“Puspita Paradigma” — Rendi Lestari.
Rampung pada 01 Januari 2026 pukul 22.27 WIB
—
“Maka cintailah aku. Seribu yakin bahwa pencarian dirimu yang bertahun-tahun itu adalah aku, akulah wahai tempatnya segala tumpah ruah, juga semenjana rupa-rupa cinta..."
***
Iya, Kinar. Tidaklah perlu satupun ucapan sesal. Kembalikan sejenak ingatanmu kepada paras pandawa bualan duka. Sejalan dengan luapan usia berbadai-badai, dan kau menjelma kuncup bunga segar dengan madu manis wahai rentan akan suar debur ombak.
Aku melihatmu. Kini tidak lagi dirimu terpadu kepada dambaan wajah serta merta harapan akan cinta membahana. Hanyalah wujudmu sendu. “Saya telah lelah. Sudahlah sudah saya lekat dengan pria pecundang seribu satu bual. Dengan mendekat aksara kasih cinta, yang saya kira adalah kilauan rona-rona bentala. Saya sudah sampai kepada sentuhan tangan pria perencana bualan duka, tidak satupun hal dari dirinya merupa sosok bongkahan “laki-laki dewasa”. Yang sebagaimana selalu ibu katakan: bahwa ayahmu hanyalah seorang pria. Hai perlahanlah berwibawa, berkobar, menjadi laki-laki angkasa setingkat pohon jati dewasa. Maka kelak engkau carilah yang persis seperti dirinya. Dan kelak kamu menemukannya walau hanya serpihan, pecahan, atau bongkahan dikala pencarian terakhir jalan buntu.” Maka melamunkan setiap perkataan itu membuatmu sesak tiada tara. Tidurlah saja. Sudah terlalu larut lamunan dirimu yang kini berteman tengah malam. Peluklah selimut merah muda, kenakanlah sehingga kian melindungimu dari kecupan para pendingin malam.
Adakalanya suasana persahabatan terasa lekat. Seperti dekat, melebur hingga merekat kembali lagi. Dengan tegas akan aku bilang bahwa: Aku adalah saksinya. Kembalilah ingatanku kepada satu dekade sudah lalu. Kinar sangat lucu. Putri kecil merah muda berusia 14 tahun kala lalu, dan aku menyaksikannya sangat gembira suar mekar. Ketika telapak tangannya berbalik-balik untuk jawaban dan giliran, manakala kedua matanya sengaja ia tutup seraya merapal angka-angka, aku merasakannya bahagia ketika suaranya menjadi lantang setelah membeberkan angka yang sudah mencapai ke-sepuluh. “SUDAH!!! AKU SUDAH MULAI MENCARI KALIAN YAA!! PASTI PADA KETEMU SATU-SATU!!!”
Adakalanya juga suasana debur-debur lebur melebihi batas angkara. Melebihi ikhlas dari batas dirimu. Dan aku kias kan kau layu ditengah-tengah perahu yang hanya tersisa ibu. Menggenggam tangan kiri kananmu satu satu, pergantian pegangannya membuatmu merasakan kecewa. Bukan kepada ibumu tentunya, tapi kepada tuhan. Ucapmu lirih sembari liak-liuk kepala ibu kau lihat cemas menjagamu. “Apa sebab ayah pergi? Bahkan perginya juga sampai selamanya kata ibu. Tuhan lebih sayang katanya, tuhan melebihi kita semua. Tapi, tuhan... Aku dan ibuku kini melebihi rasa sayangmu yang mendayu, nan membuat kita semua layu tidak tersisa! Kita berdua diatas perahu-mu, kita berdua kelak hidup sekadar untuk saja tanpa adanya dia peran besar ayah. Yang wahai jelas sangat dibutuhkan untuk menjadikan kita menjadi manusia. Namun, apapun itu, aku kira bahwa kau tidak akan mengerti sebab kau hanya tau memberi dan mengambil sesuai hendak sebesar saja dunia”. Aku melihatmu. Betapa sayu melihat tumpahan air matamu.
***
Kini kau ditemani terik mentari. Berbisik kepada angin baik hati sebab telah setia menemani dirimu duduk bersila sejak lama diteras rumah dan tidak kemana mana. “Psstt!... Angin. Aku memuja terik mentari kala ini. Sangat indah, suasananya menjadi lebih cerah dibandingkan mawar putih baru merekah. Hihi! Jahil, ya? Berani sekali aku membandingkan keduanya sedangkan keduanya sangat aku cinta”
***
Luluh. penuh dengan pekarangan bunga mawar-mawar. Putih bersih, merah cerah, berbagai-bagai jenisnya hai wahai dia puja. Kini aku melihatmu meraut rupa gembira ditaman bunga. Betapa curang laki-laki itu membawamu ketempat seperti itu. “Ini sudah bulan ketiga sejak mengenalmu, Nar. Mana mungkin bunga mawar aku lupakan dari kepalaku yang dimana itu adalah kesukaanmu. Selamat ulang tahun, ya. Semogalah ceria sehingga akhir usia. Aku mencintaimu sudah lama, terimalah apa adanya.” Pun mekarnya mawar-mawar, rekahnya sebunga bakung, maka kuncup perasaan haru mulai membawamu kepada alas-alas romansa. Yang pada akhirnya akan kau sebut-sebut sebagai cinta. Aku melihatnya suasana gembira, seperti terik mentari sedang bermain-main melengkapi binar kedua matamu, menghangatkan peluk tiada rupa yang kini menjadi damba-damba, menghilangkan mawar-mawar disekitarmu yang kini mewujud kitaran cahaya rembulan. Betapa terik mentari mencurangimu sebegitu, Kinar. Aku terpaku melihatmu, sungguh sangat pandanganku kelu ketika tepat diawal tahun ketiga hanyalah kabar duka. Bahwa kau menangis-nangis kepadanya, memberi mohon maaf atas segalanya benar-salahmu, melolong keras seperti malam ini kau akan ditinggalkan rembulan.
Kini hanya sisa sabit saja. Serapah sumpah laki-laki itu telah merupa asap sepekat hitam nan perlahan beterbangan. Perlahan-lahan beranjak menjauhimu, merangkul bulan sayu menutupinya sehingga sebagian tubuhnya berdarah habis sehingga tersisa kikis-kikis. Diseberang mata kiri rembulan, nun jauh paras ibu memikirkanmu. Terakhir tertulis kabar bahwa sudah saatnya untukmu menikah. Limpah ruah segala rupa bahagia, segala kabar juga rencana, bahkan tanggal waktu beserta tempatnya laksana sudah kau titipkan kepada perantara tulisan. Hanya raut ibumu gembira, tiada tara harapannya tertuai mesra. Sungguh dia sampai kepada hari dimana akan menjadi saksinya. Maka tertitiplah segelintir kata kecil kepada pencipta “Supaya Kinar bisa lebih bahagia, bisa lebih menjadi manusia. Bimbinglah jodohnya tegas dijalan-jalan arahan, sungguh ujian pernikahan betapa memuakkan ketika hanya berdiri sendiri ego setiap diri. Manakala sebelum membahana, disetiap arah menuju lekat cinta, tegapkanlah wahai tujuan keduanya”. Dan kau pun terbaring memimpikan rembulan. Dia melambaikan tangan walaupun tersisa sebelah beserta matanya. Berkata bahwa dia sang rembulan akan memakan diri sendiri, “Apa guna aku begini, sudah seharusnya tidak memaksakan diri sendiri. Tapi, Kinar... Asap sepekat hitam inilah pembunuhnya, kini kian menjalar menghabiskan seluruhnya dari separuh sisa tubuhku utuh. Kinar... Ini tidaklah apa-apa, tidaklah ini akhirnya. Memang sungguh aku bertugas hidup begini. Untuk terluka, untuk gembira, untuk melambaikan tangan kiri ini kepadamu dan berucap kata jumpa-tiada. Tentu selainku akan ada seribu satu pengganti. Dan setelah seribu satu itu ada dua puluh ribu lagi, setelahnya berturut-turut begitu sehinggalah tidak lagi diizinkan tuhan sebab kecukupannya sudahpun tiba. Apa artinya itu, Kinar? Sungguh bukanlah seberapa... Hanya saja hancur disaat satu tidak mungkinlah dipertengahan seribu terus-terus begitu. Sampai jumpa, Kinar, sungguh aku hanyalah rembulan tiada raya...”
















