Temi Laurent

seen from Mexico
seen from China
seen from Russia

seen from Italy
seen from China

seen from Germany

seen from Malaysia
seen from Sweden
seen from China
seen from China
seen from Sweden
seen from Maldives

seen from Sweden

seen from Mexico

seen from Brazil

seen from China
seen from Malaysia
seen from Vietnam
seen from Norway

seen from Russia
Temi Laurent
PANTAI BARON
Pantai Baron (bahasa Jawa: ꦥꦱꦶꦱꦶꦂꦧꦫꦺꦴꦤ꧀, translit. Pasisir Baron) adalah salah satu objek wisata berupa pantai yang terletak di Kalurahan Kemadang, Kapanewon Tanjungsari, Kabupaten Gunungkidul.[1] Lokasi Pantai Baron dapat ditempuh 40 km dari pusat kota Yogyakarta.[2] Asal mula nama Pantai Baron berasal dari nama seorang bangsawan asal Belanda yang bernama Baron Skeber.[3] Bangsawan tersebut pernah mendaratkan kapalnya di pantai selatan tepatnya di pantai yang saat ini terkenal dengan sebutan Pantai Baron.[3] Jalan menuju objek wisata Pantai Baron cukup baik untuk dilalui kendaraan pribadi, sepeda motor, dan bus.[1]
Objek wisata Pantai Baron merupakan pantai yang membentuk cekungan.[4] Seperti pantai lainnya, di Pantai Baron tersedia aneka ikan laut beserta olahannya.[2] Ikan yang biasanya dijual di Pantai Baron adalah udang windu, kakap, bawal putih, dan tongkol.[2] Pantai Baron memiliki fasilitas berupa tempat pelelangan ikan, wahana permainan anak-anak, perahu bermesin, dan toko cenderamata.[5] Buah srikaya, pisang tanduk, sirsak, dan berbagai macam cenderamata yang terbuat dari kerang laut.[5] Cenderamata berbahan kerang yang banyak dijual di Pantai Baron adalah bros, tirai kerang, lampu hias, cermin berhias karang, figura, dan aneka karakter hewan yang juga terbuat dari kerang laut.[5]
Upacara sedekah laut adalah upacara yang masih sering dilakukan oleh masyarakat Gunungkidul. Pantai Baron adalah salah satu tempat untuk menyelenggarakan upacara sedekah laut tersebut.[6] Upacara sedekah laut diselenggarakan setiap tanggal satu Syuro dalam penanggalan Jawa.[6] Upacara sedekah laut dilakukan sebagai ungkapan rasa syukur penduduk setempat atas melimpahnya tangkapan ikan di Pantai Baron.[6] Awalnya, sebagian besar penduduk di sekitar Pantai Baron bukanlah nelayan melainkan petani yang mengolah kebun.[6] Suatu ketika ada seseorang yang memulai menangkap ikan di pinggiran pantai dan mendapatkan banyak ikan, kemudian banyak penduduk yang mengikuti orang tersebut untuk menangkap ikan.[6] Semakin lama, ikan di pinggir pantai semakin sedikit kemudian penduduk mencoba menangkap ikan ketengah laut menggunakan rakit kayu.[6] Adanya kapal di pantai ini karena suatu ketika terjadi tragedi nelayan yang saat menangkap ikan di tengah laut digigit oleh ikan hiu maka kabar ini pun tersiar di mana-mana dan menjadikan pemerintah menyumbangkan perahu untuk nelayan Pantai Baron.[6]
Keunikan Pantai Baron adalah adanya sungai bawah tanah yang mengalir cukup deras ke arah lautan.[7] Sungai bawah tanah tersebut mengalir ke arah laut dan membentuk sebuah sungai.[7] Uniknya sungai bawah tanah yang ada di Pantai Baron adalah rasa airnya yang tawar meskipun berada sangat dekat dengan laut.[6] Pengunjung yang tidak berani bermain dan berenang di laut dapat bermain air dan berenang dialiran sungai bawah tanah tersebut.[7] Pemandangan lain yang ada di Pantai Baron adalah sebuah bukit yang berada di sekitar pantai.[6] Pengunjung dapat menikmati keindahan pantai dari atas bukit tersebut.[6]
KERING SENDIRI DI TANAH BASAH
Tak luput sedikitpun, tentang penantian yang telah lama hidup dalam kesendirian. Seorang nelayan sore itu berkata padaku yang sedang merenung. “Singgah dan diam di sini, takkan pernah mengubah apapun, Dik,” katanya lirih sembari tersenyum. Aku hanya memandang wajahnya, tak sanggup membalas pernyataan tersebut. Ia pun berlalu, membawa perahunya, mengarui lautan yang ombaknya selalu tak segan merenggut nyawa. Sedang kedua anak itu berlari ke tepian, berteriak pada ayahnya untuk kembali pulang. Sang istri hanya melambai mesra, matanya berbinar khawatir akan apa-apa.
/
Aku masih dibelai angin, masih diam. Menulis apa yang baru saja nelayan itu katakan dengan harap segera menemukan jawaban.
/
Semua yakin yang disayang akan pulang, sejauh apapun perginya. Tapi lupakah mereka pada kemungkinan-kemungkinan kejam di luas lautan dalam yang kapan saja mampu menenggelamkan sebesar apapun harap? Aku lebih menerima akan kenyataan, dimana kemungkinan terburuk selalu diperhitungkan. Bahkan yang paling bersuka cita memiliki luka lara, bahkan yang muda bergairah memiliki masa tua yang menjerah, bahkan yang paling kaya harta memiliki kemiskinan akan kebersamaan.
/
Panggung semakin gelap. Menuju malam, aku masih berpikir. Pasalnya masih ada jawaban yang belum kutemukan.
/
Pertanyaan paling kejam sore itu; dengan siapa kau akan pulang?
— Padang, A.
Serupa Nelayan
Kala itu, mencintaimu serupa nelayan yang menebar jangkar, berharap sedang berada di tempat yang benar. Ombak yang menggoyangkan sampan, menghempas tubuhku ke kiri, dan ke kanan. Namun aku bertahan. “Jika kamu mencari ikan, pergilah ke lautan. Jika kamu mencari kebahagiaan, pergilah ke tempat yang diimpi-impikan”. Semua sudah pada tempatnya, maka itu, aku memposisikan diriku di sampingmu. Sesederhana itu, sebab aku memang sedang mencari seseorang sepertimu.
Kala itu.
Saat ini, laut surut. Meski airnya masih sama, tak berubah rasa. Namun sampan tak mungkin dipaksa.
Aku terdampar pada harapan yang sukar. Ketika menujumu, ialah satu minta yang dianggap tak benar. Aku pernah pada posisi yang sama, ketika aku terpelanting keluar dari sampan, dan tenggelam. Hampir mati oleh keinginanku sendiri.
Yang kamu tahu hanyalah, ketika aku sampai di tempatmu, tersenyum untukmu, dan mendongengkan tidurmu. Kamu tidak tahu perjalananku. Kamu tidak tahu, luka apa yang bersarang di balik lekuk senyum manisku.
Kamu tidak pernah tahu. Kamu tidak pernah mencari tahu.
Bagai nelayan tua, yang kamu nantikan bukanlah hadirku, melainkan hasilku.
Terdampar pada harapan yang sukar, sudahlah benar. Sebab memang, bukan di sanalah tempatku—berperan sebagai nelayan di lautan.
Dan yang memang bukan kisahnya, harus diakhiri secepatnya. Sebab bertahan lama-lama di dalam kisah yang salah, hanya akan membuatku hilang makna.
Bangsa kita adalah bangsa agraris. Pernah berjaya karna laut dan sawahnya. Tapi kenapa sulit sekali menemukan anak-anak yang bercita-cita ingin menjadi nelayan dan petani?
Cerita dari Sungai Juwana
Kunjungan kami ke pati kali ini disambut dengan mobil mewah dengan modifikasi yang cukup kece ketika kami sampai disatu buah desa, dipinggiran kali juwana.
*Mbatin Motor wae dimodif ragat e wes akeh, pie menh mobil.. hmm
Sesampainya dipinggir sungai, kami terpanah dengan jejeran kapal nelayan yang biasa untuk mengangkut ikan ikan berukuran besar.
" Mas buat mbikin kenalpot nya aja bisa habis 5 - 8 juta " seru bapak bapak yang sedang asik duduk dikursi panjang sesambi menghisap sebatang rokok ditepi sungai.
" Nek reti mas, nggo nggawe kapal cakalang kae *Sambilnunjuk sek ono gendero genderone kae, kui paling ora duit e sepuluh miliar mas. " Saut bapak disebelahnya.
Wedyan *batinku. Kapal cakalang ini biasa dipake untuk berlayar dengan intensitas waktu yang cukup lama. Paling tidak 4 sampai 4 bulan ke atas
Bapak penikmat pinggir sungaipun juga bercerita, bahwa untuk berlayar dari pati hingga tanah papua membutuhkan waktu paling tidak 8 bulan. Kebayang ngga tuh 8 bulan hidup dilautan
" Untuk yang berlayar kurang lebih 3 - 4 sasi ae, kui per awak kapal e biasane entuk 35 juta. Pie le neng Papua ? " Sahut temanku ketika berada dirumahnya.
" Terus le bali pie ? " Aku bertanya. " Hayo nek neng papua kon numpak kapal meneh memeng to mas, tumpakke pesawatlah.. asyiaapp *batinku
Tak heran ketika kami sampai disana, kami disambut dengan mobil mewah ala ala modifikasi kece. Ternyata untuk buat kapal nelayan ukuran 30 GT ( Gross Tonnage ) aja minimal biaya 1 miliar itu aja masih bisa kurang. Ngga heran, kalau buat modif mobil habis berapa si wkwk
Ternyata begitu kaya negri indonesia kita ini, nelayan nelayannya pun masih sanggup makmur ( ketik mampu memberdayakan dan mengelola lingkungan dengan baik ).
Tapi tidak menutup kemungkinan juga banyak, nelayan nelayan kita yang kurang makmur dalam kehiduap sehari harinya.
Mungkin kali ini aku beruntung, dipertemukan dengan bapak bapak pejuang lautan yang memiliki penghasilan diatas rata rata.
Banyak diantara kita yang berusaha meniru pekerjaan orang lain, namum nyatanya hasilnya tak menjanjikan. Banyak pula diantara kita yang merasa perkerjaan kita tidak menjanjikan dengan penghasilan yang pas pas an.
Temen temen, percayalah setiap dari kita memiliki ladang rezekinya masing masing. Mungkin kita belum bisa maksimal pada satu titik pekerjaan, namun bukan berati menutup pintu rezeki kita dari pekerjaan yang lain bukan ?
Bayangkan saja dengan penghasilan yang cukup tinggi. Namun harus mengarungi lautan kurang lebih 3 bulan untuk mendapatkan sebuah penghasilan. Mempertaruhkan nyawa dilautan, demi keluarga yang menanti dirumah kediaman.
Setiap pekerjaan punya resikonya masing masing. Namun juga punya hasilnya masing masing.
Jalanni, Syukuri, Tingkatkan dan Rasakan Kenikmatan.
Semoga cerita ini bermanfaat, manambah wawasan kita terhadap lingkungan disekitar kita :)
Yogyakarta, 15 Februari 2019
Aidiladha Brings Blessings As Penang Fishermen Receive New Boats And Engines http://dlvr.it/TSlBfs
Basarnas Pontianak Latih Nelayan Kubu Raya Jadi Garda Terdepan Penyelamatan di Laut
KALBAR SATU ID – Dalam rangka meningkatkan pentingnya keselamatan bagi para nelayan, Kantor Pencarian dan Pertolongan Pontianak menggelar kegiatan SAR Community Potensi SAR Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan dengan tema “Penguatan Kapasitas dan Peran Nelayan sebagai Potensi SAR dalam Mendukung Penyelenggaraan Operasi SAR di Perairan” Kegiatan tersebut dilaksanakan di Aula Kantor Camat…