Andaikan Segalanya Bermula dan Aku Tidak Tahu Bagaimana Caranya untuk Tiba
Andaikan segalanya bermula, dan aku tidak tahu bagaimana caranya untuk tiba. Tersesat di persimpangan jalan menuju bahagia, tersebab langkah ini telah lama mati rasa;
— terkubur di antara gersangnya penyesalan.
Andaikan segalanya bermula, dan aku tidak tahu bagaimana caranya untuk tiba. Apakah ini artinya aku tidak pantas untuk menujumu?
Berlabuh di dermaga perasaanmu.
Dan, aku kian mengerti perihal jarak ini. Perihal perasaan yang mulai jatuh sedangkan kamu terlalu jauh untuk direngkuh. Perihal ketidakmampuan untuk menjadi seseorang yang kamu cintai.
Barangkali, aku adalah seorang petualang bodoh yang terus bersikeras untuk mencapai perasaanmu, sedangkan kamu tak ingin ditemukan olehku. Barangkali, hanya aku seorang diri yang ingin memulai, sedangkan kamu telah usai mengakhiri.
Dan, penderitaan ini terus merambati tetiap ruang-ruang pikiran dan kekosongan yang hidup di dalam dadaku. Menghunjam jantung perasaan, seakan mati ditikam rindu itu sendiri. Aku ingin menjadi seseorang yang pantas untukmu.
Namun, aku jua mengerti jika kamu bertahan di dalam keterdiamanmu. Terkadang perasaan enggak bisa dipaksakan, bukan?
Sekeras apa pun aku ingin persamuhan itu tiba. Pada akhirnya, perasaan ini hanya berjalan satu arah tanpa mengenal jalan pulang.
















