Untuk kamu yang pernah singgah, tapi tak menetap
Untuk kamu yang pernah singgah, tapi tak menetap
Kamu, yang menumbuhkan rasa ini setelah sekian lama mati.
Kamu, yang membuat rasa percaya akan cinta ini kembali hadir.
Kamu, yang hadir tatkala sepi membunuh.
Kamu, yang membawa senyum disaat bibir ini mengerut.
Kamu, yang membawa sejuta cerita tatkala bosan menemani.
Kamu, dengan mimpimu yang membuatku yakin bahwa aku juga berhak bermimpi.
Kamu, dengan segala rasa syukurmu yang membuatku sadar.
Kamu, dengan nyala api semangatmu yang membuatku yakin aku tak boleh berhenti melangkah.
Kamu, dengan alunan lagumu membuatku semakin rindu.
Kamu, orang yang berhasil membuatku merasakan jatuh dan cinta secara bersamaan.
Untukmu, aku berterima kasih
Saat tak ada yang ingin mendengar, kamu hadir tanpa pernah ku minta.
Saat orang lain tak percaya tentang mimpiku, kamu orang yang selalu mengatakan bahwa aku bisa menggapainya, menjadikannya nyata.
Saat hati ini sedang tidak baik-baik saja, kamu berada di garis terdepan menghiburku.
Terima kasih, telah memberi warna ketika hidupku hanya hitam dan abu-abu.
Terima kasih, telah membuatku tersenyum ketika semesta membuatku menangis.
Aku belajar darimu tentang menunggu. Kau yang menyuruhku untuk menunggu, tapi kau juga yang pergi meninggalkanku tanpa sebuah pamit.
Aku belajar darimu tentang sabar. Kau bilang padaku, bahwa semua akan indah pada waktunya.
Aku belajar darimu tentang keikhlasan. Bahwa sesuatu yang hilang akan diganti yang lebih baik oleh Tuhan.
Tuan, jika semua hal tentangmu adalah menunggu. Maka aku akan tetap menunggu. Aku masih disini dan akan selalu disini.
Tuan, kini kau seperti bayangan. Antara nyata dan tidak. Tuan, aku memang tak pernah mengatakan padamu bahwa aku menyukaimu. Jika aku bilang, apakah rasa ini ada balasannya? Kau sendiri pun tau, tak setiap rasa ada balasannya.
Aku memang tak pernah bilang, karna aku tak siap dengan kemungkinan buruk yang akan terjadi. Bisa saja kau semakin menghilang, pergi dan tak akan kembali. Atau mungkin kau sekedar cukup tau, lalu kau perlahan mundur dan menghilang.
Tuan, aku tau risiko jatuh cinta diam - diam.
Rindu yang harus ditanggung sendiri.
Jatuh karena harapan yang dibuat sendiri.
Tuan, tidak bisakah rindu ini kita tanggung bersama?
Tunggu, tadi aku bilang apa? Kita? Maaf tuan, aku lupa. Bahwa tak pernah ada kata kita, yang ada hanyalah aku. Aku mencintaimu, tanpa kamu mencintaiku.
Tuan, kepergianmu tak pernah aku sangka.
Bodoh jika aku masih mengharapkanmu hingga detik ini.
Tuan, kau pergi membawa sepotong hatiku.
Tuan, maaf jika aku hanya membuatmu terluka.
Tuan, terima kasih untuk sejuta cerita yang kau bawa.