Si Tokoh Utama di Setiap Kisah
“Cing, kau berani lakukan sesuatu?”
“Tidak Meng, sepertinya dia masih melihatku,” matanya mengawasi ke berbagai penjuru.
Meong menghela napasnya. Harus berapa lama lagi menunggu disini. Pikirnya
“Cing, apa kita tendang saja pintu itu? Kelihatannya rapuh,”
“Cing atau kita panjat saja? Kupikir kita cukup kuat untuk memanjat pilar itu,”
“Cing ingatlah kita ini makhluk hidup, butuh makan, buang air, mau sampai kapan kita bertahan hah?!”
“Cing kenapa diam saja? Sedari tadi aku memberikan solusi tapi tanggapanmu sama sekali tidak membantu.” Ucap Meong jengkel.
“Aku harus seperti itu karena tugas ku begitu.”
Dasar Kucing telmi, lagi-lagi salah sambung.
Jujur, tingkah Kucing membuat alis Meong mengerut. Akhirnya, Meong berinisiatif untuk pergi keluar sendirian.
“Kau mau ikut tidak? Atau jangan-jangan keluar dari tempat ini bukan tugasmu juga?” Tanya Meong.
Kucing bergeming. Tangannya terangkat memegang kuping. Seperti mendengar sesuatu. Cih gayanya seperti intel saja.
OH ATAU MUNGKIN DIA BETULAN INTEL?!
Sekali lagi Meong memastikan Kucing sebelum meninggalkannya pergi dari gudang tua berhantu ini.
“....aku ingin. Tapi nanti aku dipecat.” Ratapnya sedikit gelisah.
“Jadi kau betulan intel?!” Mata Meong yang tidak terlalu besar, mendadak melotot seperti ingin keluar.
“Bukan. Dipecat jadi anak.”