“Kejujuran tidak bisa diajarkan, tapi dihidupkan”
Artidjo Alkostar
dan akhirnya kebosanan ini akan bertambah!. herrek
seen from China
seen from Chile
seen from Japan
seen from United Kingdom
seen from United States

seen from Germany
seen from China

seen from Canada
seen from United Kingdom
seen from Germany
seen from United States

seen from Nepal

seen from United Kingdom
seen from Portugal

seen from United States

seen from Türkiye
seen from Jordan

seen from France
seen from Hong Kong SAR China

seen from France
“Kejujuran tidak bisa diajarkan, tapi dihidupkan”
Artidjo Alkostar
dan akhirnya kebosanan ini akan bertambah!. herrek
New Story👇 Mencintai dalam diam itu yang di lakukan oleh Lucas Erlando, cowok cupu yang sering di bully di sekolahnya. Hanya ada satu gadis yang mau berteman dengannya dan selalu membelanya saat ia di hina oleh teman-temanya. Gadis itu adalah Clara Elorna Wiguna, putri bungsu pengusaha kaya sekaligus gadis yang di cintai Lucas. Kedekatan mereka membuat Brian Alexander merasa geram. Ia tidak suka Clara kekasihnya berdekatan dengan si cupu Lucas, berbagai cara ia gunakan untuk memisahkan keduanya. "Jika mencintaimu harus sesakit ini, sampai sekarat sekalipun aku rela."~Lucas Erlando~ Bagaimana kisah mereka selanjutnya apakah Lucas akan bersatu dengan gadis yang di cintainya? Dan Apakah kehidupan Lucas masih akan sama setelah rahasia terbesarnya terungkap? https://my.w.tt/mjMpnjXs86 #wattpad #komunitasbaca #story #novel #remaja #kisah #bully https://www.instagram.com/p/CBJvjAWJ_km/?igshid=vb05d2dh8o4j
Sundul lagi ya buat acara besok yang diadakan oleh @pascatrendi @ppsisiyogya dalam rangka menyambut dies natalis @isijogja .. daftar dulu ke 082143304474 atau langsung datang besok jam 15.00 waktu indonesia bagian Jogja.. #diskusijogja #diskusi #mahasiswajogja #mahasiswauny #mahasiswauny #mahasiswaumy #mahasiswaugm #mahasiswayogyakarta #komunitasbaca #komunitasjogja #komunitasjateng
Mendukung Hari Buku Nasional Maka dengan riang, harga buku Kursi Kosong Antologi diturunkan menjadi hanya Rp 58.700 saja dari harga awal delapan puluh ribuan Bukan hanya untuk Hari Buku Nasional saja, tapi untuk donasi, mengingat karena seluruh royalti dari penjualan buku ini untuk di donasikan kepada panti asuhan @yayasanalqomariyah Maka saya berharap banyak, dengan diturunkan harga buku ini menjadi banyak yang beli, sehingga bisa terkumpul donasi yang banyak juga untuk membantu adik - adik di panti asuhan, yang saat ini sedang membutuhkan biaya untuk renovasi rumah panti Dengan harga segitu dapet buku dan pahala yang tidak habis, harga yang sangat murah dibanding harga martabak spesial manis Gimana belinya? Bisa hubungi penerbit @guepedia atau beli di Bukalapak, Tokopedia dan Elevenia Beli ya, yuk berdonasi dan kita bantu renovasi rumah adik - adik panti Selamat hari buku nasional dan selamat membaca buku, bukan membaca masa depan dengan kamu #kenfauzy #haribukunasional #yukbaca #haribukusedunia #haribukunasional2017 #bukukursikosongantologi #kursikosong #kursikosongantologi #emptychair #pecandubuku #donasi #komunitasbaca #infobuku #guepedia #bukalapak #tokopedia #bukubagus #berantakankata #pecandusenja
Beritaseoku
Beritaseoku.net - Situs berita online terpercaya
Semua berita terbaru dan terlengkap semua ada di www.beritaseoku.net
Like & Share www.beritaseoku.net
Terbit Agustus, Pre-Order "Kekekalan Laten Fasisme" Mulai Juli
Pada bulan Agustus akan terbit esai karya Rob Riemen, seorang filsuf asal Belanda yang merupakan pendiri Nexus Instituut. Esai yang dialihbahasakan ke dalam bahasa Indonesia oleh penerbit Pionir Books ini berjudul 'Kekekalan Laten Fasisme' dan mengupas sejarah fasisme. Riemen menekankan: "Jangan mengukur fenomena fasisme kontemporer abad ini dari bagaimana itu semua dapat berakhir, namun ukur dari bagaimana semua itu dapat bermula."
Dari judul buku ini, apa yang pertama kali terpikirkan? Bahwa buku ini membahas sesuatu yang mengerikan? Fasisme? Filsafat? Justru sebaliknya, ini hanya sebuah buku yang layak dan patut untuk dibaca oleh setiap kalangan, mulai dari pelajar, mahasiswa, guru atau pegawai bank - apa pun profesi Anda, buku ini akan menunjukan suatu ikatan dengan diri kita dan sekaligus mengupas fakta sejarah yang akan membuat kita bertanya, berpikir dan pada akhirnya: mewawas.
Riemen menulis: "Fasisme masa kini tersebut kembali, merupakan akibat dari partai politik yang memungkiri paham mereka sendiri, cendekiawan yang membudayakan nihilisme yang malas, perguruan tinggi yang tidak pantas menyandang predikat tersebut, ketamakan dunia usaha, dan media-massa yang lebih memilih menjadi pembicara perut alih-alih cerminan kritis bangsa."
Kita sebagai elemen masyarakat tidak dapat menghindar untuk turut memberikan andil terhadap hal-hal tersebut. Sekarang pertanyaannya, andil seperti apa yang ingin kita kontribusikan?
Buku ini menghantarkan kita, seluruh kalangan masyarakat Indonesia, untuk lebih memahami hal-hal krusial. Apakah Indonesia setelah 70 tahun merdeka, telah benar-benar bebas? Pendiktean setiap hari dalam sistem pendidikan, dengan tujuan nilai akademik dari ujian-ujian, yang jumlahnya tidak sedikit. Pada akhirnya Sumber Daya Manusia yang berkualitas di lapangan adalah yang kreatif karena era masa kini dipenuhi dengan sejuta kompetisi. Nilai ujian diatas kertas memang baik, namun penerapan menjadi kendala, karena tidak dibudayakannya pemahaman. Sebesar apakah tantangan masyarakat Indonesia pada era globalisasi ini? Apa saja yang krusial?
Bersumber dari Pearson, artikel edudemic 'The Top Ten (And Counting) Education Systems in the World' menilai sistem pendidikan 40 negara. Berdasarkan data keterampilan membaca, matematika, ilmu serta nilai kelulusan. Hasil 10 urutan terbaik yang didapat adalah posisi pertama ditempati oleh Korea Selatan yang kemudian disusul oleh Jepang, Singapura, Hong Kong, Finlandia, UK, Kanada, Belanda, Irlandia dan Polandia. Sedangkan Indonesia 'kembali' menempati urutan terakhir pada posisi ke-40.
Kekekalan Laten Fasisme, kekebebasan hingga sistem pendidikan. Apa saja penjabaran dalam esai ini yang menghubungkan keduanya? Dapatkan jawabannya setelah buku ini terbit dan jadilah yang pertama karena dapat dipre-order secara online pada website Pionir Books dan mitra-mitra online dengan harga Rp 55.000 mulai bulan Juli.
Menjadi insan yang berpikir kritis seperti seorang filsuf, sekiranya itu yang dapat menjadi upaya awal kita untuk meningkatkan diri masing-masing, seorang insan Indonesia.
Bangsa di dalam Kotak
'Partai politik yang memungkiri paham mereka sendiri; cendekiawan yang membudayakan nihilisme yang malas; perguruan tinggi yang tidak pantas menyandang predikat tersebut; ketamakan dunia usaha; dan media-massa yang lebih memilih menjadi pembicara perut alih-alih cerminan kritis bangsa.'
Masalah-masalah yang saya sebutkan di atas saya kutip dari esai Rob Riemen, filsuf Belanda, yang bertajuk 'De eeuwige terugkeer van het fascisme', yang akan terbit dari penerbit kami, Pionir Books, dalam bahasa Indonesia dengan judul 'Kekekalan Laten Fasisme' (http://bit.ly/1DAiKZ1 dan http://bit.ly/1bz9lJ3). Sejauh mana masalah-masalah tersebut, yang Riemen sebut untuk menggambarkan keadaan di negeri Belanda, juga berlaku untuk Indonesia?
Masalah-masalah tersebut di atas Riemen sebut sebagai akibat-akibat munculnya kembali fasisme masa kini, yang di Belanda diujungtombaki Geert Wilders dan gerakannya, yaitu parpol PVV (Partai untuk Kebebasan). Pertanyaannya, apakah kita, Indonesia, juga memiliki Geert Wilders-Geert Wilders lokal? Sejauh mana kerentanan Indonesia terhadap fasisme? Apakah itu fasisme?
Fasisme dimungkinkan oleh adanya budaya kits. Riemen sebut masyarakat Belanda sebagai budaya kits karena 'karena kebaikan tertinggi, yakni nilai-nilai rohaniah, dilalaikan dan seluruh eksistensi mengutamakan kesenangan.' Kits: suatu gaya hidup yang melulu mementingkan hal-hal yang menyenangkan sembari melalaikan kebaikan tertinggi. Budaya kits menghasilkan manusia-massa kasemat. Fasisme adalah politisasi mentalitas si manusia-massa kasemat.
Apakah masyarakat Indonesia juga terjerumus dalam budaya kits? Dan apabila iya, sejauh apa? Apakah ia bisa dipolitisasi?
Menurut hemat saya, permasalahan dan pertanyaan di atas adalah penting. Permasalahan yang saya tulis di atas harus disikapi; pertanyaan yang saya sebut di atas harus dijawab. Apakah media massa di Indonesia bersedia membuat ulasan? Menurut hemat saya, persoalan-persoalan di atas berkenaan dengan lubuk jiwa masyarakat Indonesia yang, apabila sukses ditetapkan, dapat menentukan haluan bangsa kita. Apakah Indonesia selamanya akan berkubang dalam kegelapan, dalam ketidaktahuan? Atau adakah harapan Indonesia suatu saat akan menjadi pelita dunia?
Menurut hemat saya, Indonesia punya harapan. Bangsa ini punya harapan untuk menjadi sebagaimana ditakdirkan oleh potensinya. Akan tetapi, mau tunggu sampai kapan kita? Indonesia harus mawas diri, mencari tahu apa yang menyebabkan bangsa ini selalu mengambil sikap sebagai korban, bukan sebagai bangsa yang bebas dan percaya diri menentukan takdirnya.
Menurut hemat saya, Indonesia, sejak 2014, telah memasuki Era Kebebasan. Era Reformasi telah ia tinggalkan. Bangsa Indonesia harus mengisi Era Kebebasan ini dengan langkah-langkah berani. Saya imbau media massa di Indonesia untuk mengangkat permasalahan besar dan penting ini.
Riemen memberikan solusi pada akhir esainya, solusi untuk mengatasi fasisme: 'Hanya setelah kita menemukan kembali kecintaan akan hidup dan ingin kembali mengabdikan hidup kepada hal ihwal yang sungguh-sungguh memberikan hidup – kebenaran, kebaikan, keindahan, persahabatan, istikamah, belas kasih, dan kearifan –, hanya setelah itu, dan tidak sebelumnya, kita akan menjadi tahan terhadap basil mematikan yang bernama fasisme.'
Apakah menurut media massa di Indonesia bangsa kita cinta akan hidup? Apakah kita sudah mengabdikan hidup kepada semua yang disebutkan itu?
Menurut hemat saya, jawabannya adalah tidak.
Riemen mengutip filsuf Jerman Theodor Adorno: 'Satu-satunya kekuatan penentang tulen terhadap fenomena Auschwitz adalah otonomi diri, kemampuan untuk becermin, menentukan nasib sendiri, tidak ikutan, tidak menyesuaikan dirimu dan alih-alih individu tanpa watak, jadilah suatu kepribadian, suatu roh mandiri.'
Menurut hemat saya, dalam konteks itu, bangsa Indonesia masih jauh panggang dari api. Padahal, menurut hemat saya, itulah kunci bangsa Indonesia untuk menjadi bangsa yang besar: menjadi bangsa yang masyarakatnya berpikir bebas dan mempertanyakan segalanya.
Bersediakah media massa di Indonesia menilai sistem pendidikan nasional kita? Sejauh apa pendidikan nasional kita mampu mencetak insan yang berpikir bebas, yang mempertanyakan segalanya? Apabila ternyata masih jauh panggang dari api, apa yang harus dilakukan? Menurut hemat saya, perbaikan-perbaikan yang harus diadakan bakal radikal.
Persoalan-persoalan di atas penting. Negara Indonesia merupakan suatu konsep ciptaan manusia. Negara Indonesia merupakan konsep yang abstrak; manusia yang tinggal di dalamnya, bangsanya, adalah nyata. Untuk maju Indonesia bukan harus mengutak-atik sistemnya, tetapi orangnya, insannya. Hanya dengan cara itu Indonesia akan mengalami kemajuan. Pasal, perbedaan antara kita dan negara maju hanya terletak pada sejauh mana bangsanya dibuat mampu dan dibiarkan berpikir bebas, mempertanyakan segalanya. Hanya itu.
Laurens Sipahelut