Finansialku Bukan Urusanmu
Tulisan ini berawal dari sebuah kekhawatiran tentang "yang nggak habis-habisnya" dibicarakan kaum hawa.
Selalu ada hal yang menggelitik untuk diulik dari obrolan perempuan dewasa (read: masa kerja-setelah menikah). Ketika kami mengobrol membicarakan finansial masing-masing, selalu ada celetukan yang sebetulnya nggak perlu ditanyakan dan nggak untuk dijawab juga. Dan sejujurnya, selalu menghindari obrolan yang lebih intim tentang apa target, impian, yang ingin saya wujudkan kepada sesama perempuan haha. Memilah lebih tepatnya. Kepada siapa kita bercerita, tentu harus lebih selektif.
Kamu kan enak belum nikah, adalah sebuah awal kekhawatiran sampai saya menulis ini. Manusia terlalu mengkotak-kotakkan masalah yang belum tentu ia tahu persoalannya. Ini bukan hanya tentang saya. Tapi beberapa teman pun mengalami perlakuan sama dari lingkungannya. Dari sini pun saya belajar, bahwa isi kepala setiap orang itu berbeda. Kita tidak bisa mengendalikan apa yang akan keluar dari isi hati seseorang. Maka, 'tindakan' alias omongan yang keluar pun berbeda. Lantas kita kesal ketika apa yang mereka sangka sebetulnya tidak sama dengan hidup kita.
Saya mengambil dari dua sisi.
Ketika saya sebagai orang yang mengucapkan, itu adalah hasil dari cara berpikir saya yang hanya melihat permukaan hidupmu. Kamu belum menikah, belum punya beban tanggungan, uh belum tahu rasanya harus beli ini itu, susu dan lain-lain.
Dan ketika saya sebagai penerima ucapan, saya harus paham betul, 'dipaksa' untuk tidak mudah tersinggung, meskipun tidak semua orang bisa begini, lagi-lagi kita pembawa perasaan bukan? Hal wajar. Tentu. Saya hanya bisa menahan diri tanpa pembelaan karna semua akan percuma, yang ada malah tambah ruwet. Karna biasanya orang tipe pembanding, selalu ada hal lain untuk dibandingkan haha. Ya, coba saja. Siklusnya selalu sama.
Hidup ini sudah dipenuhi dengan banyak perbandingan. Tanpa sadar, kita pun sering begitu. Tanpa sadar, kita mungkin menyakiti hati orang lain atas ucapan kita. Memilah kata apa yang akan keluar itu memang pembelajaran seumur hidup. Usia mapan pun tidak selalu membuat kita dewasa dalam bicara.
Mau dia sudah menikah atau single, kaya atau miskin, kerja atau pengangguran, perihal finansial itu menurut saya sesuatu hal yang sensitif untuk ditanyakan. Apalagi terlalu men'judge' kondisi finansial orang lain, kamu siapa, keluarganya pun bukan. Kita tidak tahu bagaimana ketar ketirnya seseorang dalam mengatur finansial untuk kebutuhan sendiri, orang tua, bahkan keluarga yang mungkin masih bergantung padanya. Atau bahkan sebaliknya, karna belum tercukupi kebutuhannya, ia masih dibantu keluarganya. Dan semakin kaya pun seseorang, tentu selaras dengan kebutuhannya. Yakin!
Dari cerita teman-teman saya belajar. Sudahlah, finansialku adalah urusanku, finansialmu adalah urusanmu. Mari kita atur tanpa saling mengatur.
(Tulisan pertama di 2021❣️)
Cibinong, 30 Januari 2021