Apa kabar?
Hari ini aku menangis lagi,
Sedih lagi.
Hujan lagi,
Gelap lagi.
Kapan, ya, pelangi itu muncul?
Bukannya sehabis hujan?
Monterey Bay Aquarium
untitled

Jar Jar Binks Fan Club
sheepfilms

No title available
EXPECTATIONS

roma★
Xuebing Du
🩵 avery cochrane 🩵
Interview Vampire Daily

titsay
h
cherry valley forever
macklin celebrini has autism

Kiana Khansmith
Show & Tell

Andulka

PR's Tumblrdome

Game Changer & Make Some Noise
Claire Keane
seen from Netherlands
seen from Türkiye

seen from Malaysia
seen from United Kingdom
seen from United States
seen from Japan
seen from Colombia

seen from Oman
seen from Australia

seen from Australia
seen from Saudi Arabia

seen from Australia

seen from Ecuador
seen from Brazil
seen from Vietnam

seen from Australia

seen from Australia
seen from United States

seen from Netherlands
seen from Australia
@sarahpunyakata
Apa kabar?
Hari ini aku menangis lagi,
Sedih lagi.
Hujan lagi,
Gelap lagi.
Kapan, ya, pelangi itu muncul?
Bukannya sehabis hujan?
Terkadang, ketika bermimpi, kita terlalu repot dengan segala kemungkinan terburuk yang bisa saja terjadi. Memang, punya rencana kedua itu baik.
Tapi sering kali, kita terlalu percaya dengan segala andai-andai yang buruk. Lalu lupa dengan mimpi yang indah.
Saya juga begitu.
Tidak apa untuk ragu dengan masa depan. Tapi jangan sampai lepas harap. Lalu menyerah. Lalu menyesal.
Hari Sabtu,
Bangun pagi,
Masih sejuk,
Masih tenang.
Kapan lagi gak punya deadline buat besok?
Lihat foto lama,
Jadi pengen, ya, balik lagi.
Kangen rumah,
Kangen juga orang-orangnya.
Kapan lagi, ya?
Meski di tengah kegelapan,
Masih ada cahaya yang membuat aku bertahan.
Meski dunia ini jahat,
Masih ada kebaikan yang kutemukan.
Kita belajar kalau hal yang kecil justru memberikan kebahagian terbesar. Lalu hal besar yang kita nanti-nantikan justru lebih cepat berlalu. Jadi hargailah semua hal yang diijinkan terjadi dalam hidup ini. :)
Masih muda, penuh ambisi
Masih muda, terus mencari posisi
Tak hilang semangat untuk mengejar mimpi
Menghabiskan hari untuk berandai-andai
Membuat skenario tentang yang nanti-nanti
Benarkah mimpi tak kenal umur?
Karena kalau hanya mengikuti alur
Aku pikir kita hanya akan jatuh tersungkur
Bagaimana jika semua bayangku hancur?
Akankah lebih baik jika aku mundur?
Waktu itu kita pernah berjanji
Kalau kita tak akan terganti
Meski musim datang dan pergi.
Aku tahu tidak ada yang abadi
Sama seperti kita
Dan semua janji-janji itu
Tapi malam membuatku berharap lagi
Ternyata, kalau malam tak pernah berakhir
Begitu juga mimpi-mimpiku
Tentangmu
Tentang kita
Yang tak seperti dulu lagi
Hari ini hujan lagi,
Kelabu lagi,
Sendu lagi.
Katanya,
Kalau hari ini abu-abu,
Besok matahari akan bersinar lebih terang.
Benarkah?
Ternyata, pengalaman buruk yang justru membuat saya menjadi kuat. Jadi benar, kalau semua hal terjadi untuk sebuah alasan. Tetapi, bolehkah saya melewati pencobaan yang ini, Tuhan?
Pernah merasa hampa, seperti hidup untuk rutinitas saja. Mungkin kita belum menemukan yang membuat kita bahagia. Tidak sekarang, tapi pasti nanti.
Kalau aku pergi untuk melepas,
Akankah menyesal karena tak lagi menggenggam erat tangan itu?
Kalau aku kembali untuk melekat,
Akankah bahagia jika semuanya seperti dulu lagi?
Mimpi.
Selama ini aku hanya menjadi bayang-bayangnya. Merasa harus bisa melakukan apa yang dia lakukan. Aku pikir aku sudah cukup, tetapi ternyata belum.
Kok, mengambil waktu dua hari saja untuk bermalas-malasan dan tidak mengerjakan apa-apa rasanya seperti berbuat dosa, ya? Padahal sepertinya saya sudah kerja keras selama ini. Kenapa istirahat malah membuat saya merasa bersalah?
Kalau sudah terbiasa untuk tidak bergantung pada orang lain, maka kita tidak mudah dikecewakan. Meski tetap sulit ketika ada sebuah mujizat yang tak pernah terpikirkan, lalu tiba-tiba tidak sesuai dengan harapan. Salahkah saya bila kecewa?
Apa rasanya ya, duduk di kursi dengan sandaran tinggi itu? Atau berjalan di karpet merah setelah dibukakan pintu yang tingginya seolah tidak ada batasnya. Jalan memandang hanya ke depan, sementara kanan kiri penuh dengan orang yang menunduk. Apa rasanya ya, berada di tempat tertinggi, dan kalau jatuh, masih tetap ada di atas?
Seberat apa beban yang harus dipikul, untuk layak duduk di sana? Haruskah saya memberanikan diri untuk bermimpi agar sampai di sana? Atau puas saja dengan “biasa-biasa” saja seperti sekarang ini?
Sedang lelah sekali. Terkadang, lupa waktu kalau tidak diingatkan dengan bunyi alarm perut. Meski rasanya mengantuk, mata masih harus terus terbuka, seolah menolak sendiri untuk menutup. Istirahat? Mungkin secara fisik masih bisa. Bagaimana mentalnya? Tuntutan ini itu, beban pikiran satu dan yang lain.
Semoga lekas selesai, wahai tumpukan deadline.
Sekali-kali, mengeluh untuk melegakan hati tidak apa, ya? Daripada ditumpuk lalu membusuk. Lebih baik dilepas agar tidak membekas.
Boleh tolong berubah dulu, sebelum minta orang lain untuk berubah? Coba lihat di kaca, mungkin kamu cuma lihat noda di baju orang, padahal yang ada di baju sendiri lebih besar.