"Kali ini aku terlalu keras kepala untuk memutuskan pergi dan menyerah begitu saja"
I just realize a moment like a bad feeling, have you ever felt like you were going to fail?
@waktuterbit
Bdg || Selasa, 08 Sep '20 || 23.31 wib
seen from Netherlands
seen from Romania

seen from Malaysia

seen from Romania
seen from Romania
seen from Malaysia

seen from Netherlands

seen from Jordan

seen from United States
seen from Netherlands

seen from Malaysia
seen from Germany

seen from Switzerland
seen from United Kingdom

seen from Italy
seen from United States
seen from Japan

seen from Russia

seen from Germany
seen from United States
"Kali ini aku terlalu keras kepala untuk memutuskan pergi dan menyerah begitu saja"
I just realize a moment like a bad feeling, have you ever felt like you were going to fail?
@waktuterbit
Bdg || Selasa, 08 Sep '20 || 23.31 wib
ragu
beberapa rencana hidup boleh jadi tidak terlaksana. manusia tidak cukup hebat untuk menjaga semuanya tetap di alur.
satu dua kegagalan, meski dalam porsinya, sering jadi kendala. membuat manusia jatuh dalam kebiasaan yang cenderung pesimis.
mungkin manusia terlalu terbatas untuk selalu yakin dalam setiap urusan. atau memang ini murni muncul dari rasa takutku untuk menghadapi sesuatu? atau aku hanya perlu untuk belajar untuk mengurangi keraguan?
entah. akupun ragu kalau aku paham tentang apa yang kutulis.
Sikap pesimis dan optimis adalah cara menutupi ketidaktahuan kita terhadap informasi. Karena kita tidak bisa memperkirakan. Tinggal seberapa besar usaha kita terhadap apa yang akan kita hadapi dan capai. Gagal atau berhasil hanyalah efek dari sebuah keputusan.
Yang pernah kau rasa dengan hatimu itu, sama sekali bukan cinta
Betapapun kencangnya sebuah detak menghantam jantungmu
Betapapun sakitnya sebuah pisau gaib mengirismu
Harusnya aku sudah tahu
Tak pernah ada cinta yang seperti itu di dunia ini
Takkan pernah ada manusia yang mampu melakukannya
It's new, the hurts
Tipisnya Realistis dan Pesimis
Hidup di dunia tidaklah mudah. Banyak sekali tantangan dan cobaan, meski ada kesenangan yang bisa dijanjikannya. Tipis sekali perbedaan antara realistis dan pesimis karena dunia ini tidak selalu berjalan dengan keinginan kita. Jika kita mengatakan saya akan menjadi dokter pada saat dewasa, ternyata kenyataan anda terhalang oleh cacat indra anda sehingga anda tidak dapat izin untuk hal itu. Jika anda lebih realisitis dengan menyadari cacat indra anda tidak memungkinkan anda untuk menjadi dokter, rasa kecewa yang timbul tidaklah besar bahkan mungkin tidak ada sama sekali.
Terlebih lagi kalau ini berhubungan dengan impian, harapan, dan cita-cita. Kita boleh saja dengan berpikir ideal bahwa semua akan terkondisi sesuai dengan apa yang kita inginkan. Optimis dengan apa yang akan kita dapat di masa depan akan menjadi suatu alasan kenapa kita masih ingin hidup di dunia ini. Tapi akankah kita akan sampai tahap itu sebelum tutup usia. Apakah kita akan mencapai segala sesuatu sesuai dengan rencana bahkan sebelum tutup usia? Pada kenyataannya, dunia berputar bukan untuk dirimu saja.
Semua orang akan mati, dan mati itu pasti ntah bagaimana pun caranya. Hidup abadi? Hal seperti itu semua masih hanya sebatas tahayul atau fiksi belaka. Sampai sekarang tidak ada benda yang bisa abadi, hingga dapat dipastikan bahwa kemungkinan terbentuknya senyawa yang membuat benda menjadi abadi itu tidak ada.
Karena mati yang bisa datang kapan saja dengan cara apa saja, sehingga tidaklah mudah untuk mencapai apa yang kita inginkan di masa depan, karena gampangnya semua benda disekitarmu saat ini bisa saja jadi alat untuk mencabut nyawamu. Bukan berarti dengan ini anda harus paranoid. Ini lebih ke anda siapkan diri bahwa setiap saat, kapan saja anda harus siap menerima kematian anda. Sama seperti cita-cita anda yang tiba-tiba tidak bisa tercapai karena cacat, ketika anda menerimanya tidak ada penyesalan ketika hal itu terjadi, begitu pula sebaliknya.
Penting sekali untuk menerima kematian setiap hari, karena setiap hari, setiap saat, bisa saja anda tidak terbangun lagi di dunia ini. Itu kenapa kunci terbaik untuk hidup adalah hidup kekinian dengan penuh kesadaran sehingga tidak ada waktu yang tersia-siakan dalam hidup ini.
PS. Ini bukan promosi asuransi jiwa yak.
Zenoark out!
Inilah Rahasia Orang yang Bisa Tetap Optimis Meski Semua Orang Sekitar Pesimis
Banyak orang mulai hari dengan mimpi besar, pengen hidup lebih baik, pengen jadi versi terbaik diri sendiri. Tapi begitu dengar kabar buruk, liat temen pada nyerah, atau scroll timeline penuh keluhan, semangatnya langsung luntur. Realitasnya, mayoritas akhirnya ikut-ikutan pesimis supaya nggak kelihatan aneh sendirian. Padahal ada segelintir orang yang tetap tenang, tetap lihat peluang, meski suasana di sekitar gelap banget. Rahasianya bukan keajaiban, tapi cara mereka memilih melihat dunia setiap hari.
Semua yang kelihatan nyata di hidupmu sebenarnya lahir dari cara kamu memproses informasi yang masuk. Optimis yang tahan banting bukan orang yang denial atau selalu senyum paksa. Mereka cuma punya kebiasaan berpikir yang beda, yang sengaja dilatih, dan itu bisa kamu tiru juga kalau mau.
1. Mereka nggak percaya pesimisme itu lebih pintar
Banyak yang bilang pesimis itu realistis, optimis itu naif. Jadi mereka pakai alasan “aku cuma realistis” buat membenarkan keluhan tanpa henti. Akibatnya otak terbiasa nyari bukti yang memperkuat kegagalan, bukan yang membuka jalan keluar.
Orang yang tetap optimis paham bahwa pesimisme bukan tanda kecerdasan, melainkan kebiasaan malas berpikir. Mereka sadar setiap situasi punya dua sisi, dan memilih fokus ke sisi yang bisa digerakkan justru lebih masuk akal daripada pasrah duluan.
2. Mereka bedain fakta dengan cerita yang mereka tambahin
Kebanyakan orang nggak cuma nerima fakta, tapi langsung nambahin drama: “Ini pasti berakhir buruk”, “Aku emang nggak bakal bisa”, “Orang lain aja gitu kok”. Cerita tambahan itulah yang bikin berat, bukan fakta mentahnya.
Mereka yang tahan optimis berhenti di fakta saja dulu. Mereka tanya diri sendiri: “Apa yang bener-bener terjadi sekarang, tanpa embel-embel interpretasi?” Baru setelah itu mereka pikir langkah selanjutnya. Bedanya kecil, dampaknya besar.
3. Mereka nggak ikut arus emosi kelompok
Saat semua orang panik, marah, atau down bareng, tekanan buat ikutan sangat kuat. Rasa aman datang dari “sama-sama susah”, jadi banyak yang memilih nyaman di kerumunan pesimis daripada berdiri sendiri.
Orang ini sengaja menjaga jarak emosional dari kerumunan. Bukan berarti cuek atau sombong, tapi mereka tahu emosi massal jarang menghasilkan keputusan jernih. Mereka tetap dengar, tapi nggak sampai ikut tenggelam.
4. Mereka latih otak nyari bukti kecil yang positif
Otak manusia punya bias negatif alami, lebih gampang ingat yang jelek daripada yang baik. Jadi kalau nggak dilatih, setiap hari rasanya cuma ada masalah bertumpuk.
Mereka sengaja cari satu-dua hal kecil yang berjalan baik, sekecil apa pun. Bukan buat nutupin masalah, tapi buat ngingetin diri bahwa dunia nggak sepenuhnya jahat. Lama-lama otak belajar bahwa hal baik juga ada di mana-mana.
5. Mereka terima bahwa hidup emang nggak adil, tapi masih bisa dimainkan
Banyak yang stuck karena ngotot pengen dunia adil dulu baru bergerak. Mereka protes, nyalahin orang lain, nunggu kondisi sempurna. Hasilnya cuma tambah lelah.
Orang yang optimis kuat justru mulai dari “oke, ini nggak adil, sekarang gimana caranya aku main dengan kartu yang ada?” Mereka fokus ke apa yang masih bisa dikendalikan, sekecil apa pun itu.
6. Mereka punya definisi sukses yang nggak bergantung opini orang
Kalau ukuran suksesnya bergantung sama pujian atau bandingan sama orang lain, optimisme bakal goyah tiap ada yang lebih sukses atau tiap ada yang nyinyir. Itu resep mudah jatuh.
Mereka bikin ukuran sendiri: “Apa yang aku lakukan hari ini lebih baik dari kemarin?” Definisi itu bikin mereka nggak gampang goyah sama omongan luar, dan tetap punya alasan buat bangun pagi.
Kadang hidup terasa berat bukan karena masalahnya gede, tapi karena cara kita membacanya terlalu sempit. Orang yang tetap optimis bukan orang super, mereka cuma orang biasa yang memilih sudut pandang yang lebih berguna setiap hari. Mungkin sekarang saatnya kamu tanya diri sendiri: cara pandang mana yang selama ini bikin aku tambah capek? Jawabannya bisa jadi awal yang baru.
#tetepSiNaU
#positifThinking
#gemiSetiti
#ajiningWaktu
8 Cara Menjadi Lebih Optimis
8 Cara Menjadi Lebih Optimis #HimpunID
HIMPUN.ID – Setiap kondisi seseorang berbeda dengan orang lainnya. Kecenderungan berpikir ada yang optimis dan ada yang pesimis. Jik anda termasuk orang yang susah berpikir optimis, maka itu sangat bagus. Sebab berpikir pesimis ada dampak tersendiri bagi kehidupan. Baca juga: Anda Terus Memikirkan Seseorang? Ini Alasan dan Cara Berhenti Untuk anda yang ingin membangkitkan pikiran optimis dalam…
View On WordPress
Lagi-lagi...
Lagi-lagi gw merasa beruntung setelah mendengar suatu podcast di aplikasi Inspigo...
Beruntung karena gw terbiasa dikelilingi oleh postingan-postingan baik yang mau gak mau membuka pikiran gw untuk bisa berpositif thinking. Yap, terima kasih untuk para artis Tumblr yang suka sharing positive quote dan artikel-artikel renungan hidupnya.
Walau hal-hal tersebut memang bisa membuat kita selalu optimis dalam hidup, tentu yang namanya berlebihan bukanlah sesuatu yang baik. Optimis yang berlebihan bisa membuahkan pemikiran yang tidak realistis. Itulah kenapa gw juga mulai memfollow akun-akun yang kritis dalam menyikapi apa-apa yang sedang terjadi di masyarakat.
Tentu kritis bukan berarti jadi pesimis ya...
Dalam hal ini kritis berarti gak cuma bisa mngekritik sesuatu, tetapi juga memberikan solusi untuk masalah yang dikritisi.
Tentu gak sembarang media juga yang difollow karena kalau gak hati-hati kita bisa ketarik jadi pesimistik yang selalu mengeluh dan, yang paling parah, bisa-bisa tergiring opininya. Jadi... ya harus pintar-pintar memilihnya, agar antara pesimis dan optimis bisa seimbang.