Tau gak sih?
Warna lidah dapat memberikan petunjuk penting tentang kesehatan seseorang.
1. Lidah Merah Cerah
Kemungkinan Penyakit: Infeksi (seperti stomatitis), alergi, atau kekurangan vitamin B12 dan folat.
seen from China
seen from Russia
seen from United States
seen from United States

seen from Singapore
seen from United States

seen from United States
seen from China
seen from Yemen
seen from Singapore
seen from Singapore

seen from Japan

seen from Kenya
seen from Japan
seen from United States

seen from Malaysia
seen from Kazakhstan
seen from United States
seen from United Kingdom
seen from China
Tau gak sih?
Warna lidah dapat memberikan petunjuk penting tentang kesehatan seseorang.
1. Lidah Merah Cerah
Kemungkinan Penyakit: Infeksi (seperti stomatitis), alergi, atau kekurangan vitamin B12 dan folat.
LIDAH PUISIKU
Lidah puisiku basah;
jilat semua rasa yang singgah
kadang marah, kadang ramah.
Lidah puisiku sunyi;
kata tak sempat kunyanyi
tak pula engkau berbunyi.
Lidah puisiku tajam;
menggeliat di tubuhmu diam-diam
juga pada lelapmu malam-malam.
Lidah puisiku tak ingin menetap
di balik bibirmu yang acap
tersungging mendecap-decap,
pun matamu yang melayap-layap
sengaja tak izinkan siapapun hinggap.
Lidah puisiku begitu terburu-buru
bersihkan harimu dari apa-apa yang biru
sedang aku bukanlah mahaguru
namun, mari kubantu kau mewiru
biar semua yang lihat cemburu.
— Bandung, A.
LIDAH ITU TIDAK BERTULANG
“Tetapi, tanpa lidah, manusia tidak bisa berbicara. Tanpa lidah, manusia tidak bisa mengecap rasa. Lidah tidak bertulang, tapi siapa sangka bisa jauh lebih tajam dari pedang. Berlisanlah dengan hal yang baik atau lebih baik diam.” begitu katanya.
Tapi sepertinya, banyak manusia yang enggan untuk mematuhi, atau mungkin sudah lupa tentang pentingnya menjaga lisan. Betapa banyak orang yang berbicara tanpa berpikir, yang mengatakan hal-hal yang ada di pikirannya tanpa memikirkan akibat dan dampak dari ucapannya tersebut. Sudah banyak buktinya, orang-orang yang tergelincir hidupnya karena tidak mampu menjaga serangkai daging tidak bertulang di rongga mulutnya.
Salah satunya adalah kamu. Ingat, lisanmu adalah cerminanmu, apa yang kamu ucapkan adalah apa yang ada di dalam nuranimu. Dengan lisan seseorang akan terhormat, dengan lisan seseorang juga akan terhina. Berhati-hatilah dalam berbicara, berpikirlah dahulu sebelum perkataanmu menyakiti orang lain. Ia lembut seperti sutera namun berbisa seperti ular.
Niat baik pun ternyata bisa melampaui batas. Kalimat-kalimat cinta dan janji yang kamu ucap begitu saja justru menjadi senjata makan tuan. Dianggap melecehkan harga diri, membuat kamu harus berurusan dengan dirimu sendiri karena realitas yang tidak sesuai dengan lisanmu. Siapa sangka, kata-kata yang terlontar ringan dari lisanmu begitu dahsyat. Dampaknya membuat aku tersandung dan terancam selama empat tahun terakhir.
Bukan itu saja, kamu juga mendapat kecaman dari berbagai pihak, menjadi sasaran caci maki banyak orang, bahkan penghargaan-penghargaan yang pernah diraih sepanjang kariermu diputukan untuk dianulir. Canda yang membawa petaka. Betapa mengerikan.
Ada banyak bukti tergelincirnya hidupmu karena lisan yang tidak mampu kamu jaga. Maka tidak salah semua sabda, pepatah, juga petuah tentang bahaya lisan dan keharusan untuk menjaganya demi keselamatan hidup.
Jika ingin selamat, hanya ada dua pilihan. Berkata benar atau diam. Sebab ketika lisan telah mulai berkicau, kamu tidak pernah sadar telah berbicara panjang lebar, bahkan kamu lupa, tentang apa saja yang sudah kamu ucapkan.
Sebab lidah tidak bertulang, maka tidak mudah bagi kamu untuk mengendalikannya. Lisan bisa lebih kejam menusuk dan meyakiti, melebihi pisau belati. Bukan hanya raga, sukma pun akan lebih merasakan sakitnya. Bahkan mampu membuat hidup seseorang – aku – berubah haluannya.
Berhati-hatilah. Jangan sampai kamu melontarkan pernyataan dan pernyataan tanpa pertimbangan lagi. Jangan sampai lisanmu menjelma pedang yang menggores nurani banyak orang tanpa kamu sadari lagi. Jangan sampai lontaran lisan memantul sebagai senjata makan tuan dan menjadi sebuah penyesalan lagi.
Berita yang sempat ramai dibicarakan dan membuat heboh berbagai pihak tentang aku dan kamu, membuat aku ingin tetap berbohong pada semua orang bahwa kamu adalah orang yang sangat baik. Betapa kalimat sepele menjadi senjata makan tuan bagimu, karena terlontar dalam konteks dan ruang waktu yang tidak seharusnya. Tapi maaf, kebenaran harus tetap ada.
Sekarang aku mengerti.
Bahkan, dua insan yang dahulu berjalan bersama dengan penuh keyakinan pun bisa dipisahkan, hanya dengan lisan.
Aku mengerti kini. Tentang mengapa lidah disebut sebagai paling tajam di dunia. Ia mampu berbicara semuanya tanpa henti, tanpa batas. Hingga akhirnya sesuatu menancap di dalam hati, terlalu dalam, hingga menembus. Tetap begitu tanpa ada yang mampu mencabut dan menyembuhkan apa yang telah terluka parah.
Lidah Mertua Tanaman Pemurni Udara Alami
Kenalin tanaman anti-ribet yang wajib ada di rumah kamu: Lidah Mertua. Bukan cuma buat pajangan, tanaman ini adalah pemurni udara alami. Dia jago banget menyerap polusi dan menghasilkan oksigen, bahkan di malam hari. Cocok banget buat kamu yang sibuk. Cukup disiram seminggu sekali, dia bakal tetap tumbuh cantik di sudut ruangan. Rumah lebih estetik, udara jadi lebih bersih. Yuk, mulai pelihara…
Ada yang Mati di Tengah Pesta Itu
Ada yang mati di tengah pesta itu. Itulah peristiwa yang dicatat penulis Injil Markus. Pestanya memang bukan pesta kematian. Pestanya adalah pesta ulang tahun. Yang berulang tahun pun bukan sembarang orang. Ini adalah pesta ulang tahun seorang raja. Tragisnya, di pesta ulang tahun raja itu ada seorang yang harus mati karena raja tak mampu mengekang lidahnya. Dan ketika raja tak mampu…
Alhamdulillah Alloh Menjaga Lisan Kita Bagi Keselamatan Setiap Umat Nabi Muhammad #Dakwah #Islam
Segala puji bagi Allah, Rabb yang berhak disembah. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga akhir zaman. Semakin maju zaman, semakin manusia menjauh dari akhlaq yang mulia. Perangai jahiliyah dan kekasaran masih meliputi sebagian kaum muslimin. Padahal Islam mencontohkan agar umatnya berakhlaq mulia, di antaranya adalah dengan bertutur kata yang baik. Akhlaq ini semakin membuat orang tertarik pada Islam dan dapat dengan mudah menerima ajakan. Semoga Allah menganugerahkan kepada kita perangai yang mulia ini. Alhamdulillah Alloh Menjaga Lisan Kita Bagi Keselamatan Setiap Umat Nabi Muhammad Perintah Allah untuk Berlaku Lemah Lembut Allah Ta’ala berfirman, وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِلْمُؤْمِنِينَ “Dan berendah dirilah kamu terhadap orang-orang yang beriman. ” (QS. Al Hijr: 88) Syaikh Muhammad Al Amin Asy Syinqithi mengatakan, “’Berendah dirilah‘ yang dimaksud dalam ayat ini hanya untuk mengungkapkan agar seseorang berlaku lemah lembut dan tawadhu’ (rendah diri).”1 Jadi sebenarnya ayat ini berlaku umum untuk setiap perkataan dan perbuatan, yaitu kita diperintahkan untuk berlaku lemah lembut. Ayat ini sama maknanya dengan firman Allah Ta’ala, فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ الله لِنتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظّاً غَلِيظَ القلب لاَنْفَضُّواْ مِنْ حَوْلِكَ “ Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (QS. Ali Imron: 159). Yang dimaksud dengan bersikap keras di sini adalah bertutur kata kasar.2 Dengan sikap seperti ini malah membuat orang lain lari dari kita. Al Hasan Al Bashri mengatakan, “Berlaku lemah lembut inilah akhlaq Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang di mana beliau diutus dengan membawa akhlaq yang mulia ini.”3 Keutamaan Bertutur Kata yang Baik Pertama: Sebab Mendapatkan Ampunan dan Sebab Masuk Surga Dari Abu Syuraih, ia berkata pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, يَا رَسُولَ اللَّهِ، دُلَّنِي عَلَى عَمِلٍ يُدْخِلُنِي الْجَنَّةَ “Wahai Rasulullah, tunjukkanlah padaku suatu amalan yang dapat memasukkanku ke dalam surga.” Beliau bersabda, إِنَّ مِنْ مُوجِبَاتِ الْمَغْفِرَةِ بَذْلُ السَّلامِ، وَحُسْنُ الْكَلامِ “Di antara sebab mendapatkan ampunan Allah adalah menyebarkan salam dan bertutur kata yang baik.”4 Kedua: Mendapatkan Kamar yang Istimewa di Surga Kelak Dari ‘Ali, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Di surga terdapat kamar-kamar yang bagian luarnya dapat dilihat dari dalam dan bagian dalamnya dapat dilihat dari luar.” Kemudian seorang Arab Badui bertanya, “Kamar-kamar tersebut diperuntukkan untuk siapa, wahai Rasulullah?” Beliau pun bersabda, لِمَنْ أَطَابَ الْكَلاَمَ وَأَطْعَمَ الطَّعَامَ وَأَدَامَ الصِّيَامَ وَصَلَّى لِلَّهِ بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ “Kamar tersebut diperuntukkan untuk siapa saja yang tutur katanya baik, gemar memberikan makan (pada orang yang butuh), rajin berpuasa dan rajin shalat malam karena Allah ketika manusia sedang terlelap tidur.”5 Ketiga: Bisa menggantikan Sedekah Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ “Tutur kata yang baik adalah sedekah.”6 Dari ‘Adi bin Hatim, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, اتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ فَإِنْ لَمْ تَجِدُوا فَبِكَلِمَةٍ طَيِّبَةٍ “Selamatkanlah diri kalian dari siksa neraka, walaupun dengan separuh kurma. Jika kalian tidak mendapatkannya, maka cukup dengan bertutur kata yang baik.”7 Ibnul Qayyim mengatakan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan tutur kata yang baik sebagai pengganti dari sedekah bagi yang tidak mampu untuk bersedekah.”8 Ibnu Baththol mengatakan, “Tutur kata yang baik adalah sesuatu yang dianjurkan dan termasuk amalan kebaikan yang utama. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (dalam hadits ini) menjadikannya sebagai
mana sedekah dengan harta. Antara tutur kata yang baik dan sedekah dengan harta memiliki keserupaan. Sedekah dengan harta dapat menyenangkan orang yang diberi sedekah. Sedangkan tutur kata yang baik juga akan menyenangkan mukmin lainnya dan menyenangkan hatinya. Dari sisi ini, keduanya memiliki kesamaan (yaitu sama-sama menyenangkan orang lain).”9 Keempat: Menyelematkan Seseorang dari Siksa Neraka Dalilnya adalah hadits Adi bin Hatim di atas. Ibnu Baththol mengatakan, “Jika tutur kata yang baik dapat menyelamatkan dari siksa neraka, berarti sebaliknya, tutur kata yang kotor (jelek) dapat diancam dengan siksa neraka.”10 Kelima: Dapat Menghilangkan Permusuhan Ibnu Baththol mengatakan, “Ketahuilah bahwa tutur kata yang baik dapat menghilangkan permusuhan dan dendam kesumat. Lihatlah firman Allah Ta’ala, ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ “Tolaklah (kejelekan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.” (QS. Fushilat: 34-35). Menolak kejelekan di sini bisa dengan perkataan dan tingkah laku yang baik.”11 Sahabat yg mulia, Ibnu ‘Abbas –radhiyallahu ‘anhuma– mengatakan, “Allah memerintahkan pada orang beriman untuk bersabar ketika ada yang membuat marah, membalas dengan kebaikan jika ada yang buat jahil, dan memaafkan ketika ada yang buat jelek. Jika setiap hamba melakukan semacam ini, Allah akan melindunginya dari gangguan setan dan akan menundukkan musuh-musuhnya. Malah yang semula bermusuhan bisa menjadi teman dekatnya karena tingkah laku baik semacam ini.” Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Namun yang mampu melakukan seperti ini adalah orang yang memiliki kesabaran. Karena membalas orang yg menyakiti kita dengan kebaikan adalah suatu yang berat bagi setiap jiwa.”12 Berlaku Lemah Lembut Bukan Berarti Menjilat Perlu dibedakan antara berlaku lemah lembut dengan tujuan membuat orang tertarik dan berlaku lembah lembut dengan maksud menjilat. Yang pertama ini dikenal dengan mudaroh yaitu berlaku lemah lembut agar membuat orang lain tertarik dan tidak menjauh dari kita. Yang kedua dikenal dengan mudahanah yaitu berlaku lemah lembut dalam rangka menjilat dengan mengorbankan agama. Sikap yang kedua ini adalah sikap tercela sebagaimana yang Allah firmankan, وَدُّوا لَوْ تُدْهِنُ فَيُدْهِنُونَ “Maka mereka menginginkan supaya kamu bersikap lunak lalu mereka bersikap lunak (pula kepadamu).” (QS. Al Qalam: 9) Ibnu Jarir Ath Thobari menafsirkan ayat di atas, “Wahai Muhammad, orang-orang musyrik tersebut ingin kalian berlaku lembut pada mereka (dengan mengorbankan agama kalian) dengan memenuhi seruan untuk beribadah kepada sesembahan mereka. Jika kalian demikian, maka mereka akan berlaku lembut pada kalian dalam ibadah yang kalian lakukan pada sesembahan kalian.”13 Oleh karenanya, orang yang bersikap mudaroh akan berlemah lembut dalam pergaulan tanpa meninggalkan sedikitpun prinsip agamanya. Sedangkan orang yang bersikap mudahin, ia akan berusaha menarik simpati orang lain dengan cara meninggalkan sebagian dari prinsip agamanya. Hendaknya kita bisa memperhatikan perbedaan antara mudaroh dan mudahanah. Lemah lembut yang dituntunkan adalah dalam rangka membuat orang tertarik dengan akhlaq kita yang baik. Sikap pertama inilah yang akan membuat orang menerima dakwah, namun tetap dengan mempertahankan prinsip-prinsip beragama. Sedangkan lemah lembut yang tercela adalah jika sampai mengorbankan sebagian prinsip beragama dan mendiamkan kemungkaran tanpa adanya pengingkaran minimalnya dengan hati. Semoga Allah senantiasa menganugerahkan kepada kita tutur kata yang baik dan akhlaq yang mulia. Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna. Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.com Diselesaikan dengan anugerah Allah di Panggang-Gunung Kidul, 24 Muharram 1431 H Footnote:1 Adhwaul Bayan, Muhammad Al Amin Asy Syinqithi, 3/238, Dar Ilmi Al F
awaid.2 Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, 3/233, Muassasah Qurthubah.3 Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 3/232,4 HR. Thobroni dalam Mu’jam Al Kabir no. 469 (Maktabah Al ‘Ulum wal Hikam, cetakan kedua, 1404 H). Al ‘Iroqi dalam Takhrij Al Ihya’ (2/246) mengatakan bahwa sanad hadits ini jayyid (bagus). Syaikh Al Albani dalam As Silsilah Ash Shohihah (1035) mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih dan perowinya terpercaya.5 HR. Tirmidzi no. 1984 dan Ahmad (1/155). Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan.6 HR. Ahmad (2/316) dan disebutkan oleh Al Bukhari dalam kitab shahihnya secara mu’allaq (tanpa sanad). Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim.7 HR. Bukhari no. 6023 dan Muslim no. 1016.8 ‘Iddatush Shobirin wa Dzakhirotusy Syakirin, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, hal. 109, Mawqi’ Al Waroq9 Syarh al Bukhari, Ibnu Baththol, 17/273, Asy Syamilah.10 Syarh al Bukhari, 4/460.11 Syarh al Bukhari, 17/273.12 Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 12/243.13 Tafsir Ath Thobari, Ibnu Jarir Ath Thobari, 23/157, Tahqiq: Dr. Abdullah bin Abdil Muhsin At Turki, Dar Hijr. Sumber https://rumaysho.com/782-lemah-lembutlah-dalam-bertutur-kata.html بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْم – قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ – اَللّٰهُ الصَّمَدُۚ – لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْۙ – وَلَمْ يَكُنْ لَّهٗ كُفُوًا اَحَدٌ Allohumma solli ‘alaa muhammad, wa ‘alaa aali muhammad, kamaa sollaita ‘alaa aali ibroohim, wa baarik ‘alaa muhammad, wa ‘alaa aali muhammad, kamaa baarokta ‘alaa aali ibroohim, fil ‘aalamiina innaka hamiidummajiid. Allâhumma-ghfir liummati sayyidinâ muhammadin, allâhumma-rham ummata sayyidinâ muhammadin, allâhumma-stur ummata sayyidinâ muhammadin. Allahumma maghfiratuka awsa’u min dzunubi wa rahmatuka arja ‘indi min ‘amali. Alhamdulillah Alloh Menjaga Lisan Kita Bagi Keselamatan Setiap Umat Nabi Muhammad
Lidah Pecah: Ciri dan Cara Mengatasinya
Lidah Pecah: Ciri dan Cara Mengatasinya
BNews—KESEHATAN— Lidah pecah atau yang disebut juga fissured tongue adalah kondisi yang memengaruhi permukaan atas lidah. Lidah yang normal relatif datar di sepanjang permukaannya. Lidah pecah ditandai dengan lekukan yang dalam dan menonjol di tengahnya. Terdapat juga alur kecil atau celah di seluruh permukaan yang menyebabkan lidah tampak berkerut. Biasanya terdapat satu atau lebih celah dengan…
View On WordPress