—Namamu— Peluh bercucuran dari jidat dan pelipisku. Aku menyekanya lagi. Barangkali ini kedua puluh kalinya sapu tangan lorengku basah oleh keringatku. Tapi, sial. Aku masih belum mampu membuat barang satu kalimatpun. Aku melotot. Kupandangi sobekan kertas di mejaku. Pinsilku kugenggam lebih erat lagi. "Jangkrik!", umpatku. Lagi-lagi aku tak mampu menulis. Pening mulai menggerogoti isi kepalaku. Panas menjalar ke sekujur badanku. Aku sendiri tak tega melihat keadaanku. "Istirahatlah. Jangan kau paksa. Kau bisa tumbang". Aku berjingkat. Kaget bukan kepalang. Tiba-tiba suara itu berbisik pelan di telingaku. "Tenanglah. Aku sudah terlatih untuk kalah", aku menimpalinya. Kulayangkan pula senyum setengah terpaksa. Baiklah. Akan kucoba lagi. Permukaan kertas dan pinsilku mulai beradu. Denyit tak beraturan mulai memekik. Aku mengernyitkan dahi. "Ahai! Satu kalimatku telah jadi!" Aku girang bukan main. Kulihat sekali lagi, memastikan. "AKU RINDU" Sial! Aku lupa menaruh objek dalam kalimatku. Yang seharusnya itu namamu. 12 Juli 2017












