Dulu, saat organisasi otonom Muhammadiyah belum memiliki wadah perkaderan bagi kader-kadernya dalam dunia kemahasiswaan, Muhammadiyah pun mengamanahkan hajat perkaderan itu kepada organisasi mahasiswa bernama Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Mengapa di amanahkan ke HMI, sebab ada hubungan emosional yang mesra antara HMI dengan Muhammadiyah. Sebab pencetus dari berdirinya HMI tersebut tak lain tak bukan adalah Muhammadiyah sendiri. Namun, HMI tidak di atas namakan Muhammadiyah agar terbuka untuk seluruh kaum akademisi Islam, bukan hanya untuk kaum akademisi Muhammadiyah. Semula, gerakan HMI sejalan dengan spirit Muhammadiyah. Namun, ketika kekuatan HMI semakin besar, kokoh, tangguh, beberapa para pemangku kepentingan sekali lagi ketar-ketir layaknya dulu saat menghadapi Masyumi. Kemudian, dengan memanfaatkan keterbukaan HMI sebagai organisasi yang berasaskan Islam pula, beberapa kader komunis yang terselubung dalam topeng-topeng islami bergabung ke dalam HMI kemudian pelan-pelan menggerogoti dari dalam. Tak lama kemudian, pola pikir serta gerakan HMI berubah 180 derajat menjadi lebih radikal, lebih sarkas namun tetap di bungkus topeng islami.
Beberapa tokoh HMI sadar akan permasalahan ini, lahirlah pro dan kontra atas perubahan spirit gerak HMI. Pergumulan dalam organisasi tersebut pun terjadi.Setelah mendapati bahwa belum semua kader HMI tercemari berbagai penyakit yang dibawa para penyeludup, para tokoh HMI pun pada akhirnya mengambil kebijakan tegas, memisahkan organisasi HMI menjadi dua kubu; Dipo dan Mpo. Kebijakan tersebut diambil dengan harapan agar dapat menyatukan HMI yang murni ke dalam satu kubu dan bergerak seperti sebagaimana mestinya. Sedangkan sisi yang tercemar, di satu kubukan pula agar dapat dengan jelas diucapkan, Sayonara. Permasalannya, apakah pemisahan yang dilakukan sungguh mampu memisahkan unsur noda tersebut?. Bagaimana caranya memisahkan setetes tinta dari dalam semangkuk susu?. Akh.. aku tak tahu pasti. Lagipula, bukan itu yang membebani pikiranku. Masyumi-HMI, dari dua kisah ini kudapati ada persamaan krusial yang dialami keduanya. Dengan menjunjung tinggi Idealisasi serta asas Islam mereka manjadi besar. Tetapi sifat “Terbuka” membuat mereka runtuh. Jika demikian, burukkah sifat terbuka itu?. Aku masih ingat betul pembicaraan yang baru saja terjadi di ruang rapat komisariat. Masih terngiang di telingaku pertempuran argument kita tentang apakah kegiatan perkaderan kali ini, yang dilakukan tiga hari dua malam ini, yang pokok bahasannya berjumlah tujuh materi ini boleh kita ambil pemateri dari selain kader IMM?Jika kita membutuhkan Ilmunya, mengapa kita harus memusingkan latar belakangnya?. Bukankah Rasulullah pun menyeru untuk belajar apapun, kapanpun dan di manapun bahkan sampai negeri china yang pada saat itu belum tentu umatnya beragama Islam?. Bukankah lebih bijak jika kita mempelajari Ilmu orang-orang non Muslim sekalipun kemudian jika sudah kita dapat lalu kita olah dan gunakan untuk kepentingan Islam? Atau setidaknya, jika mereka suatu saat macam-macam dengan Islam, jika kita sudah tahu ilmu apa yang mereka gunakan, kita lebih siap diri menghadapinya?, tidak seperti manusia melawan iblis, di serang tapi tak bisa membalas karna ilmu kita tak mampu melihat wujud fisiknya.
Kak Dion dengan beringas membantah semua pertanyaanku tadi. Kalau kita punya kakanda-kakanda yang bisa mengisi, mengapa harus ambil orang lain?, ujarnya.Mengisi sekedar mengisi atau sesuai porsi?, tanyaku lebih lanjut.Aku tak berniat, namun nampaknya ia merasa dilawan olehku yang satu tahun lebih muda umurnya sebagai kaum akademisi.Semua kan tergantung dengan bagaimana pesanan kita nanti. Lagipula kalau kita ambil dari luar, mereka bisa saja mengajarkan sesuatu yang tidak sesuai dengan ideology kita, ujarnya.Ahmad Dahlan mau belajar dari orang barat! Kafir!. Mungkin saja dulu Dahlan sempat melakukan kesalahan yang belum tentu sesuai dengan Islam, tetapi bukan berarti tak ada waktu buat Dahlan untuk berbenah kan?. Coba bayangkan, tanpa adanya keberanian Dahlan untuk mencoba berfikir terbuka, apakah Muhammadiyah atau IMM akan ada seperti sekarang ini?. Jangan bawa-bawa nama Kyai Dahlan dalam ajakanmu yang bersifat Gambling ini!, ujarnya berang.Aku tidak mengajak untuk bergambling kak, tukasku.Lantas??.
Aku mengajak untuk tidak terjebak dalam kejumudan. Jadi kau pikir senior-senior kita tidak ada yang berkembang?. Bantahnya naik pitam, berdiri dari duduknya. Nampak ingin menyerangku secara fisik.Beberapa kawan menahannya, maka ia hanya menyerangku dengan kata-kata, telunjuk besarnya yang ia acung-acungkan ke depan hidungku dan air liurnya yang muncrat tak beraturan menyembur mukaku. Ketika aku ingin menjawab, nisa yang duduk disampingku menarik tanganku, memberi isyarat untuk tidak melakukannya. Percuma, ujar raut wajahnya menerangkan. Maka aku pun diam saja. Tak lama kemudian, dengan terpaksa, rapat pun di tunda sampai waktu yang tak di tentukan. Kami bubar jalan, aku keluar pintu ruang rapat dengan disoroti mata kak dion yang sinis menatap.Kemudian aku merebahkan diri di sini, di tempat fovoritku. Di bawah rindangnya pohon belimbing, di atas rerumputan, menikmati semilir angin sore, berfikir ulang tentang untuk apa semua ini?.
Nih, tiba-tiba nisa menyodorkan sebungkus es jeruk kesukaanku. Wah, kapan kamu datang? Tanyaku takjub, baru sadar ternyata ada sosok yang sedari tadi duduk di sampingku. Bengong mulu siih.. gerutunya. Aku tak menggubris, lebih memilih untuk segera menikmati es jeruk yang di sodorkannya. Ia menatapiku. Ada apa? Tanyaku padanya saat kudapati ia lama memperhatikanku. Hemm.. emang kali ini habis baca buku apa?, tanyanya. Aku tercenung, tak bisa mengelak. Teman semasa kecilku ini memang tak pernah bisa tertipu, selalu saja tahu jika ada yang berbeda sedikit saja dariku. Perbedaan yang tidak semua orang bisa melihatnya, bahkan kedua orang tuaku. Perbedaan tentang perubahan raut wajahku, sikapku, pemikiranku, amarahku dan.. ketakutanku.Aku mendesah.. diam sejenak. Ia sabar menanti, siap mendengarkan. Kamu tahu gus-dur?, yang tokoh Nadhlatul Ulama(NU) itu?, tanyaku memulai pembicaraan. Ia mengangguk. Waktu dia jadi Presiden N.U, ia terapkan beberapa kebijakan, salah satunya, kaum akademisi Kader NU yang berprestasi harus diapresiasi, di beri beasiswa, kemudian setelah lulus S1 di pilih kemudian di kirim ke berbagai Negara untuk melanjutkan S2, menimba ilmu di sana. Kemudian, nanti setelah lulus kembali lagi ke Indonesia untuk membangun NU yang lebih baik, Tuturku. Ia masih mendengarkan.
Coba bayangkan, lanjutku. NU yang kita kenal dengan islam klasiknya itu, yang alergi sama orang kafir, yang katanya dari dulu sering dianggap musuh bebuyutannya Muhammadiyah yang modernis, kini telah berfikiran terbuka, modern, siap menerima perbedaan, siap belajar dari orang lain demi perkembangan organisasi mereka. Asal tahu saja, bagiku pemikiran mereka sudah tidak pantas lagi di anggap Jumud. Justru kita? Ikatan? Baru permasalahan pemateri tingkat komisariat saja sudah seperti ini, lantas, apakah secara tidak sadar kita tengah mengalami titik balik? Lalu dimana sekarang spirit Muhammadiyah yang ideal itu?.Ia hanya tertawa menanggapi kekesalanku.
Tapi jujur saja, tawanya yang riang itu, entah mengapa secara ajaib meredam emosiku secara drastis. Makanya aku lebih suka kamu yang dulu lebih sering baca buku Donald bebek atau doraemon, ledeknya. Aku hanya menggerutu. Sudahlah, di ujung jalan sana ada tukang Nasi Goreng baru loh.. namanya unik, Nasi goreng gila, cobain yuk, ajaknya. Akh.. kamu, dari dulu jajan gak berhenti-berhenti.. ledekku. Biarin, dari pada kamu, mikir gak berhenti-berhenti, ledeknya balik, kami tertawa. Lalu setelah kupikir-pikir, ada benarnya juga. Yah, permasalahan semacam ini tidak akan pernah selesai, sebab kita sedang berfikir tentang organisasi, bukan idealisasi. Berbicara soal organisasi bukan membicarakan tentang apa dan bagaimana semestinya sesuatu melainkan berbicara soal harga diri, rumor, propaganda, intrik, orang-orang baik di muka maupun di balik layar serta berbicara soal eksistensi suatu kekuatan absolut adanya, bergerak atas nama idealisasi.Hemm… nasi goreng yang gila itu nampaknya memang cukup menjanjikan untuk dijadikan sarana pelampiasan emosiku. Maka akupun meng-iya-kan ajakan kawan masa kecilku yang satu ini, dengan syarat, ia mentraktirku.. dengan wajah yang di sewot-sewotkan tapi manis, akhirnya ia pun setuju untuk mentraktirku. Walaupun feelingku bilang, tetap saja nanti ujung-ujungnya aku yang bayar. Tapi akh.. sudahlah.. toh ini lebih baik. Sebab aku orang Indonesia tulen, sudah pasti lebih memilih untuk makan dan bersenang-senang daripada berlama-lama berfikir. Dan kami pun menyusuri jalan kampus sore hari, menuju nasi goreng. Gila.
Oleh :eLgaruty
Bagian 2: Distorsi
di tulis Tahun 2008 - di Unggah 2012