lupa untuk luka
Aku mungkin paham perasaanmu seperti apa. Saat separuh dari ragamu terpisah. Hampa yang kau rasakan sama seperti diriku saat itu. Kau tak lagi berpikir apa esok mentari masih hangat menyapamu atau malah dinginnya hujan yang akan menawanmu. Sementara yang ada di sudut pikirmu adalah bagaimana caranya melupa. Aku juga tahu persis perih yang menyumbat paru-parumu. Seolah pecahan kaca itu siap melukaimu kapan saja. Namun kau tetap membiarkan dirimu terluka.
Harapku setelah ini kita bisa melupa tanpa merasa terluka atau tidak usah mengenalnya saja. Apapun caranya agar bisa menyembuhkan luka. Pastikan kalau nanti kita harus sama-sama bahagia dengan atau tidak bersamanya.
Bogor, 25 Maret 2015















