku telaah, semakin banyak cara ku untuk terus mengaguminya. Tak henti kupandangi, tak henti ku dengarkan, rasanya tak ada alasan untuk ku tak kagum dengannya.
Bagaimana ia bisa membuatku tak menyentuh gadget dengan waktu yang tak singkat? Bagaimana ia bisa mengajarkanku tentang nikmatnya ketenangan itu? Bagaimana ia bisa membuatku sangat menyukai perjalanan semacam itu? Bagaimana?
Dan pada akhirnya, ku menemukan jawaban dari semua pertanyaan yang selama ini ku cari. Tanpa dia sadari, tanpa dia niatkan, dia telah memberiku jawaban dengan pelajaran di perjalanan ini. Tentang kehidupan, tentang tujuan, tentang kesukaan, tentang kedukaan, tentang semua yang ku selalu pertanyakan. Dan akhirnya, ku tersadar.............
Apa yang kau kejar? Apa yang kau ingin? Apa yang membuatmu hanya berdiam diri? Apa yang membuatmu tak bergerak? Mengapa harus orang lain yang membantu? Mengapa harus menunggu yang lain? Mengapa harus yang lain untuk membuatmu maju? Sudah kuduga, ku hanya mencari alasan saja bukan.
Jawabannya, semua ada didalam dirimu sendiri sa. Tak perlu orang lain, tak perlu bantuan. Karena menjadi percuma, jika tidak dimulai dari diri sendiri terlebih dahulu. Bodohnya, ku tau jawaban ini dari awal. Lalu kenapa kau terus mencari alasan sa? Tak guna! Dan akhirnya, akhirnyaaaaa! Ku tersadar untuk bergerak kembali, ku tersadar untuk maju kembali, ku tersadar untuk mulai kembali! Dengan menepiskan berbagai harapan dari yang yang lain, ku harus bangun harapanku terlebih dahulu, dibentengi niat dan kan ku hiasi dengan usaha sebagai penyempurna.
Jangan terjebak kembali di zona nyamanmu sa, ingat! Ujar siapa tak ada yang menunggumu sa? Dunia membutuhkanmu lebih, alam menginginkan kamu untuk keluar dari sini! Semesta sudah memanggil lalu melambaikan tangannya padamu sa! Mereka yang menunggumu! Berikan motivasi terhadap dirimu sendiri! Ciptakan semangat dirimu sendiri sa! Mulai dan buktikan kembali kalau kamu bisa lebih!
Seperti lagu Realita, yang dibawakan Fourtwnty.
Nafsu dulu baru logika, tinta biru tinggal cerita. Realita. Tutup mata tutup telinga, perhitungan pun tak ada. Realita.
Itulah yang terjadi, padaku, kemarin
Tanpa kulupakan, dan selalu berbalut syukur. Terhadap orang-orang yang hadir, orang-orang yang datang, orang-orang yang pergi, yang silih berganti. Selalu memberi pelajaran yang kadang tak kusadari, atau bahkan mungkin tak kuakui.
Hidup tak bisa di ukur, semesta andil didalamnya. Dan kini ku deklarasi kan, perjalanan ku dimulai, kembali.