Untuk Bapak Penghulu yang Memimpin Pernikahan Kekasih Saya
Assalamualaikum Wr. Wb.
Salam sejahtera
Bapak penghulu yang dirahmati Tuhan, saya adalah kekasih dari perempuan yang Anda nikahkan tujuhbelas hari yang lalu. Saya menuliskan surat ini, karena saya ingin menyampaikan beberapa hal, diantaranya; kenapa ketika sebelum ijab qobul dilaksanakan, Anda tidak menanyakan, “Adakah yang keberatan bila ijab qobul ini dilaksanakan?” padahal saya sangat menantikan Anda mengatakan hal tersebut. Saya tahu, meski saya mengatakan keberatan dengan pernikahan itu, sama sekali tidak akan menghentikan ritual ijab qobul tersebut. Tetapi, semua yang hadir di sana tahu, bahwa saya ada dan masih memperjuangkan cinta yang saya miliki.
Bapak penghulu yang dirahmati Tuhan, saya dan perempuan yang Anda nikahkan itu tidak mendapatkan restu dari ayahnya. Sebab kata ayahnya, saya tidak setara dengan puterinya; saya orang susah yang berpenghasilan rendah, tidak berpendidikan tinggi, juga bukan berasal dari keluarga yang berkedudukan. Apakah setiap orang yang ingin menikah selalu dinilai dari hal-hal tersebut di atas? Apakah tidak ada satu hal pun pernikahan yang menjunjung kesungguhan kasih sayang dan cinta dari kedua calon pengantinnya?
Jadi, maksud dari, “Jodohmu adalah cerminanmu” itu apabila anaknya orang kaya dengan anaknya orang kaya lagi, anaknya orang yang berpendidikan tinggi dengan anaknya orang yang berpendidikan tinggi lagi. Sehingga saya yang orang miskin dan berpendidikan rendah ini tidak bisa bersanding dengan kekasih saya itu? Saya sadar, saya ini kuli dan tidak sepantasnya menikahi seorang puterinya yang punya berkedudukan tinggi. Namun, kasih sayang dan cinta tidak dapat memilih rebah pada siapa saja, karena kasih sayang dan cinta murni lahir dari hati. Satu hal, perasaan perempuan yang Anda nikahkan itu sama dengan perasaan saya, kami saling mencintai dan yakin bahwa kebersamaan yang terjalin akan lebih indah lagi kalau kami mengikatnya dengan tali pernikahan yang suci.
Bapak penghulu yang dirahmati Tuhan, orang tua saya memang miskin, tapi mereka tidak mendidik saya untuk menjadi miskin dan lemah moral. Mereka menanamkan tekad dalam diri saya bahwa kesungguhan dan bertanggung jawab terhadap sesuatu adalah nomor satu, sebab kehidupan ini hanyalah bagaimana kita memaksimalkan semua berkah.
Bapak penghulu yang dirahmati Tuhan, ketika Anda bertanya kepada saksi perihal keabsahan ijab qobul yang telah dilaksanakan, lantas para saksi menjawab “Sah”. Air mata saya yang sudah tidak terbendung menjadi tumpah ruah di dalam hati saya. Dan hati saya sangat basah menyaksikan perempuan yang sangat saya cintai itu menikah dengan orang lain. Sakit di hati saya seperti disayat oleh tajamnya pisau berkarat. Sekian lamanya saya dan perempuan itu menjalin kebahagiaan cinta dan sekarang dia menjadi istri orang lain.
Bapak penghulu yang dirahmati Tuhan, saya berharap ke depan ketika bapak memimpin suatu ritual ijab qobul hendaknya bertanya kepada setiap yang hadir, bahwa ada yang keberatan atau tidak. Saya berdoa, cukup hanya saya saja yang tidak mendapatkan restu, semoga para pasangan kekasih yang lainnya tidak mengalami kejadian seperti saya ini.
Demikian saja nukilan surat dari saya, kurang dan lebihnya saya mohon maaf serta bila ada kata-kata yang kurang berkenan mohon pula untuk dimaafkan.
Wassalamualaikum Wr. Wrb.
Ttd, Yang tidak direstui dan ditinggal nikah oleh kekasihnya












