Tawa Bahagianya untuk Si Mungil
Teringat pepatah menarik “bahwa mengalah bukan berarti kalah”. Begitu juga dengan sikap Ayah Ibuku yang selalu mengalah demi anak nya. Ayah Ibu yang selalu memberi tawa bahagia di depan anak nya yang padahal begitu banyak yang harus dikorbankan dan dikalahkan demi anaknya. Tangisan Ayah Ibu mungkin tak pernah ku dengar karena Ayah Ibu ingin terlihat kuat agar aku tak ragu untuk berlindung di balik kedua lengan tangannya. Sekalipun pernah ku melihat mereka menangis, itu adalah tangisan bahagia yang terucap dari bibir mereka saat ku tanya mengapa Ayah Ibu nangis.
Ayah Ibuku seringkali mengatakan bahwa kita adalah titipan Allah yang paling baik dan anak-anaknya termasuk aku adalah titipan Allah yang paling sempurna menurut mereka. Karena setiap anak menjadi ladang-ladang kebaikan bagi orangtua. Walaupun aku menjawab “padahal Ibu pernah mengatakan di dunia tidak ada yang sempurna”. Tetap saja dengan tenangnya Ibu menjawab Ayah Ibu benar tidak sempurna, tapi berkat adanya anak Ayah Ibu maka kita menjadi sempurna. Bagaimana bisa mataku tak berkaca-kaca ketika mereka mengatakan itu.
Rasanya aku adalah anak yang paling beruntung telah dibesarkan oleh dua malaikat tanpa sayap yang selalu memberikan tawa bahagia dan harapan-harapan baik senantiasa hidup dalam doanya. Dan aku sangat yakin hampir-hampir dalam setiap doa mereka adalah aku. Ayah Ibuku sangat pandai memberikan tawa bahagianya di depan ku walaupun mereka memiliki masalah.
Adakah seseorang yang rela memberikan segalanya bahkan sekalipun itu nyawa selain Ayah Ibu? Adakah seseorang yang lebih mencintai diri ini selain Ayah Ibu? Aku rasa tidak ada selain mereka.
Sewaktu aku masih kecil bahkan hingga aku beranjak menginjak Sekolah Dasar , aku belum pernah sama sekali membayangkan bagaimana jika aku tanpa Ayah Ibu. Mungkin karena aku masih sangat kecil yang hanya ingin main kesana kemari hingga tak berfikiran sampai sejauh itu. Namun semenjak duduk di Sekolah Menengah Pertama hingga sekarang di usiaku yang beranjak dewasa saat ini, aku sadar akan hal ini. Aku membayangkan bagaimana jika tanpa Ayah Ibuku rasanya sangat berat dan lebih menakutkan. Takut akan baktiku kepada mereka belum menghantarkan mereka ke depan pintu surga. Jalan keluarnya adalah aku harus bisa menjadi wanita shaleha dan mandiri. Karena aku tahu semua manusia yang hidup akan kembali pada Sang Pemberi Kehidupan. Bagiku Ayah Ibu adalah dua orang yang tak bisa digantikan meskipun mereka akan atau telah tiada. Merekalah arti cinta yang sesungguhnya.
(Berbakti kepada) Orang tua adalah sebaik-baik pintu surga. (HR.Tirmidzi)
Aku adalah wanita bertubuh mungil yang kini sudah berhasil menamatkan pendidikan Sarjana Komputer dan sekarang sudah bekerja di suatu perusahan digital. Berkat Ayah Ibuku yang menjadi peran terbesar atas prestasi yang saat ini melekat di diriku. Setelah sekian lama aku merantau untuk berkuliah akhirnya aku bisa bekerja di suatu perusahaan yang masih bisa aku tempuh pergi pulang dengan si jaguar kesayanganku alias sepeda motorku karena jarak yang tak jauh dari rumah Ayah Ibu. Aku sangat bersyukur kepada Sang Pemberi Kehidupan, tidak perlu lagi harus menunggu berjam-jam di dalam bus menuju kampung halaman untuk melihat langsung tawa Ayah Ibu , karena dengan membuka pintu kamar setiap paginya saja aku sudah bisa langsung melihat Ayah Ibu.
Sungguh beruntung aku dapat melihat mereka pagi dan petang, memberikan senyuman setiap hari untuk mereka saja rasa hati menjadi tenang, apalagi dibalas senyuman dari mereka makin jauh lebih tenang
Setiap keluarga pasti memiliki kebiasaan. Seperti keluargaku memiliki kebiasaan setiap setelah shalat Subuh. Yaitu bersih-bersih membereskan rumah sebab kami memiliki warung, tetapi bukan karena memiliki warung sehingga kami harus bangun sangat pagi, melainkan ajaran dari Ayah Ibuku. Aku ingat ketika kelas V SD, aku bertanya kepada Ibu, Mengapa Ayah Ibu selalu bangun sangat pagi? Ibuku menjawab agar pintu rezeki selalu dibukakan untuk kita oleh Allah, jika kita bangunnya siang, rezeki kita di patok ayam nak. Begitulah jawaban Ibuku. Hingga sekarang aku masih sangat ingat dengan jawaban Ibu “jika kita bangunnya siang, rezeki kita di patok ayam”. Walaupun sepertinya kalimat sepele tetapi kalimat ini memiliki makna motivasi yang luar biasa.
Tepat saat itu aku libur bekerja dan setelah shalat Subuh kami bersih-bersih membereskan rumah dan menata dagangan warung kami. Sambil menata warung aku memperhatikan mereka. Ayah yang tak kekar lagi badannya masih kuat mengangkat galon air minum. Begitu sangat gigihnya mereka, dan membuat hatiku sendu pagi itu, aku membatin di dalam hati ternyata mereka bersusah payah menyekolahkanku, mereka selalu tersenyum saat aku meminta uang buku, uang saku bahkan apapun itu untuk keperluanku. Aku tak habis fikir hati dan fisik mereka terbuat dari apa hingga sekuat itu untuk si mungilnya yang sangat mereka cintai dan banggakan. Akhirnya aku memiliki rencana untuk mengajak mereka berlibur saat itu juga.
Ibu adalah orang yang tak terlalu suka bepergian. Berbeda dengan Ayah. Ayah kemana sajapun tetap OK. Sungguh banyak pertimbangan dari Ibu. Sehingga harus dengan ekstra keras membujuk Ibu.
Saat itu Ibu sedang membuka gerbang halaman rumah.
“Bu, Ibu… hari ini aku libur, kita jalan-jalan yuk?”
“Mau jalan-jalan kemana sih ndok?”
“Ke pantai aja yuk Bu? Kita duduk-duduk sambil bercerita, cerita masa kecilku, atau cerita kembali deh gimana dulu Ayah suka sama Ibu hehe”
“Sayang warung kita kalau tutup ndok, lagian kamu libur hanya hari ini, kamu ga lelah besok sudah masuk kerja lagi?”
“Ya Allah Ibu, aku ga akan lelah. Apalagi bercerita dengan Ayah Ibu, jadi tambah semangat dong”
“Ibu hanya khawatir nanti kamu lelah ndok”
“Ya Allah Ibu, Ibu tenang saja ya, anak Ibu ini strong women”, jawabku sambil memeluk Ibu
“Yasudah, Ibu bilang ke Ayah dulu ya”
“Iya Bu.. Terimakasih Ibu..” dengan senyum lebarku
Ibu membalas senyumku dan langsung menjumpai Ayah yang sedang asik dengan burung Jalak peliharaannya di halaman depan rumah. Lima belas menit berlalu, aku sedang menyapu rumah, ku lirik Ibu menuju masuk ke dalam rumah. Tepat sekali dugaanku, Ibu menghampiriku.
“Ndok, Ayahmu setuju kita pergi jalan-jalan. Tetapi kita ke pantai nya setelah Dzhur saja ya”
“Alhamdulillah..Iya Bu, tidak masalah. Jadi, pagi hingga jam 12 siang kita masih bisa buka warung Bu, lagiankan pantai kita dekat Bu, hanya butuh waktu 1-2 jam saja”
“Iya ndok, yasudah lanjut dulu bersih-bersih rumahnya ya” jawab dengan senyumannya
“Siap Bu” aku membalas senyuman Ibu.
Jam masih menunjukkan pukul 10.00 WIB , kamipun sudah menyelesaikan pekerjaan rumah. Warung mulai ramai dan aku segera membantu Ibu di warung sedangkan Ayah membersihkan kolam ikan yang berukuran kecil yang terletak di samping warung. Kolam ikan ini selalu diisi ikan mas dan nila untuk di jual. Ibu dan Ayahku sangat hobi berdagang. Sesekali mereka juga mengajarkan ilmu dagang mereka kepada ku, Ibuku selalu bilang bahwa menumbuhkan jiwa untuk berwirausaha itu tidaklah mudah. Karena butuh mental baja, dimana harus merasakan kerugian , kefokusan, dan jangan pernah malu untuk berjualan. Hanya saja aku belum pernah mencoba untuk berwirausaha.
Brem..brem..brem.. terdengar suara dan tercium bau bahan bakar dari arah gerbang mobil. Ternyata Ayah sedang memanaskan mobil. Ku lihat Ayah sudah tampan dengan sandal pantainya.
“Bu, Ndok.. ayo buruan siap-siap, sudah jam 12 siang loh, kalian belum shalat dan makan ”
“Loh.. Ayah kok sudah tampan? Ayah sudah bersiap-siap daritadi ya?”
“Iya Ndok, Ayah tinggal menunggu kalian, karena Ayah paham wanita bersiap-siapnya butuh waktu lama”
“Mantap Ayah” jawabku dan Ibu bersamaan.
Perjalanan pun di mulai. 1 jam berlalu di perjalanan, ahirnya kami di sambut dengan batu-batu kerikil kecil dan angin sepoy-sepoy. Kamipun duduk di atas tikar dan di bawah pohon kelapa menjulang tinggi, ditambah lagi suara deburan ombak dan es kelapa muda yang memudarkan rasa haus.
“Ayah Ibu.. menjadi orangtua sulit kah?”
“Sulit Ndok, begitu kompleks tanggung jawab menjadi orang tua tetapi semua InsyaAllah akan terlalui dengan mudah asal kamu paham ilmu-ilmu menjadi orangtua yang baik dan optimis untuk anak-anaknya”. Jawab Ayah sambil menikmati kelapa mudanya
“Oh seperti Ayah dan Ibu dong yang selama ini mendidikku.. kelak aku akan menjadi orang tua yang baik seperti Ayah Ibu”, Aamiin
“Aamiin Ya Rabbal’alaminn” , jawab Ayah Ibu serentak
“Ibu… gimana aku dulu masih bayi?”
“Kamu cantik dan putih bersih Ndok”
“Waaah iya dong siapa dulu Ibu nya, Ibu.. Ketika bayi aku rewel ga Bu?”
“Rewel lah, namanya juga bayi ndok” jawab Ayah menyerobot
“Ayah ini kebiasaan nyerobot begitu, Ndok… kamu itu baik budi ketika kecil, Ibu sering membawamu di perwiritan, tetapi kamu ga pernah nangis. Mengurusmu adalah suatu seni bagi Ibu dan mengurus mu tidaklah repot pada saat masih kecil”.
“Masa iya Bu tidak repot? Sementara Ayah dan Ibu memiliki warung, bagaimana mengurusku dalam keadaan seperti itu?”
“Seperti yang kamu bilang Ndok strong women. Ibu bisa segalanya, karena kamu ga rewel, Ibu bisa mengerjakan pekerjaan rumah dan berjualan di warung kita”
“Ayah juga hebat loh masa Ibu saja yang hebat” serobot Ayah lagi
“Sudah pasti Ayah dan Ibu hebat, I Love You Ayah Ibu”
“Ayah Ibu, apakah aku pernah nakal sewaktu kecil?”
“Anak Ayah yang mungil dan lembut ini, tidak pernah membuat nangis anak orang, yang ada kamu ndok yang nangis”
“Hahaha… Ayah, jangan gitu dong. Jadi ketahuan aku cengengnya”
Ayah dan Ibu tertawa meledekku saat itu. Yang dikatakan Ayahku benar, akulah yang nangis saat di ambil mainanku atau saat aku dijahilin temanku. Terlihat penjual rujak berada di dekat kami langsung aku pesan 3 bungkus rujak tidak pedas sebagai cemilan kami.
“Ayah Ibu, masih ingat kejadian yang paling berkesan saat aku kecil baik itu suka maupun duka?” tanyaku sambil menyantap rujakku
“ Saat itu umur kamu 4 tahun. Kami ketakutan karena kamu jatuh terguling-guling ditangga rumah kita yang dulu, kami merasa bersalah pada saat itu, Karena telah lalai menjagamu. Pada saat itu warung ramai hingga hampir maghrib. Kami tidak mengetahui bahwa kamu sudah di atas, dan kamu tergelincir saat hendak turun hingga akhirnya kamu terguling-guling di tangga ndok. Kami berlari ke belakang dan Ibumulah yang menangkapmu di bawah. Kepala mu berdarah ndok. Kami panik, Ibu menangis tiada henti begitu juga kamu Ndok menangis kesakitan. Ayah langsung mengambil kamu dari tangan Ibumu dan menggendongmu ke Bidan Praktik terdekat. Darah terus mengalir ndok dari kepalamu. Ayah gemetaran menggendongmu. Kepala kamu dijahit sebanyak 7 jahitan ndok. Melihat kepalamu dijahit saat itu, Ayah rasanya tak sanggup, sedangkan Ibumu menunggumu tepat di sampingmu sambil terisak-isak. Nangismu mulai redah setelah selesai dijahit. Maafin Ayah Ibu ya ndok saat itu lalai menjagamu”. Jelas Ayah sambil menepiskan air yang keluar dari matanya.
“Iya Ayah. Liat deh Yah, ini bekas jahitannya ga hilang-hilang, bisa jadi sebuah tanda, siapa tahu aku hilang tinggal lihat saja deh kepala aku ada atau tidak bekas jahitan hehehe” jawabku sambil bercanda
“Ndok..ndok ada-ada saja kamu. Kami lah orang pertama yang paling sedih ketika hal buruk menimpamu ndok. Ayah dan Ibu ingin hanya ada senyum dan tawa yang terpancar dari wajah putri mungil kami. Ndok.. kami akan menjagamu, berceritalah kepada kami jika memiliki masalah apapun.”
“Ayah Ibu, putri mungil kalian sudah dewasa, giliran aku yang menjaga dan membuat Ayah Ibu bahagia. Ayah dan Ibu tak perlu meminta maaf, karena pengorbanan kalian sudah begitu besar dibandingkan baktiku kepada kalian belum ada apa apanya. Terima kasih Ayah Ibu, aku tau ketika kalian lelah sibuk di warung, tapi Ayah dan Ibu tetap bisa tersenyum dan semangat di depanku. Hmm udah deh.. jadi sendu begini kita hehehe”
“Kamu sih Ndok buat suasana jadi sendu.. lihat deh Ayah wajahnya jadi tambah ganteng kalau nangis gitu hehe.. Ndok, walaupun kamu sudah dewasa tetap saja kamu putri mungil kami yang suka pantai”
“Iya iya Bu, kalau Ayah ga ganteng mana mungkin Ibu mau hahaha” Jawabku sambil memeluk Ayah
Nyiur hijau yang terus melambai dan alunan ombak yang gemercik setia menemani kebersamaan kami, tawa bahagia yang kami nikmati bersama saat itu adalah nikmat Allah yang sangat aku syukuri. Mereka adalah doa pertama yang selalu aku panjatkan sebab aku sangat mencintai mereka.
Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka telah mendidiku waktu kecil (Al-Isra’ : 24)
Bukan setumpuk dinar ataupun uang yang mereka harapkan dariku, tetapi pelukanku lah yang mereka harapkan.
Ternyata bahagia yang sejati bukanlah mendapatkan harta yang berlimpah tetapi terpancarnya tawa bahagia dari mereka yang amat kita cintai.