kelam malam, sunyi sepi
batinnya tersiksa, jiwanya menangis
relung hatinya menjerit, karena terluka
namun enggan bersuara
ia pandai menyembunyikannya
ia pandai berpura-pura
ia pandai untuk terlihat baik-baik saja
ia pandai tertawa dalam tangisan
padahal sebenarnya hatinya patah
padahal sebenarnya hatinya terluka
padahal sebenarnya hatinya perih
padahal sebenarnya seseorang telah menyayat hatinya
pagi pun datang
mawar itu telah layu
menyisakan duri
yang siap menancapkan racunnya
ia tersadar
ia tak mau terus berlari
berlari untuk satu hal yang tak pasti
tak pasti bisa ia miliki
ia tau
perasaan padanya bersifat fana
akan menghilang dan sirna
yang ia butuhkan hanya waktu
ia berdoa, “semoga kau selalu bahagia atas pilihanmu, yang ternyata bukan aku”
—आदित्य dibaca: Aditya, 2019