Dia
Dia yang menulis dengan riuh sekali, seperti ramai dan takbisa berhenti bicara, takjarang sebenarnya sungguh pendiam. Dia taknyaman ditatap lama-lama dan dalam-dalam. Banyak yang ingin diucapkan, tapi terlalu banyak kekhawatiran, hingga yang mampu keluar lagi-lagi adalah tulisan. Beban dan segala yang memberatkannya, takada seorang yang tahu persis, kecuali bila kamu membaca yang dia tulis. Kata-kata yang seharusnya dia ucapkan, dipilih untuk ditelan. Namun, jarinya kembali melahirkan syukur, cinta, nikmat dan segala bentuk kegelisahan. Dia tentu senang bila didengar, tapi dia akan lebih merasa hidup bila dapat dibaca dengan seksama, dimengerti kata per katanya.














