Pagi itu kelas cukup ramai. Bukan karena mahasiswanya yang banyak, tapi tentang hadirnya seorang bayi menggemaskan yang di gendong dosen.
Kala itu pengasuh bayinya sedang pulang kampung, alhasil bayi mungil nan cantik harus ikut mengajar di kelas kami.
Bayi itu cukup rewel, satu kelas merasakan gemas sekaligus sedikit terganggu dengan tangisannya. Tapi kami sangat memaklumi betapa repotnya seorang ibu sekaligus guru yang membantu kami dalam menuntut ilmu.
Aku melihat raut malu dan kesal pada wajahnya. Entah apa yang dipikirkan beliau. Namun aku tahu pasti, beliau kebingungan namun masih tetap menjaga dirinya agar tidak memunculkan emosi berlebihan.
Rasanya aku ingin menawarkan diri sebagai pengasuhnya sementara. Minimalnya mengajak dia bermain atau sekadar ku gendong hingga tertidur pulas. Orang-orang pun sudah tahu, setiap bayi yang ku asuh dan orang tuanya ridho, pasti pulas di gendonganku.
Sayang sekali, hari itu aku baru saja operasi infeksi pada tangan. Perban yang membalut jemariku tak sanggup jika harus menggendongnya. Bahkan untuk menulis saja aku tak mampu.
Aneh.. teman-teman ku pun tak ada yang berhasil menenangkan dia. Namun setelah kuperhatikan, bayi ini akan mulai rewel saat Ibu Dosen mulai menyampaikan materinya.
Tepat setiap kata kedua yang ibu dosen sampaikan kepada mahasiswanya, anak ini langsung rewel. Ibu dosen pun menenangkan anaknya, dia langsung tenang kembali. Sekali lagi ibu berbicara, anaknya kembali rewel. Padahal saat beberapa menit sebelum kelas dimulai, kami sempat bermain dengannya dan dia tidak rewel.
Tiba-tiba intuisiku mulai, aku tenggelam dengan pikiranku dan berpikir. Entah darimana tiba-tiba aku dapatkan sedikit hipotesis bahwa "Anaknya takut kehilangan ibunya". Ya, ia takut ibunya berpaling bukan kepadanya.
Namun karena kepanikan, mungkin ibu dosen belum "ngeuh" dengan kode yang diberikan bayi umur 8 bulan ini.
Aku melihat pola saat bayi tersebut hanya rewel saat ibu dosen mulai mengajar dan kembali tenang saat ibu dosen memerhatikan dia.
Aku kembali masuk kedalam imajiku, membayangkan jika aku diposisi bayinya. Aku hanya ingin diyakinkan bahwa ibu akan tetap jadi milikku dan tetap menyayangiku. Validasi ibu terhadap hal itu harus disampaikan. Ibu mengajakku berbicara dan berkompromi denganku. Ibu memberiku pengertian bahwa ibu ada amanah mengajarkan ilmu yang Allah amanahkan kepadanya.
Maka pasti aku akan tenang, bahkan mendukung ibu sepenuhnya. Aku akan rela tertidur diatas meja jika Ibu ridho atas hal itu.
Lalu lamunanku tiba-tiba buyar oleh pertanyaan ibu dosen tentang sintaks Problem Based Learning (PBL) yang sedang dibahas hari ini. Masih dengan backsound alami dari bayinya, aku menyebutkan sintaksnya dengan benar.
Alhamdulillah, aku sempat membaca bagian itu semalam.