Pantaskah aku memilihmu?
Pertanyaan itu berulang kali datang, seperti ombak yang tak pernah lelah menyentuh pantai, lalu kembali lagi dengan bentuk yang berbeda.
Sebab ketika aku memandangmu, rasanya seperti melihat daratan yang kokoh. Tempat berpijak yang jelas, tempat orang-orang membangun rumah dan menanam harapan.
Sedangkan aku...
Aku merasa seperti lautan.
Luas, tetapi tak selalu tenang. Dalam, tetapi sulit dipahami. Datang dengan pasang dan surut yang bahkan kadang tak mampu kujelaskan pada diriku sendiri.
Lalu bagaimana mungkin lautan memilih daratan?
Bukankah keduanya diciptakan berbeda?
Yang satu menetap, yang satu terus bergerak. Yang satu memberi kepastian, yang satu menyimpan banyak kemungkinan.
Sering kali aku bertanya pada malam, apakah aku cukup pantas untuk berdiri di sisimu. Apakah segala kurangku tidak akan menjadi badai yang mengikis pantaimu perlahan. Apakah segala keraguanku tidak akan menjadi gelombang yang membuatmu lelah bertahan.
Namun semakin lama aku berpikir, semakin kusadari sesuatu.
Lautan dan daratan memang berbeda, tetapi keduanya tidak pernah benar-benar terpisah.
Mereka bertemu di garis cakrawala yang disebut pantai. Tempat ombak belajar menyentuh tanpa memiliki. Tempat daratan belajar menerima tanpa mengubah.
Mungkin cinta bukan tentang menjadi sama. Mungkin cinta adalah tentang dua hal yang berbeda, namun tetap menemukan cara untuk saling mendekat tanpa kehilangan dirinya masing-masing.
Jadi, pantaskah aku memilihmu?
Aku belum menemukan jawabannya. Tetapi jika suatu hari kau masih memilih berdiri di tepi lautku, dan aku masih memilih kembali ke pantai mu setelah setiap gelombang, mungkin pertanyaan itu tidak lagi penting.
Karena kadang yang membuat dua insan bertahan bukanlah kepantasan, melainkan keberanian untuk tetap tinggal meski menyadari betapa berbedanya mereka.
@gramabiru | Lautan dan Daratan
















