Hujan adalah teman yang baik, bagi yang rindu, bagi yang dihidangkan kenangan-kenangan yang tidak ada habisnya.
Kala hujan, masih selalu ada alasan untuk rindu walaupun semuanya sudah berubah. Selalu ingat ketika dia mengatakan betapa bodohnya aku yang gemar menerjang hujan. Tanpa jas hujan yang aku kenakan. Kuyup. Betapa gilanya aku dengan gerimis yang datang di tengah perjalanan. Aku tetap melanjutkan perjalanan tanpa berhenti di pinggir jalan hanya untuk sekedar berteduh dan dia bilang aku bodoh, waktu itu.
Namun lucunya kami jadi sering menerjang hujan bersama, lucunya lagi dia berkata, “Berarti besok-besok kita tidak perlu mobil ya? Kamu kan suka hujan-hujanan di jalan,” dengan wajah yang masam. Semenjak hari itu aku rasa perlu jas hujan, demi meredam amarahnya yang sering melihatku selalu kuyup. Besar rasa khawatirnya, hingga suatu hari dia memutuskan untuk melepaskannya karena rasa khawatir tidak bisa membahagiakanku. Setahuku itu alasannya berhenti menghubungiku dulu.
Hujan tetaplah hujan, basahnya adalah rindu, rintiknya selalu ikhlas dijatuhkan, membuatku belajar untuk merelakan segala rindu dan cinta yang kemudian tidak bertuan.
Semenjak dia pergi, dengan kalimat pamitnya, dia pergi pada cita-cita yang akhirnya membuka mata. Semenjak kami dihidangkan jarak, aku jadi tidak begitu suka hujan di jalan, aku selalu berhenti untuk memakai jas hujan, aku tidak suka kuyup, aku sering mengeluh jika kehujanan, dan tentu memutuskan untuk bepergian menggunakan mobil sendirian.
Kepergianmu adalah luka untukku, sedang nuraniku kamu bawa, saat itu juga.
Dia sudah jadi candu bagiku, seperti kopi yang selalu kupesan dan milkshake vanilla yang selalu dia minum, hingga pelayan sering kali salah menaruhnya, tidakkah aku juga candu untuknya? Berjarak seperti membunuh perlahan, kabar yang sering dikirim tidak lagi ada. Lepas kendali kami.
Perihal merelakan, mungkin aku bukan ahlinya, aku tahu ikhlas itu tidak bisa diucapkan, namun aku lebih tahu bagaimana mengusahakan.
Lih, apa kabar hujan di sana? Tempat yang ingin sekali aku kunjungi, tempat yang begitu banyak indah yang sering kamu ceritakan dulu, tempat yang pernah kamu janjikan. Namun kemudian kamu tidak yakin apa bisa aku hidup di sana, kamu tidak yakin dengan janjimu sendiri.
Apa kabar hujan di sana? Apa setiap hujan yang berjatuhan di sana mengingatkanku? Si penerjang hujan, anak laki-laki yang tergila-gila padamu. Aku rasa tidak.
Aku menata kembali hari-hari tanpamu. Lih, kamu tahu? Semenjak kamu pergi, langit Bandung selalu abu-abu, seperti ditinggal harapan. Apa kamu membaca buku yang kutulis dengan semua lirik lagu tentang kita? Apa kamu masih menyimpan buku-buku yang aku tulis dan aku berikan sebelum kamu pergi untuk yang kedua kalinya? Kamu tahu, aku memang tidak pandai berbicara juga tidak pandai menahanmu, merayumu untuk tetap di sini.
Seperti hujan yang sering datang di musimnya, rindu pun sama, dan cinta ternyata punya masa kadaluarsa, itu benar.
Hari itu, aku pun kembali kecewa, tepat beberapa hari sebelum ospek himpunan, kamu menghilang. Malang sekali bukan? Tapi aku tidak pernah sedikit pun menyebutmu tega. Seperti tuduhanmu, sebelum menyampaikan kalimat perpisahan itu, kamu bilang aku tidak salah dan juga kamu tidak peduli bila aku menyebutmu tega, jahat, atau brengsek karena kamu berusaha mencoba mengikuti egomu. Ya kamu menerimanya, tapi bagaimana denganku, Lih? Aku mencoba menerima ribuan kali, meyakinkan nurani jutaan kali, menyadarkan diri, semenjak rasa sepi, rindu yang tidak banyak orang tahu, dan sakit yang semua orang tertawakan. Aku mencoba menerimanya tanpa menyebutmu tega.
Katanya seorang perempuan mudah meninggalkan karena tidak dihargai perasaaanya. Apa aku tidak menghargaimu?
Lih, boleh aku bertanya? Mengapa kamu selalu punya alasan untuk pergi? Bisakah kamu jawab pertanyaan sederhana itu? Apa aku juga tidak menghargaimu sebagai perempuan? Sedang aku tidak pernah meminta hal lebih, aku tidak pernah merengek memaksa, aku tidak pernah sekalipun mencoba menghakimi, kamu pun tahu laki-laki itu bukan aku.
Mata ini tidak menangis, airnya malu kepada hujan yang jatuh berulang-ulang. Tapi nurani, hanya Tuhan dan aku yang tahu. Bagaimana pecahnya, robek sudut-sudutnya, mengais keadilan, hanya karena terluka.
Tapi tenang, Lih. Aku merelakanmu. Seperti hujan yang selalu mengguyur tempo hari. Aku tidak keberatan luka ini ada untuk menjadi babak dalam hidup. Babak yang tidak pernah aku lupa, entah manis atau pahit.
Kamu yang masih aku tulis di setiap halaman. Kamu yang masih aku eja namanya. Kamu yang masih aku ucap namanya di sela rasa gaduh. Dalam nurani, meski bukan karenamu. Maaf karena masih selalu menulis.