Untuk menemukan jalan baru, terkadang kita harus tersesat dahulu. Sebuah pepatah yang dapat dijadikan tema untuk mencapai titik balik dalam menemukan jalan yang benar. Sebagai manusia biasa tentunya kita tidak luput dari kesalahan-kesalahan yang dilakukan, baik dalam kata ataupun perbuatan, tersembunyi ataupun terang-terangan, direncanakan ataupun tidak. Adapun kesalahan yang dialami dapat dijadikan pengalaman agar mampu memilih pilihan benar di kemudian hari. Kebahagiaan dan kesedihan ternyata bergantung dengan pada apa yang kita perbuat. Dalam surat An-Nisa ayat 79, Allah berfirman “Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu adalah dari (kesalahan) dirimu sendiri…”
Kemudian, Aku ingin mengaitkannya dalam bingkai cerita yang terjadi disekitar kita khususnya pengalaman titik balik dalam diri penulis menemukan jalan baru itu. Dikala segala sesuatu disikapi secara berlebihan, abai dengan segala apa yang menjadi kewajiban yang telah diperintahkanNya dan membiarkan diri dalam kebodohan, sehingga terasa ada suasana dimana hati sering gelisah, tidak tentram dan gundah tak tentu arah. sehat badan namun hati bermasalah, boleh jadi karena terlalu ikut campur dengan ketetapan-Nya. kondisi batin semacam itu yang menyebabkan sesak di dalam hati. Selalu berharap pada orang lain menyebabkan mudah merasa dikecewakan. Kemudian, pikiranku tertuju pada pesan nasihat yang mendalam dari Hasan al-Bashri rahimahullah, “Sungguh, apabila aku dijatuhkan dari langit ke permukaan bumi ini lebih aku sukai daripada mengatakan: Segala urusan berada di tanganku!.”(dalam Aqwal Tabi’in fi Masa’il at-Tauhid wa al-Iman). Dan juga teringat doa yang indah dari Ali Zainal Abidin, cicit Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, “Wahai Tuhanku, jangan Engkau serahkan aku ini kepada diriku, aku tidak mampu untuk menguruskannya dan jangan Engkau serahkan diriku ini kepada orang lain, niscaya mereka akan menyiayiakan aku.”
Umpama penyakit bila ingin menyembuhkan atau mengobatinya adalah dengan cara memahami penyakit itu dan satu-satunya cara memahaminya adalah dengan mempelajarinya. Lantas obat apa yang bisa menyembuhkan penyakit hati ini?. Kata Allah, “Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS.Yunus: 57)
Seketika mudah bagi Allah untuk memberikan hidayahnya bagi siapa saja yang ingin meraihnya. Tentu semua manusia ingin merasakan bahagia dalam hidup ini. Namun, untung atau malang seseorang, susah dan senang adalah tentang pilihan sikap. Ingin selalu bersyukur atau takabur itu pilihannya. Etika seorang Muslim ketika menghadapi kesulitan ialah tetap bertawakal dan penuh pengharapan, dengan begitu kita dapat melihat keindahan cahaya Rahmat-Nya. Disadari atau tidak, sudah berapa banyak doa-doa yang dahulu kita panjatkan telah dikabulkan dan hingga bisa sampai ada pada hari ini pun juga karena doa yang kita harapkan kepada-Nya.
Kata Hamka, “bukan harta yang sedikit itu yang menyebabkan susah, bukan harta yang banyak yang menyebabkan gembira. Pokok gembira dan susah payah adalah jiwa yang gelisah atau jiwa yang tenang dan damai…!”