Namun jika tersyarat doaku kini 'kan dibawa ke haribaan langit yang Agung sana:
Aku rela menukar bahagiaku asal kau baik-baik saja.
— Arief Aumar | in other words "i love you"
I'd rather be in outer space 🛸

No title available
Cosmic Funnies
Cosimo Galluzzi

JBB: An Artblog!

titsay
Acquired Stardust
todays bird
🪼

⁂
"I'm Dorothy Gale from Kansas"
Not today Justin

Product Placement
RMH

pixel skylines
cherry valley forever
Jules of Nature
$LAYYYTER
styofa doing anything
No title available
seen from Croatia

seen from Malaysia

seen from Malaysia

seen from Germany
seen from Canada

seen from Netherlands
seen from Finland

seen from United Kingdom
seen from Romania
seen from Denmark
seen from United States
seen from Australia

seen from Germany

seen from Germany
seen from Netherlands
seen from Romania

seen from United States

seen from Italy

seen from Canada
seen from Canada
@hndrynt
Namun jika tersyarat doaku kini 'kan dibawa ke haribaan langit yang Agung sana:
Aku rela menukar bahagiaku asal kau baik-baik saja.
— Arief Aumar | in other words "i love you"
01.26
It hurts.
Its tearing me apart.
Seeing someone who I love the most, falling out of love with me.
I can't help but to notice.
All the changes, I saw it all.
One lie after another.
I fell for your sly trick again.
You made me feel loved.
But love was never the word. To you, at least.
Why?
All I ever wanted was to be your first and your last.
To love you with all my might.
I know it sounds selfish, but I want you all to myself.
I can't help it.
I hope someday you'll read this and understand.
How painful it was to listen to you talk about someone else.
The way I spend the night awake, because I can't get rid of the idea of you being with another.
The way I wanted it all to end.
But I don't have the strength to hate you.
Now I am here, alone.
Waiting for the love to subside.
To endure the all pain and walk against the storm.
Even if its tearing me apart.
Even it hurts.
22.00
Baru saja daku bertanya kepada rembulan.
"Mengapa indahmu menghilang dari pandangan?"
"Apakah engkau pergi karena tak tahan?"
"Atau sedari awal memang kau tak pernah mau sejalan?"
Ia terdiam, tak menjawab semua pertanyaan. Sangat jelas kulihat Ia tersenyum, meredup, kemudian menghilang dibalik awan. Kini aku duduk terheran. Ternyata, rasa ini mengganggu pikiran.
Dengan jelasnya semua nampak kau tunjukkan. Ternyata aku bukanlah yang kau inginkan. Selama ini aku hanyalah figuran. Kau hanya tak ingin aku berpindah haluan.
Kuingat kembali, kau tak pernah ada perhatian. Tak sedikitpun kasih yang kau berikan. Pergi ku pun tak pernah kau hiraukan. Apa yang sebenarnya kau rencanakan?
Aku lelah menunggu dengan gelisah semalaman. Hanya untuk satu kalimat yang kau kirimkan. Kau sebut itu pesan? Lebih baik semua itu kau simpan.
Letih aku menaruh harapan. Padamu yang tak pernah mau berkorban. Selalu aku jadi cadangan. Bagimu aku tak pernah jadi tujuan.
Sekarang pergi! Aku tak akan lagi menahan. Semua akan aku lupakan. Semua pedih dan manisnya kenangan. Persetan dengan bualanmu yang kau bisikkan. Bahkan kini aku tak ingin berkawan.
Semoga suatu hari kau kan temukan. Sosok manusia yang selama ini kau impikan. Yang akan mencintaimu lebih dari yang pernah aku tunjukkan. Selamat tinggal, rembulan.
23.51
Selamat malam, sayang~
Semua ini memanglah salahku. Aku yang terlalu menaruh harap padamu. Bagaimana aku menyalahartikan sikapmu. Juga indah bulat matamu yang menyimpan luka angan palsu.
Dimalam buta daku terjaga. Menatap rembulan yang pendarnya berbeda. Merah menyala, seolah mengerti gejolak yang kurasa. Benci, rindu, kesal, harap, gundah, amarah, dan logika bergantian mengisi benak. Akhir cerita kita sudah nampak jelas pertama kita berjumpa. Namun hati ini luluh karena hangat sikapmu yang telah mengisi jiwa.
Bagaimana hati ini bergetar setiap kali kau memanggil namaku lirih. Bagaimana lembut tuturmu yang tak letih kunikmati. Bagaimana hangat pelukmu yang selalu buatku kembali. Juga perhatian kecil yang selalu kau beri.
Rembulan menjadi saksi bagaimana manusia fana ini kehilangan akal. Pikiranku berkelana, berfikir bahwa saat ini kau sedang bahagia dengannya. Bayangan yang terus berulang didalam pikiran. Hingga kini tetes tangis mengalir deras. Mulutku tak henti menggumamkan doa, bersama jutaan pinta yang aku raungkan. Kini aku tak tahu lagi siapa diriku, seolah berjalan tanpa arah, berantakan, tak karuan. Semua terasa sia-sia. Setiap sudut ruangan mengingatkanku padamu, sayang. Kini aku tak lagi sanggup menahan.
Kau tak pernah tahu seberapa keras aku berusaha menahan rasa cemburu. Meski ku sadar betul tak pantas bagiku untuk merasa begitu. Kau tak pernah jadi milikku, aku bukan siapa-siapa bagimu, Semua yang kulakukan tak pernah berarti untukmu. Dan mungkin akan selalu begitu.
Untuk sesaat egoku ingin menahanmu pergi. Mendekapmu erat, menjagamu dari kerasnya dunia yang kau hadapi. Untuk terus menyayangimu selamanya hingga nanti saatnya aku kembali. Namun kusadari, semua ini hanya inginku sendiri.
Aku sungguh mencintaimu, aku membutuhkanmu, aku menginginkanmu. Tapi bila kau tak ingin 'tuk berlabuh. Maka aku harus rela lepaskanmu. Ku harap kau bahagia dengan hidupmu, dan semoga impian yang kau ceritakan dengan mata berbinar kala itu menjadi nyatamu. Terima kasih atas semua indah cerita yang telah kau bagi kepadaku. Semoga Tuhan kuatkanku untuk melupakanmu.
Paradoks Senja Buta.
Kalut marut pikiranku malam ini. Entah mengapa aku pun tak tahu pasti. Mungkin karena aku membencimu, atau aku mungkin aku terlalu mencintaimu. Pikiranku beramuk, kedua rasa bergantian mengisi benak. Aku bahkan tak mau tahu, sudah lelah payah raga ini menahan gelisah.
Aku tak mengerti sihir apa yang telah mempengaruhiku. Seperti melihat asam, ingin sekali kucumbu dirimu. Aku bahkan tak mengerti mengapa dan bagaimana. Apakah karena bulu matamu yang bagai seraut jatuh? Atau hadirmu yang telah mengisi sepiku? Mungkin aku takkan pernah tahu.
Lihatlah aku, bagai anjing menggonggong tulang, aku haus akan perhatianmu. Pujilah aku, buatku melayang dibalik awan. Genggam tanganku, katakan padaku kau juga menginginkanku. Seperti aku yang ingin selalu dekat denganmu. Juga serakahku yang berharap hanya aku yang ada di pikiranmu.
Ingin sekali aku bertanya padamu. Apa maksudmu datang dihidupku? Mengapa kau selalu mengganggu pikiranku dengan tutur manismu? Meski bersuluh menjemput api, setidaknya takkan kuharapkanmu kembali. Jujurlah padaku, akan ku tenggak kembali rasa itu habis.
Sebentar pagi, sebentar malam. Kau buatku gundah tak beralasan. Ku coba pergi, namun bibirmu yang bergetah buatku kembali. Apa yang akan ku dapat jika ku bersamamu? Tak terbayangkan. Begitu kelam, bagai malam dua puluh tujuh. Meski begitu, aku tetap ingin bersamamu.
22.58
Sayangku,
Malam ini rembulan berpendar begitu terang. Berwarna merah merona, seolah tersipu menahan goda. Tak jemu ku pandang indahnya, menemaniku disepanjang perjalanan. Mengingatkanku akan hangat tuturmu yang selalu buatku nyaman.
Semakin ku jauh darimu, rinduku semakin nyata. Bayangmu bagai epifora yang bertaut didalam benak. Sebuah simfoni yang tak henti bergema didalam angan. Tak henti daku bertanya, "Bilakah kita 'kan berjumpa?".
Hadirmu layaknya katarsis ditengah gejolak jiwa. Kasihmu adalah secercah cahaya didalam kelamnya dunia. Sebuah oasis yang rindang dalam kehampaan. Kau adalah penenang di tengah riuh rendah yang kurasakan.
Percayalah, bagiku kau adalah pertama dan semesta. Namamu selalu ada dalam setiap doa yang kupanjatkan. Seutas harap yang tak henti ku semogakan. Dan bila Tuhan mengizinkan, maukah kau hidup bersamaku selamanya?
02.48
Selamat malam, anak bulan. Kali ini ku sudah tak tahan. Laksana jentayu menantikan hujan. Sendiri ku genggam rasa tanpa balasan.
Seiring ayun-temayun mentari dari singgasana hari. Rasaku meredup, tinggalkan memori. Sudahlah letih ku lukis alegori. Untukmu, manusia tanpa sanubari.
Entah sudah berapa hastawara berlalu. Ku jaga rasa berbuah sembilu. Sudahlah hilang rasa, bersisa jelu. Kini ku lewati malam bersama pilu.
Simpan semua bual yang buatmu kelu. Takkan lagi ku tulis tentangmu diujung dalu. Sekarang pergi, pamit pun tiada perlu. Biarlah hilang semua benalu.
Terang.
Siang itu akan selalu kuingat. Hari dimana aku duduk berdua denganmu. Merasakan hadirmu yang buatku hangat. Tertegun aku akan indahnya ciptaan Tuhan yang duduk dihadapanku.
Tawamu tersipu menggelitik rasaku. Tatapan indah yang tak jemu ku temui. Berwarna coklat terang, seperti dedaunan yang jatuh di musim gugur. Perlahan mengisi relung yang telah lama sepi.
Jika saja ku bisa sejemang menghentikan waktu. Tuk dapat lebih lama bersama. Mendengar lembut tuturmu yang membuat tenang jiwa. Tuk sesaat merasakan damai dalam hidupku.
Dalam buai angan aku tenggelam. Kau hanyalah mentari yang hangatnya tak dapat ku genggam. Tuhan sudah gariskan dalam gelapnya malam. Dalam kidung merdu tanpa bait dan langgam.
"Aku menyayangimu".
Dua kata yang sering ku telan. Rasa yang sekuat tenaga ku tahan. Dua kata dalam doa yang ku terus aminkan. Maafkan daku yang tak cukup berani menantang takdir Tuhan.
Bila kelak kita sampai di kehidupan selanjutnya. Ku akan ulangi semua agar berjumpa. Meskipun ku tahu semua akan berakhir sama. Aku akan terus melakukannya, hingga kelak kita bahagia bersama.
07.44
Berat baginya untuk melepaskan
Bandung dan berjuta kenangan
Air mata menetes tak dapat tertahan
Melarut rindu, benci, dan impian
Masih jelas di dalam ingatan
Di setiap henti persimpangan
Kilasan balik penuh beban
Dibawah remangnya lampu jalan
Bagaimana manusia kecil bisa bertahan
Ditengah hujatan dan cacian
Dalam rundung dan kerasnya kehidupan
Dia memegang teguh suatu impian
Bahwa ia akan merubah keadaan
Langkah demi langkah meski perlahan
Dia percaya akan jalan Tuhan
Meski ia harus rela berkorban
Bagaimana mungkin dia bisa lupakan
Tempatnya lahir dan dibesarkan
Hangatnya Ibu dalam dekapan
Juga lindungan Ayah yang buatnya aman
Kini dia harus sanggup menahan
Semua harapan yang disemogakan
Meski kini dia sendirian
Tiada kawan, hanyalah lawan
Tuhan, berilah ia kekuatan
Menerjang badai di tengah lautan
Tunjukkan arah dan juga tujuan
Agar terwujud semua harapan
21.15
Dibawah sinar mentari aku mencari
Arti hidup bagi makhluk fana ini
Ratusan persimpangan aku temui
Tak jua sauh menepi
Kemana aku harus kembali
Tak tahu apa yang kini kucari
Lagi dan lagi mencaci diri
Hilang arah juga kendali
Bila nanti ku akhiri semua ini
Melangkah mundur, menjauh pergi
Akankah kau inginkanku kembali
Atau bahagia dan lanjutkan hari
Tak ingin lagi aku ulangi
Semua akan tetap terjadi
Sudahlah cukup sampai disini
Sampai jumpa di lain sisi
Dari tatapmu aku merasakan
Rasa yang ku harapkan hanyalah sebuah angan
Dari dingin sikapmu aku menyimpulkan
Rasa ini bertepuk sebelah tangan
Aku menyayangimu
Meski kau tidak begitu
Tapi apa hendak dikata
Semua nampak terlalu nyata
Aku akan pergi
Aku takkan kembali
Tak perlu lagi kau menghindari
Asalkan kau penuhi satu pinta ini
Sekali lagi, tatap mataku
Katakan kau tidak mencintaiku
Biar jelas semua kelabu
Juga hilang semua harapku
Agar kelak damai hidupmu
Tanpaku yang selalu mengganggu
Dan buatmu merasa kelu
Karena harapku tuk dapat bersamamu
Aku rindu Bandung sehabis hujan.
Beserta dirimu dan ribuan kenangan yang ada di dalamnya. Memikirkannya saja membuatku tenang. Memoriku kembali menapaki jalanan Braga yang basah, disertai sisa air hujan yang menetes dari dinding bangunan itu. Perlahan menyusuri trotoar di tengah udara dingin yang membuatku bisa merasakan hangat hadirmu meski tanpa kusentuh. Terdengar deru nafas dalammu, seolah melepaskan beban dari pundakmu.
Kala itu hujan tidak menentu, seakan menggoda untuk bermain. Gerimis datang dan pergi, tidak deras, namun cukup untuk membuat mantelmu basah karenanya. Berteduh di kanopi merah di simpang jalan, sambil menanti reda. Melihat paras elokmu dihiasi cahaya yang terpantul dari kendaraan yang melintas. Silih berganti seiring langkah pejalan kaki, seiring ayunan genggamanmu yang tak ingin ku lepas. Erat, hangat, dan halusnya genggaman tanganmu adalah nikmat Tuhan yang sering aku dustakan.
Senyummu saat kau bercerita tentang kehidupan sehari-hari. Tawamu, tersipu, bercanda tentang masa lalu. Menyilaukan, tak tahan aku menatap matamu, juga rasa ingin mendekapmu. Untuk sejenak berhenti meragu, untuk sesaat menghentikan waktu. "Aku tak ingin semua ini berakhir", ucapku dalam hati. "Dia adalah tempatku pergi dan kembali, alasan ku terbangun setiap hari, dan kekuatan yang selama ini membuatku bertahan". "Dia adalah penenang hati yang tak henti membuatku candu, aku ingin dia rasa apa yang aku rasakan saat ini". Semakin aku jauh, semakin aku terjatuh padamu. Meski bukan inginku untuk tak disampingmu, aku ingin berdua, bersama. Dan bukan bermaksud untuk mendahului Tuhan, tapi jika Tuhan berkenan, selamanya.
Mengguncang jiwa, menelisik siksa
Yang kau bawa bersama rasa juga asa
Menyayat raga, mengubah fakta
Yang tenggelam bersama buaian kata
숨을 크게 쉬어봐요
당신의 가슴 양쪽이 저리게
조금은 아파올 때까지
숨을 더 뱉어봐요
당신의 안에 남은 게 없다고
느껴질 때까지
Teruntuk sepasang mata indah dalam lamunan. Yang indahnya tak dapat ku lepas dari tatapan. Ada rasa yang belum tersampaikan. Kini tertahan menanggung keraguan. Tak terucap namun menggelora dalam angan. Menghantui malam, kelam dalam pikiran.
Dirimu tak pernah mengimani apa yang kau lakukan. Bagimu semua hanyalah sebuah permainan. Katakan padaku apa yang kau rencanakan. Ku tak mampu lagi menahan perasaan. Jika sungguh bukan ini yang kau inginkan, takkan lagi ku biarkan kau singgah dalam harapan. Dalam rintih doa yang ku panjatkan, di balik dinginnya pelukan rembulan. Aku akan tinggalkanmu perlahan, takkan ku simpan kau dalam kenangan.
Ada rasa yang tak terucap
Yang tak dapat kusampaikan lewat tatap
Meski daku terdiam senyap
Meski semua tak terasa genap
Bahwa daku terlalu menaruh harap
Pada dirimu yang buatku lengkap
Juga rasa yang tak kunjung lenyap
Yang setiap hari kian meluap
Ku berbaring dengan mata sembap
Tangisi hadirmu yang kian melesap
Hilangmu buatku kalap
Hingga kini aku terlelap
Entah berapa purnama aku meratap
Ditemani rembulan yang menggerlap
Temani daku didalam gelap
Didalam dingin berselimut detap