Tetiba teringat satu masa di mana itu merupakan tahun-tahun terakhir aku dapat menangis lepas tanpa malu dan takut.
Di sebuah rumah berlantai 2, memiliki banyak kamar. Namun, hanya ditempati oleh beberapa orang saja. Letaknya tidak jauh dari Stasiun Karet, Jakarta Pusat. Ya.. di sana tempat tinggal mbah aku atau yang biasa kalian sebut nenek.
Mbah tinggal bersama bibiku beserta suami dan satu anak perempuan yang masih kecil. Aku sering ke sana. Bahkan sejak usia setahun, aku dirawat si mbah sampai 5 tahun. Tradisi keluarga yang membuatnya begitu. Jika ada satu anak sakit-sakitan sejak kecil maka harus dirawat oleh mbah. Tak ada yang tahu alasannya. Tapi ya sudahlah. Biarlah itu.
"Yu, jika besar nanti, mbah doain kamu kuat, bisa melewati semua masalah. Tak masalah jika harus menangis. Menangislah. Lalu bangkit,"
Kalimat-kalimat yang sering aku dengar dari si mbah. Sambil mengelus-elus telinga hingga akhirnya tertidur.
Hujan di bulan Desember tahun 1997 menjadi hujan paling kelam. Kabar itu seakan menjadi petir paling mengerikan yang pernah didengar.
"Yu, mbah meninggal." Nada dari Ibu setelah menerima telepon cukup bergetar. Matanya berkedip-kedip. Mencoba menahan air matanya.
Ucapan ibu membuatku bingung. "Meninggal? Maksudnya?"
Ibu yang mendapat telepon dari bibi tak kuasa menahan air matanya. Mencari kursi di sekitarnya lalu mencoba menenangkan dirinya. Ayah serta 4 kakakku yang mendengarnya diam terpaku.
"Mbah meninggal kenapa? Mbah meninggal artinya mbah sudah nggak bisa ketemu aku lagi?"
Aku terus meronta menanyakan sesuatu yang membuatnya semakin sedih.
Nana, Kakak pertamaku menarikku dari bangku. Seraya mengatakan bahwa memang mbah sudah tidak ada lagi. Sudah tak lagi bisa bertemu dengannya lagi.
Aku pun seraya tak percaya saat itu. Maklum masih sangat kecil untuk mengerti hal yang demikian. Walau begitu air mata mulai menetes dan teringat kembali semua pesan mbah.
Teringat kembali, mbah adalah satu-satunya anggota keluarga yang membuatku dapat meluapkan emosi.
Tidak.. tidak dengan keluargaku. Bahkan Ayah jika tahu aku menangis, Dia akan sangat marah. Katanya anak laki nggak boleh cengeng. Sebab itu jika ingin menangis, sekejab pergi ke kamar kosong di belakang rumah yang biasa digunakan untuk menyimpan barang-barang bekas. Sambil membawa bantal untuk menahan suaranya.
Sedih, itu yang aku rasakan. Merasa tak akan ada lagi yang membela saat berbuat sesuatu yang tak disukai kedua orang tua serta kakak-kakakku. Namun harus bangkit. Semua pasti bisa dilalui. Itu pesan mbah yang selalu membekas.
Aku, Wahyu, anak terakhir dari 5 bersaudara. Terlahir begitu jauh jarak waktunya dengan semua kakak. Beda 6 tahun dengan kakak terakhir. Sedang jarak antara kakak lainnya hanya berbeda 1-2 tahun.
Menjadi anak bungsu kata sebagian orang itu enak. Begitu katanya. Dimanja orang tua. Setiap ada pertengkaran pasti dibela. Ah seandainya begitu.
Selalu ditakuti-takuti oleh kakak. Katanya, "Kamu kan bukan anak ibu sama bapak. Kamu dipungut.."
Kesal... tapi aku percaya.
Bahkan ada beberapa tetangga sesekali usil, katanya aku anak yang ditemuin di jalan. Mungkin karena sering dengar keisengan kakak-kakak yang menggodaku setiap hari.
"Aku anak ibu kan?" Begitu tanyaku setiap kali digoda kakak.
"Kalau kamu bukan anak ibu, sudah ibu buang dari kemarin," Jawaban ibu selalu ketus tiap kali aku bertanya apa benar anaknya.
Mungkin Ibu bosan aku selalu tak percaya dengan jawaban-jawabannya. Tapi Dia nggak pernah memarahi kakak yang selalu iseng. Hufft!!!!
Aarrgghh!!!! Cerita tentang anak bungsu yang ada di buku-buku cerita atau sinetron seperti keluarga cemara, sepertinya salah. Atau aku yang salah terlahir di keluarga ini?