Si Anak Rantau
Di tempat dimana bintang yang jadi atap, ia terpekur. Mata nya berkaca-kaca. Beruntunglah, hujan berkawan dengannya malam ini. Jadilah samar air matanya.
"Ingat nak, kita terlahir sebagai manusia, maka tak bisa memaksa jadi bunga. Kita tak akan bisa sehalus kapas, sebab bukan itu tujuan kita dilahirkan. Jangan pernah memaksa nak, sesungguhnya hidup ini dipilihkan."
Berat bu, aku tak sanggup
“Kelak kau akan jadi penghubung antara mimpi dengan tuannya. Kau yang akan jadi jalan, mengantarkan setiap harapan pada rumahnya. Seperti namamu sayang, Akasha. Tak perlu nampak, tapi berdampak.”
Asal kau tahu, ini lapisan terakhir pertahananku bu.
“Jadilah kuat. Untuk dirimu sendiri. Kemudian untuk ibu. Untuk orang-orang yang tersenyum tiap kali melihatmu. Untuk mereka yang kehilangan kesempatan sebelum memulai perjalanan panjangnya. Dan untuk segala sesuatu yang pernah dan akan singgah dalam hidupmu.”
“Ketahuilah, karena hidup ini dipilihkan, kuncinya hanya satu. Enggak akan berubah sampai berabad-abad kedepan. Ikhlas nak. Penuhi hatimu dengan keberanian. Pupuk ia sampai tumbuh dewasa. Jangan biarkan layu.”









