Kau bangun pagi ini dengan kepala yang terasa penuh, tapi tak tahu apa isinya. Mungkin sisa-sisa mimpi semalam yang tak sempat kau ingat. Mungkin juga kenyataan yang sudah terlalu lama kau diamkan. Tapi yang jelas, kau merasa lelah, bahkan sebelum hari benar-benar dimulai.
Kau menatap ke luar jendela, mencari makna dalam pergerakan awan atau dalam nyaringnya suara burung yang sama tiap hari. Kau membayangkan hidup seperti film indie, yang tiba-tiba menemukan titik balik hanya karena langit mendung atau secangkir kopi tumpah. Tapi, seperti hari-hari sebelumnya, tak ada yang berubah. Hidup masih seperti ini. Diam. Rutin. Ganjil, tapi tak cukup gila untuk membuatmu lari.
Kau bilang pada dirimu sendiri, ini hanya sementara.
Bahwa masa tenang ini adalah masa pematangan, masa perenungan, masa menunggu arah yang pasti.
Kau suka menyebutnya ‘proses’.
Tapi diam-diam kau tahu, kau sedang bersembunyi.
Dari dunia, dari keputusan, dari kegagalan yang belum sempat terjadi tapi sudah lebih dulu kau takutkan.
Kau terlalu takut melangkah.
Kau terlalu sibuk mengumpulkan keyakinan yang tak kunjung penuh, menanti sinyal dari semesta yang tak kunjung tiba.
Kau mencari petunjuk, padahal hidupmu bukan teka-teki silang yang jawabannya akan jatuh dari langit.
Kau lupa bahwa arah tidak ditemukan, tapi diciptakan.
Dan jalan takkan terbuka kalau kau tak berani melangkah lebih dulu.
Sementara itu, waktu tak berhenti.
Ia tak menunggu sampai kau siap.
Ia tak duduk di sebelahmu dan berkata, "Nanti saja, jika kau sudah yakin."
Waktu bukan teman yang sabar. Ia hanya lewat, tanpa menoleh. Dan kau, jika masih duduk di tempat yang sama, akan disisihkan, bukan karena tak berarti, tapi karena kau terlalu lama diam.
Sampai kapan kau akan duduk di tepi kehidupan, menanti untuk dipanggil masuk?
Kau pernah berkata, "Aku sedang mencari makna."
Tapi bukankah makna hanya muncul dari apa yang kau jalani?
Bukan dari lamunan panjang atau keraguan yang kau pelihara dengan rapi.
Hidup bukan menara gading yang bisa kau amati dari kejauhan.
Ia jalanan yang berdebu, kadang becek, kadang sempit.
Tapi hanya yang berjalan yang bisa menceritakan seperti apa rasanya.
Kau takut tersesat, aku tahu.
Tapi tak ada petualang yang menemukan rumah tanpa pernah menjauh darinya.
Tak ada penemu yang tahu arah tanpa tersandung beberapa kali di jalan.
Kau mungkin sedang menanti sesuatu.
Kesempatan. Tanda. Restu. Keajaiban.
Tapi bagaimana jika yang kau tunggu, justru sedang menunggumu?
Bagaimana jika hidup sedang berdiri di ujung jalan sana, tangan terjulur, mata sabar, bertanya,
“Sampai kapan kau akan menunggu di situ, tanpa pernah datang menghampiri?”
Terkadang, sadar diri itu perlu.
Perlu untuk mengakui bahwa penundaan ini bukan lagi bagian dari proses,
tapi bentuk halus dari ketakutan.
Kau harus sadar: diam juga adalah pilihan.
Dan setiap pilihan punya konsekuensinya.
Menunggu terlalu lama bisa membuatmu kehilangan, bukan hanya kesempatan, tapi juga dirimu sendiri.
Maka hari ini, tanyakan pada dirimu sekali lagi—dengan suara yang jujur dan mata yang tak menghindar:
Sampai kapan kau akan menunggu?
Karena waktu tak akan mengusirmu... tapi ia juga tak akan mengajakmu dua kali.