Aku tidak akan lagi, mengikat hatiku pada manusia manapun.
Bukan apa, hanya saja, mengikat sebuah ikatan lalu berusaha melepasnya lagi setiap saat dia hendak pergi tidak pernah semudah itu.

JBB: An Artblog!

Product Placement
$LAYYYTER
Acquired Stardust

PR's Tumblrdome
🪼
Claire Keane

ellievsbear

blake kathryn
h

⁂
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
YOU ARE THE REASON

No title available

Janaina Medeiros
we're not kids anymore.
Game of Thrones Daily
art blog(derogatory)
hello vonnie
One Nice Bug Per Day

seen from Singapore

seen from Singapore
seen from Mexico

seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from Malaysia

seen from Malaysia

seen from Netherlands

seen from Türkiye

seen from Brunei
@theescapism
Aku tidak akan lagi, mengikat hatiku pada manusia manapun.
Bukan apa, hanya saja, mengikat sebuah ikatan lalu berusaha melepasnya lagi setiap saat dia hendak pergi tidak pernah semudah itu.
“A beautiful feeling, when someone tells you “I wish I knew you earlier”.”
— Unknown
"hei, aku kangen.
Maaf udah sering nyepam, sering kirim komentar ke sw kamu, maaf kalau sering ganggu kamu dengan chat keluhan-keluhan ku bahwa aku rindu.
Isokey kamu gak bales, read saja aku udah seneng. aku memang pantas diginiin."
_10/11/21
Tak perlu di utarakan,
Takutnya hanya penolakan yang datang.
Tak perlu menjadi ramah,
Takutnya dia bawa perasaan.
Tak perlu terlalu sopan,
Takutnya dia salah mengira.
Tak perlu terlalu baik,
Takutnya nanti dimanfaatkan.
Pada akhirnya kita hanya dituntut untuk tau mana yang perlu dilakukan dan mana yang tidak.
Orang orang dewasa selalu menitahkan itu.
Dan kita,
Menebak nebak saja.
Jika kita terus berputar putar pada poin bahwa kelemahan kita membuat kita merasa tak pantas untuk dicintai,
Maka kita akan sampai pada titik dimana kita merasa muak untuk mencintai siapapun.
Karna kelemahan" itu akan terlihat seolah semakin banyak dan semakin banyak saja.
Lalu sampailah kita pada akhir kisah dimana kita memilih untuk tidak mencintai siapapun karna merasa tak pantas untuk apapun bahkan pada hal hal yang sejatinya memang Tuhan ciptakan untuk kita :'
Bahkan untuk perihal mencintai dan dicintai pun, kita masih se naif itu.
Hari ini,
Aku masih mencintai diriku, tapi aku bingung bagaimana harus kujelaskan seperti apa rasa itu padamu.
Mungkin seperti, menatap lurus pada cermin di depanmu,
pada sosok yang sudah jatuh bangun demi menjadi baik. Sosok yang sudah mandi darah demi hidup untuk mencintai pencipta nya. Seperti, kamu ingin membuatnya bahagia atas semua perjuangan dan perang-perang yang dia lalui,
Tapi tidak bisa, karna dia adalah kamu.
Seperti, kamu ingin memeluknya dan berkata "kamu hebat, kamu sudah cukup berusaha, istirahatlah :')"
Tapi tidak bisa, karna dia adalah kamu.
Seperti menatap sepasang mata pantulan gambar dirimu pada sebingkai kaca. Dia adalah kamu, tapi kadang kamu sendiri pun tidak dapat memahaminya.
Kamu ingin memilikinya, mengambil kendali penuh atasnya, untuk tak berulah dan salah.
Tapi tidak bisa, karna dia adalah kamu.
Dan kamu adalah milik Tuhanmu.
Tidak ada yang bisa kusapa di sini, selain debur yang kian memanggil kesunyian.
Mataharinya sudah tenggelam dengan cantik.
Aku berkata padamu dengan lirih.
"Apa yang kamu cari pada gradasi di atas sana? Apa yang tertinggal padanya hingga kamu selalu lupa jalan pulang, apa yang tertinggal padanya hingga kamu selalu lupa bahwa mimpi letaknya bukan di langit ... ia tumbuh dan hidup pada hatimu sendiri."
Satu persatu, detik demi detik, dan baris demi baris.
"Kamu sedang tidak jahat pada siapapun, kamu tidak tertinggal sedikitpun, kamu hanya memiliki proses yang lebih lambat dibanding orang lain, pun jalan yang kamu miliki lebih berliku dari orang lain. Tidak apa, perlahan. Menangislah di sini, pada sunyi yang melelapkan manusia lain. Aku mencintaimu, aku membersamaimu."
Entah sudah berapa banyak cerita berlalu, hingga diujung waktu aku berharap aku tidak pernah mengganti namamu.
Jika saja aku tidak memaksa hati untuk berhenti mencintai, mungkin hingga kini hanya kamu yang aku sebut berarti. Dan tak ada pula tokoh tokoh yang melukai.
Hai kisah pertama, apa kabar kamu dalam sudut kenangan?
:'))
Datang saat ada butuhnya saja
Kadang kesal ketika merasa ada orang yang datang padamu saat hanya ada butuhnya saja? Kesal iya, sedih iya, merasa diri dimanfaatkan begitu hebatnya, lalu dilupakan begitu mudahnya saat sudah tidak dibutuhkan?
Kenapa kesal? Bukankah, kitapun kadang begitu juga kepada Allah, datang hanya saat lagi butuh banget pertolongan Allah, lalu menjauh saat Allah telah berikan apa yang diinginkan.
"Dan apabila manusia ditimpa bahaya, dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk, atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu darinya, dia kembali (ke jalan yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Demikianlah dijadikan terasa indah bagi orang-orang yang melampaui batas apa yang mereka kerjakan." (QS. Yunus : 12)
Tidak usah sedih jika ada yang hanya datang saat ada butuhnya saja, sebab kitapun kadang masih suka begitu kepadaNya.
Mari belajar lagi, belajar untuk tetap menetap padaNya, ada atau tidaknya sesuatu yang kita inginkan dariNya, ada atau tidaknya pertolonganNya yang kita butuhkan. Maka, perlahan orang-orang di sekitar kitapun juga menetap sama kita, baik sama kita, ada atau tidaknya yang mereka butuhkan dari diri kita. Bismillah, bisaa yaa, menetap padaNya, tak melupakannya, dalam keadaan bagaimanapun kita. :")
Alih-alih menjadi happy ending,
Pada akhirnya kita semua hanya akan berdamai dengan rasa sakit itu sendiri, bukan benar-benar berhasil lepas darinya.
Ada yang merasa asing,
Ditempat yang dulu, selalu dia anggap rumah.
Once he said,
"Akhir pertandingan ini bukan untuk mencari siapa pemenangnya, tapi untuk mencari siapa yang lebih banyak mengalah."
Pada akhirnya, kita semua akan pulang 'kan?
1 Mili terakhir kopi ditenggak habis.
Gadis itu mengambil wudhu dan menunaikan Maghrib. Lalu dia mulai terdiam dalam posisi tahiyyat akhir nya setelah salam, hal-hal konyol mulai berdatangan mengisi lamunannya; seperti dilamar prince mateen dan melangsungkan resepsi pernikahan luar biasa di istana raja Bolkiah, atau ingatan tentang teman-teman yang disayanginya, tentang membelikan beberapa souvenir untuk mereka sebelum liburan pandemi benar-benar berakhir.
Kemudian dilanjut dengan hal-hal hebat yang membuat nya terlalu bersemangat untuk melangsungkan rutinitas melamunnya sehabis sholat.
Hening, dia bertanya pada bayangan nya yang terbaring bisu diatas sajadah, berbisik "hal hebat apa yang bisa kamu lakukan? Dari deretan impian" besar itu, sudah adakah yang kamu perjuangkan?"
Selalu pertanyaan yang sama mengakhiri lamunannya, disusul senyum kecut dan kecewa, tapi masih dengan mental yang tertantang.
Benaknya direcoki hal-hal luar biasa, juga ide-ide besar tentang 'membuat dunia lebih baik dengan memanfaatkan diri sendiri' yang selalu jadi topiknya. Walaupun ujung-ujungnya, semua wacana heroik itu hanya hadir sejenak saja lalu dia kubur lagi satu persatu.
Hah. alih-alih beranjak dari sajadahnya dan mengambil makan malam, dia malah menarik buku catatan dan pulpen, mulai sibuk mencoret-coret gagasan liar dan gila yang tak karuan, ide-ide, dan impian-impian tua yang masih ingin diperjuangkan.
Diakhir coretan nya dia berbisik lagi, kali ini berbeda, seperti ada energi baru yang Allah baru selipkan pada kata katanya :
"Hei, kabar baiknya; Allah adalah sebaik-baik pendengar doa."
Tersenyum, lalu panggilan isya bergema seraya ditutup nya buku, gadis itu kembali sholat dengan impian sepanas bara dan iman yang membakar.
"Lin,"
Aku mendongak malas, lalu mendapati tatapan heran nya dari seberang meja. Ku kecil kan volume musiknya, kubalas tatapannya.
"Ini masih kamu kan?" Dia mengernyit heran. Apalagi aku. Aku hanya memasang kedataran pada wajahku, tak berselera menanggapi rasa ingin tahunya. Mendengus, ku naikkan lagi volume seraya menjatuhkan kepalaku ke tempat sebelumnya ; tumpukan buku diktat di atas meja.
"Hei, Lin. Aku sungguh-sungguh. Aku tak menemukan sisi yang membuktikan bahwa ini benar-benar kamu belakangan ini." Dia serius sekali. Tapi aku masih memejam di atas lipatan tanganku.
"Diamlah, lagian kau mau apa kalau Alin yang lama sudah sungguh pergi?" Jawab ku asal. Dia nyaris menggeram.
"Lin, tak ada yang menyalahkan perasaan mu! Berhentilah bersikap seolah semua orang membenci sikap berlebihan mu!" Dia tak mau menyerah. Tapi aku hanya mendengarkan, sangat tidak selera untuk meladeninya lagi.
Sedetik setelah bentakan yang ditahan-tahan itu, jari-jari menyisir lembut rambutku. Aku nyaris bisa merasakan percikan amarah dari usap lembut itu. Ah tidak. Dia tak mungkin marah padaku, dia hanya gemas saja. Aku masih pada posisi ku, memilih menikmati dentingan lagu lauv dibanding kegemasannya akan sikap ku.
Lagian, aku salah apa?
Aku hanya berubah. Itupun sedikit saja.
Aku hanya lelah bersikap manis. Jadi ku pahitkan sedikit pasti tak akan menjadi masalah.
"Lin," panggilnya lagi.
"Aku tau kisah-kisah lama itu banyak berperan dalam perubahan mu. Tapi aku tak ingin kau berlarut-larut." Dia menarik nafas panjang, yang tak dia hembuskan lagi bermenit-menit. Bodoh.
"Aku tak apa, sungguh. Aku hanya mati rasa. Tak usah repot-repot membuatku merasa bersalah."
Aku meletakkan pipiku yang lain di atas meja, menukar posisinya agar lebih nyaman.
"Tapi kau bersalah diana! Itu masalahnya! Kau biarkan manusia-manusia tulus itu menjadi pelampiasan patah hatimu. Bukan kah kamu sudah kelewatan?!"
Dia naik pitam lagi. Tapi tak parah seperti biasanya. (Biasanya dia sampai membanting iPhone nya di meja tempat ku tidur.)
Aku mulai kesal, ku tegakkan tubuhku dengan emosi yang mulai meletup.
"Ah sudahlah, aku mengantuk. Biar saja begitu. Lagipula mereka tidak sebegitu tulus nya. Aku juga dulu pernah sangat tulus sampai mau mati, tapi pada akhirnya bakal sad ending tuh. Orang-orang hanya perlu tunggu tanggal mainnya, semua akan sad ending pada saatnya. Seperti aku."
Dia menggertakkan giginya di hadapanku, mencoba menahan rahangnya sebisa mungkin untuk tak menjadi semakin emosi.
"Hidup tidak sedatar itu. tidak 'i love you then you love me too'. Kan? Wah, Kalau semua kisah cinta sedatar itu, pasti dunia tak akan terasa seseru ini." Aku menambahkan kekehan kecil di akhir argumen ku.
Brakk!!
Benar kan aku bilang, dia pasti melempar iPhone nya saat marah. Haha. Aku hanya tersenyum ketir saat menatap nya pergi. sosok tinggi dengan kemeja hitam yang tak dikancing itu berbalik dan menghilang di balik pintu kelas.
Kulirik seisi kelas sekilas, mereka saling berbisik menatap satu sama lain. Masa bodoh dengan apa yang mereka pikirkan, aku naikkan lagi volume musik nya. Kali ini 'good for you' oleh Olivia rodrigo.
"boleh aku mengenalmu?"
"boleh saja. Tapi, aku yang seperti apa?"
Saatnya pertanyakan hati.
Bukan masalah mau atau tidak mau, bukan suka atau tidak suka. Karna bagaimana pun tujuan kamu hidup sebenarnya bukan untuk bahagia.
Jadi jangan terlalu senang.
"Abis ini ga boleh lalai lagi nge scroll igeh." "Abis ini ga bakal tik-tok an ga jelas lagi." "Abis ini ga boleh jajan banyak-banyak lagi." "Abis ini perasaan dan hatinya ga boleh singgah ke siapa-siapa lagi."
Teori teroos, wacanain aja terus sampe sukses.