Ada yang lucu dari proses pendewasaan ini. Bahwa disadari atau tidak, kita pasti pernah menjadi matahari bagi kehidupan seseorang. Memberikan cahaya dan hangatnya bagi yang jauh, akan tetapi bisa saja sangat silau dan panas bagi yang dekat dengannya.
Ketika kamu menjadi matahari, beberapa orang yang jauh darimu, akhirnya sering sekali memuji. Memandang kagum, berbinar, ingin sekali menjadi sepertimu. Beberapa yang dekat, kadang sulit mengakui itu lewat kata, mereka kadang mengakuinya dalam hati dan tak jarang, mereka merasa tidak aman sebab banyak kelebihan yang kamu dapatkan ketika kamu menjadi Matahari.
Satu hal yang perlu kamu tahu, bahwa menjadi matahari bagi kehidupan seseorang memang kadang menyenangkan. Dihargai keberadaannya, dipuji kelebihannya, didengar perkataannya dan disambut kedatangannya.
Akan tetapi, menjadi matahari artinya juga punya celah yang besar untuk dikritik atas tindakannya, dicari dan dibicarakan kekurangannya, karena hal apapun tentangmu menjadi menarik bagi mereka.
Maka, dalam proses pendewasaan ini, kamu akan menyadari bahwa setiap pujian bukan lagi membuatmu tinggi, tapi menyadari bahwa kadang pujian tidak selalu benar. Allah, kemudian kamu yang lebih tahu, atas hal yang sebenarnya terjadi di dalam dirimu.
Lalu, perkataan menyakitkan yang menyudutkanmu di belakang ataupun di depan, tidak turut membuatmu rapuh dan menyerah. Sebab kamu tahu, maksud yang sesungguhnya dari setiap perkataan dan perbuatanmu. Bisa jadi itu adalah niat baik atau niat yang salah.
Hidup di dunia ini, menjadi matahari atau tidak, akan selalu punya kelebihan dan kekurangan. Tidak ada yang bisa menilai mana yang lebih unggul dari keduanya, sebab penilaian kita terbatas. Akan tetapi keduanya bisa sama-sama mengusahakan kebaikan dan penjagaan hati agar unggul di pandangan Rabb-Nya.