Hujan yang turun adalah rahmat. Namun jika kemudian yang datang adalah banjir, jangan-jangan dosa kita penyebabnya.
Taufik Aulia
Monterey Bay Aquarium

shark vs the universe
🪼
d e v o n
Keni
No title available
TMBGareOK. The Official They Might Be Giants tumblr
RMH

tannertan36
almost home

Game Changer & Make Some Noise

oozey mess
No title available
Cosimo Galluzzi
noise dept.
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open
Mike Driver
sheepfilms
The Bowery Presents
Lint Roller? I Barely Know Her

seen from United States
seen from Nigeria

seen from Malaysia
seen from Germany

seen from Canada

seen from Egypt
seen from Colombia
seen from Indonesia
seen from Malaysia

seen from Indonesia

seen from Belgium
seen from China
seen from Brazil
seen from Brazil
seen from Iraq
seen from Indonesia
seen from Philippines
seen from United States
seen from China

seen from United States
@zaraahellexa
Hujan yang turun adalah rahmat. Namun jika kemudian yang datang adalah banjir, jangan-jangan dosa kita penyebabnya.
Taufik Aulia
"Kehilangan.."
Cukup hanya aku yang merasa kehilangan, kehilangan banyak waktu yang seharusnya aku habiskan dalam kebermanfaatan.
Cukup hanya aku yang merasa pilu ketika melihat jarum jam berdetak maju..
Seharusnya membuat diri lebih banyak mengingat tentang sesuatu yang tidak dapat dihadapi dengan apapun kecuali hanya dengan bersiap menyambutnya.
Jiwa justru akan tenang ketika mempersiapkan diri untuk hari itu, ketimbang merasa panjang angan.
Time flies so fast. How did it get so late so soon?
"Love doesn't mean to possess."
Hmmm.
Hujan, 22.21 | 9 Desember 2019.
Jangan kecewakan orang baik
Jangan sia-siakan orang baik, karena yang memiliki hati sepertinya tidak banyak, karena nanti kalau dia sudah pergi kamu susah cari laginya.
Jangan bikin orang baik marah, karena sekalinya dia marah dia tidak mungkin membencimu. Dia hanya akan diam, diam-diam sampai dia pergi untuk selamanya.
Jangan lukai orang baik, karena kalau hatinya sudah terluka dia hanya bisa menangis, menangis sampai menghapusmu dari matanya membuat perasaanya jauh lebih tenang.
Jangan kamu anggap lemah orang baik, karena ketika hadirnya sudah tidak dianggap, dia lebih tahu bagaimana harus bersikap, ke mana dia harus pergi. Dia tidak akan memaksamu.
Jangan meninggalkan orang baik karena ada yang lebih menarik, karena belum tentu yang lebih menarik bisa bikin kamu lebih nyaman.
Belum tentu yang lebih menarik bisa lebih menghargai dan menerimamu apa adanya.
Mencari yang lebih menarik tidak akan ada habisnya. Kamu hanya perlu berhenti kepada seseorang yang membuatmu mengatakan cukup.
—ibnufir
Seks Bebas Dibela, Poligami Dihina
Gak terima kalau negara ikut ngatur urusan privat a.k.a selangkangan. Tapi giliran ada anggota dewan punya istri tiga, nyinyir gak ketulungan. Ngaku pro LGBT, tapi anti sama poligami. Anda ini, mau melindungi urusan privat orang atau emang gak suka aja sama agama dan moral manusia?
Saya gak ada masalah dengan ide bahwa negara gak boleh ikut campur urusan privat warganya. Silakan aja beraspirasi begitu. Tapi tolong, konsistenlah sedikit.
Once kamu udah punya prinsip, konsistenlah di situ. Kalau gak konsisten, wajar banyak orang curiga. Jangan-jangan kebebasan yang kamu perjuangin cuma buat kamu dan teman-temanmu aja. Cuma buat selangkanganmu.
Ada yang bilang, "Halah munafik, sembunyi di balik kedok agama cuma buat muasin nafsu birahi."
Tolong akalnya dikondisikan. Itu bukan sembunyi, tapi terang-terangan. Terang-terangan nikah. Terang-terangan mau menyalurkan hasrat seksual, terang-terangan mau berkeluarga, terang-terangan mau punya anak, terang-terangan mau ngasih nafkah. Terang-terangan sah di hadapan negara dan agama. Di mana munafiknya?
Justru, seks bebaslah yang sembunyi di kamar kos, hotel, atau semak-semak. Sembunyi dari keluarga, sembunyi dari masyarakat, sembunyi dari negara, dan sembunyi dari agama. Jadi, yang munafik siapa?
Terserah deh mau ngotak-ngotakin moralis, agamis, liberalis, atau sekularis. Konsisten aja kalau punya prinsip. Yang gak mau urusan privatnya diatur-atur, mestinya juga malu buat ngatur-ngatur pilihan orang lain buat poligami.
Orang yang berpoligami dan bertanggung jawab atas semua istrinya, buat saya dia lebih mulia dari pada yang nge-seks bebas sembunyi-sembunyi yang kalau hamil disebutnya malah kecelakaan. Kecelakaan kok disengaja. Ya iyalah, aturan lalu lintas dilanggar sih.
— Taufik Aulia
Kata Satrio
Wejangan ibu saya dulu yang diwarisi dari para sesepuh tentang anak gadis yang masuk usia menikah :
Wanita itu lebih baik dicintai daripada mencintai.
Maksudnya, wanita itu lebih baik dinikahi lelaki yang mencintai dia meski si wanita belum cinta. Daripada ngebet minta dinikahi lelaki yang ia cintai setengah mati. Karena jika wanita dicintai suaminya, maka si suami akan memuliakan dia dan kelak lambat laun si wanita akan jatuh cinta sebab sudah kodratnya wanita itu mudah jatuh cinta.
Beda kalau si wanita yang ngotot minta dinikahi, kelak lambat laun batinnya akan tersiksa sementara nasi sudah jadi bubur, masa muda tak bisa berulang. Konon begitu.
Konon begitu katanya…
Dalam Islam, kita tidak pernah Allah pinta memilih demikian. Karena Allah, sangat-sangat mencintai hamba-Nya hingga dibuatlah sebuah ketentuan syari'at di mana kita diminta untuk menjaga hati sebaik-baiknya agar tidak ‘jatuh’ pada tempat yang bukan seharusnya.
Siapapun, yang mengamalkan ini insyaallah ga perlu dipusingkan dengan perkara ini. Kita punya hukum syar'i yang sangat luar biasa.
Kepada siapapun, perempuan. Mari jaga hati dengan baik. Insyaallah pada waktunya kelak kita tidak hanya akan ‘dijatuhkan’ hatinya kepada lelaki yang tepat. Tapi juga, buah dari ikhtiar penjagaan kita, akan Allah limpahkan nikmat cinta yang penuh keberkahan tak hanya dari suami tapi juga keluarga mertua serta anak-anak kita kelak. Insyaallah aamiin.
Jadi seperti hujan, ya? Yang hanya menjatuhkan airnya di tempat yang Allah kehendaki. :)
Boleh saya berpendapat juga disini? Saya setuju dengan kak @coretannyaluluk bahwa dalam Islam, seorang wanita tidak harus demikian. Kita dapat melihat bagaimana ibunda Khadijah Radhiyallahu ‘anha yang “tertarik” atau dengan nama lain “jatuh hati” kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau “melamar” Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam melalui perantara. Ini diartikan bahwa seorang muslimah dalam Islam pun mempunyai hak untuk mencintai seorang lelaki karena kebaikan agama dan akhlaknya. Asalkan seorang perempuan tahu sejauh mana batasannya sesuai syari’at. Karena soal mencintai ataupun dicintai, diibaratkan seperti seekor burung, lebih perlu sayap kiri atau sayap kanan?
Karena dicintai dan mencintai itu sesuatu yang tidak dapat dibedakan mana yang lebih kita perlukan. keduanya adalah kebutuhan setiap insan, seperti halnya burung. Ia butuh kedua sayapnya agar bisa terbang.
Tentunya jika seorang lelaki yang baik ilmu agama dan akhlaknya (termasuk kemapanan karakternya), maka insya Allah akan memuliakan istrinya.
Biar lebih mudah dipahami, saya artikan kata cinta dengan sebuah kata ketertarikan/kecenderungan. Dan kecenderungan itu bisa disebabkan karena banyak hal, bisa karena parasnya, bisa karena harta atau kedudukannya, bisa juga karena kebaikan agamanya. TAPI di sini Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam lebih menekankan agar menikahi seseorang yang ada kecenderungan terhadap kebaikan agamanya.
Saya yakin, banyak yang sepakat bahwa perasaan hati tidak bisa dibeli atau dipaksa. Memang cinta bisa disemai, dan bisa dirajut, walaupun tidak cinta. Namun tentu saja itu bukanlah hal yang mudah, perlu perjuangan. Dan kalau cinta atau ketertarikan sudah ada, menikah akan menjadi solusi yang paling indah bagi keduanya. Seperti sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam: . لم ير للمتحابين مثل النكاح “ . “Tidak ada ikatan yang lebih baik bagi kedua orang yang telah saling mencintai dibanding pernikahan.” (HR. Ibnu Majah dll)
Akan berbeda jika sebelumnya tidak ada ketertarikan sama sekali, ketika ‘ujian’ dalam pernikahan datang (dalam setiap pernikahan pun dikatakan pasti ada ujiannya), mungkin perselisihan bisa menjadikan keduanya lebih sulit dalam menjalaninya karena tidak ada keterikatan batin sebelumnya.
Dan saya setuju dengan anti @andromedanisa di bagian: “wanita jangan sampai ngotot minta dinikahi.”
Karena Allah telah memerintahkan untuk mengelola rasa cinta dengan benar. Bukan diumbar sebelum “akad”, tetapi niat dan jalannya harus sesuai dengan keinginan Allah, agar ridha yang kita raih.. bukan murka-Nya.
Tulisan ini lahir ketika dalam satu diskusi saya dengan beberapa teman kantor. Saat itu teman kantor saya yang bernama satrio memberikan wejangan kepada mereka yang beberapa diantaranya belum menikah.
Tulisan inipun masih ada kelanjutannya, perihal benarkah harus demikian? apakah Islam juga mengharuskan demikian?
Dan menurut saya wajar sebenenarnya jika konteks penyampaian ini disampaikan dilingkungan kantor yang mana orang-orang yang terlibat didalamnya memiliki banyak pendapat dan latar belakang suku, ras ataupun agama yang berbeda-beda.
teman saya Satrio memberi wejangan yang mana menurut pengalaman dan nasihat yang ia terima. dia menjawab dari segi rasa “kemanusiaan” bukan melihat pada satu golongan agama yang ia anut.
Tapi terimakasih loh kak @coretannyaluluk dan kak @gsatriaandika sudah mau menambahkan apa-apa yang ingin saya tuliskan.. Intinya, memilih atau dipilih, mencintai atau dicintai adalah sebuah keputusan. semuanya adalah baik jika dilandasi dengan landasan yang benar dan dilabuhkan dengan akhir yang benar pula yaitu pada ridha Allah Ta’ala..
La hawla wa laa quwwata illaa billaah, manis sekali :’
Pergi
Aku tidak menahanmu pergi—ataupun menginginkannya. Setiap jalan yang kamu pilih, itu sepenuhnya pikiran kita bersama. Tetiap sendu dan bahagia yang kita bicarakan, telah tumbuh luka di antara. Hanya hujan yang kemudian terus menderas di mata, sedangkan tanganku telah membeku untuk menyapunya. Kita terlahir kembali sebagai sepasang yang bisu—melupakan percakapan demi percakapan itu. Kamu yang menciptakan pilihan pergi itu—semesta menjadikannya kian nyata. Sedangkan aku hanya menetap di sini, dengan segala semoga kamu bertahan. Namun, pada akhirnya, kebisuan dan luka di antara yang membuatmu pergi; kita dengan ego masing-masing. Mungkin, kamu memang lebih baik tanpaku.
Pahamilah, sehebat apapun ilmu seorang istri, sekaya apapun harta orang tua sang istri, sepintar apapun sang istri, tetap setelah ijab qobul surgamu berpindah ke suamimu. Maaf, walaupun suamimu tidak mempunyai gelar akademisi, tetap muliakanlah suamimu. Pintu surgamu sudah berpindah.
Teruntuk kamu yang akan menikah atau sudah menikah, balajar menjadi sakinah mawaddah warohmah itu bukan sebulan atau tahunan, tapi sampai kamu dan pasanganmu nanti salah satunya terpisah karena kematian, dan keduanya ridho atas takdir. Hingga terkumpulkannya kembali di surga. Ingat, menjadi baik dan berakhir baik itu tidak instan.
@jndmmsyhd
Ini yang lebih menarik dari cerita KKN desa penari
Wallahua'lam
(Berikut adalah tulisan yang saya copas dari akun facebo*ok kak Ocktavia, semoga Allah memberkahinya dan penulis aslinya. Bersebab cerita ini sedang ramai diperbincangkan sehingga memunculkan opini bahwa “lewat tempat angker harus permisi,” dsb. Laa hawla wa laa quwwata illa billah.. semoga menemukan jawabannya disini.)
Sempat baca cerita KKN penari yang sedang viral, menurut saya ada kemungkinan kisah itu benar. Tapi yang menjadi pertanyaan, mengapa Bangsa Jin di desa itu bisa menjadi begitu kuat dan menguasai masyarakatnya? Bukankah manusia seharusnya lebih tinggi derajatnya?
Jawabannya karena di desa itu saya lihat, Bangsa jin sudah lama disembah dan dipuja manusia. Masyarakatnya gemar merendahkan diri dihadapan Jin. Jadi Jin semakin bertambah kekuatan dan merasa besar dihadapan manusia jahil yang berbuat syirik
Coba lihat hantu di negeri-negeri Arab, tentu tidak seseram dan sebanyak jenis hantu dipulau Indonesia yang sangat bermacam-macam jenis dan bentuknya.
Karena di Jawa bangsa Jin sudah sering disembah dan dipuja dengan hal klenik, kejawen dan kemistisan sehingga mereka bertambah besar.
Sejatinya Jin takut kepada manusia, apalagi jika manusia itu beriman dan hanya menyandarkan kekuatan kepada Allah, seperti setan sangat takut dengan Umar bin Khattab, sampai-sampai ketika diketahui melewati Umar suatu jalan Setan melewati jalan yang lain.
Penampakkan Jin dan gangguannya sudah ada sejak dulu, termasuk dimasa Rasulullah, tapi kita akan saksikan dimasa itu bangsa jin bertekuk lutut dan dihinakan, tapi mengapa sekarang justru banyak manusia yang bertekuk lutut kepada jin?
Jin pernah menampakkan diri dihadapan Rasulullah dengan membawa obor api dengan bermaksud menyakiti, Rasulullah kemudian menangkapnya dan hendak mengikatnya sampai pagi. Tapi tidak jadi karena teringat doa nabi Sulaiman. (Riwayat ini terdapat dalam Shahih Bukhari no 3423)
Ketika Khalid bin Walid hendak menghancurkan berhala Uzza yang selama ini disembah masyarakat Arab, muncul jin penunggu patung Uzza berbentuk wanita tua telanjang berambut acak-acakan hendak lari. Setelah itu Khalid membunuhnya. (Riwayat ini terdapat dalam Sunan An Nasa'i)
Jin juga pernah hendak mencuri harta zakat, namun tertangkap tangan oleh sahabat Abu Hurairah, beliau mengancam akan melaporkan jin itu kepada Rasulullah, ia ketakutan dan mengemis iba hingga akhirnya mengajarkan kepada Abu Hurairah ayat kursi sebagai perlindungan dari kejahatan mereka. (Kisah ini diriwayatkan dalam Shahih Bukhari no 2311)
Kisah jin yang mencuri ini juga populer dalam masyarakat kita dengan sebutan tuyul.
Intinya, Allah telah menciptakan manusia lebih tinggi dari kebanyakan makhluk termasuk Bangsa jin.
Maka manusia tak boleh merendahkan diri kepada mereka.
Semakin merendah dan menghinakan diri manusia dihadapan Jin, maka ia akan semakin besar dan berkekuatan. Merasa diatas angin untuk memperbudak manusia.
Apalagi jika manusia memohon perlindungan kepada mereka dengan mempersembahkan sesajen, tumbal dan hal-hal lain yang tergolong syirik seperti yang dilakukan oknum masyarakat desa penari dalam kisah itu, Makin senang dan angkuhlah mereka dalam memperbudak manusia.
"Dan sesungguhnya ada beberapa orang laki-laki dari kalangan manusia yang meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki dari jin, tetapi mereka (jin) menjadikan mereka (manusia) bertambah sesat." (QS. Al-Jinn:6)
Berlindung kepada Setan, bukan dengan meminta perlindungan pula dari Syetan, itu haram bahkan syirik.
Memohonlah kepada Allah, sebab setan sejatinya lemah, tapi jika ia dipuja maka akan menjadi besar.
"Jika setan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui"(QS. Fushilat: 36)
Katakanlah: “Ya Tuhanku aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan Setan. Dan aku berlindung (pula) kepada Engkau ya Tuhanku, dari kedatangan mereka kepadaku" (QS. al-Mukminun: 97–98).
Dalam hadits dinyatakan,
"Jangan kamu mengucapkan ‘celaka setan’. Karena ketika kamu mengucapkan kalimat itu, maka setan akan membesar, hingga dia seperti seukuran rumah. Setan akan membanggakan dirinya, ‘Dia jatuh karena kekuatanku Namun ucapkanlah, ‘Bismillah’ karena jika kamu mengucapkan kalilmat ini, setan akan mengecil, hingga seperti lalat. (HR. Ahmad 21133, Abu Daud 4984)
Ath Thawawi mensyarah (menjelaskan hadits ini):
Rasulullah melarang hal itu, karena ucapan itu akan membuat setan bangga, dia menyangka kecelakaan itu disebabkan diri setan, padahal sejatinya bukan darinya.
Namun datang dari Allah. Dan Nabi memeritahkan untuk menggantinya dengan ucapan ‘Bismillah..’ sehingga setan tidak mengganggap bahwa kecelakaan itu darinya dan dia memiliki peran dengannya" (Musykil al-Atsar, 1/346).
Di desa penari itu dan menjadi fenomena banyak masyarakat, ketika melewati tempat angker bukan berlindung kepada Allah, tapi dengan ucapan yang menjurus syirik seperti "Kulo nuwun mbah, aku wedi", atau "pang numpang lewat" dan perkataan semisal.
Jelas dengan demikian Setan semakin merasa jumawa makhluk yang selama ini Allah istimewakan bernama manusia justru malah menghinakan diri dihadapannya.
Ini seperti terjadi dalam masyarakat Arab Jahiliah pra Islam dulu, setiap mereka melewati suatu tempat angker mereka mempersembahkan sesuatu.
Atau membaca mantra-mantra syirik sebagai tolak bala', memohon perlindungan kepada penghuni tempat tersebut.
Sampai Islam datang dan memurnikan tauhid. Rasulullah datang mengajarkan kita suatu doa,
“Barangsiapa yang singgah di suatu tempat lantas ia mengucapkan “a’udzu bi kalimaatillahit taammaati min syarri maa kholaq” (Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan makhluk yang diciptakanNya)”, maka tidak ada sama sekali yang dapat memudhorotkannya sampai ia berpindah dari tempat tersebut” (HR. Muslim no. 2708).
Jika suatu masyarakat telah dikuasai kesyirikan, jauh dari iman dan tauhid.
Maka setan akan semakin besar dan berkuasa memperbudaknya. Islam menentang keras kesyirikan, dan juga wahana-wahana yang bisa jadi perantara kepadanya.
Seperti situs-situs kesyirikan, Khalifah Umar bin Khattab merobohkan pohon tempat ba'iatur ridwan karena ada indikasi mulai dikeramatkan oleh masyarakat.
Sebab pemimpin yang baik memprioritaskan keselamatan akidah umat, sebab itu kunci kebahagiaan akhirat.
“Aku mendengar Isa bin Yunus mengatakan, “Umar bin Al-Khaththab radhiallahu ‘anhu memerintahkan agar menebang pohon yang Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam menerima baiat (Bai’atur ridhwan) kesetiaan di bawahnya dikenal dengan pohon Syajaratur ridhwan Ia menebangnya karena banyak manusia yang pergi ke sana dan shalat di bawahnya, lalu hal itu membuatnya khawatir akan terjadi fitnah (kesyirikan) terhadap mereka.” [Al-Bida’u wan-Nahyu ‘Anha, 42. Al-I’tsihâm, 1/346]
Itu baru berpotensi, Khalifah Umar sudah menebangnya demi menjaga tauhid umat dari keterjerumusan.
Terus bagaimana jika sudah dikeramatkan?
Tentu lebih darurat lagi untuk dimusnahkan.
Dan teladan ini diikuti oleh Khilafah akhir zaman. Tapi media berteriak bahwa Khilafah teroris, sama pohon aja kejam apalagi sama makhluk katanya.
Pict : Junud Daulah menebang pohon keramat di Suriah dan menancapkan bendera tauhid.
Jika disuatu masyarakat terpancang tauhid yang kokoh, setan tidak akan berdaya dan lemah seperti lalat.
Tapi jika disuatu masyarakat kesyirikan merajalela, setan disembah dan dipuja maka ia akan jumawa.
Sebab sejatinya setan itu lemah, tapi senjata terakhir setan yang lebih berbahaya daripada mereka yang ghaib adalah ketika ia berhasil menghasut setan-setan dari kalangan manusia untuk memadamkan kebenaran dan berbuat kerusakan.
Ini jauh lebih berbahaya dari setan ghaib.
Seperti dimasa Rasulullah, setan menjelma menjadi seorang tua bijaksana dari tanah Najd, lalu menghasut para pemuka Quraisy yang sedang bermusyawarah untuk menemukan cara bagaimana menghadapi pengaruh beliau, setan yang menyamar itu mengusulkan agar Rasulullah dibunuh saja.
Lalu atas dasar usulan itu, para pemuka Quraisy memburu Rasulullah untuk membunuhnya yang menjadi salah satu sebab beliau hijrah ke Yastrib.
Semoga bermanfaat dan menambah wawasan.
Sebenarnya masih ada yang mau ditanggapi.
Diantaranya mengenai dunia perdukunan dan nasib akhir orang yang menjual iman demi ilmu hitam.
Tapi takut kepanjangan, mungkin di lain waktu.
Insyaa Allah.
Wallahua'lam bish shawab
MutiaraDabiq🌸
—
Dengan beberapa pengeditan, @aviliaarmiani
Betapa banyak manusia merasa sakit ketika jatuh dalam pandangan manusia, tetapi tidak peduli ketika jatuh dalam pandangan Allah. Padahal Tatapan Allah senantiasa mengiringi langkah bahkan hembusan nafas
Syekh Akbar Muhammad Fathurrohman
Padahal dari semua yang mengetuk, cuma kamu yang aku izinkan masuk.
Padahal dari semua yang permisi, cuma kamu yang aku izinkan mengisi.
Padahal dari semua yang basa-basi, cuma kamu yang aku izinkan berada disisi.
Padahal dari semua yang melirik, cuma kamu yang membuatku tertarik.
Padahal dari semua yang mendekat, cuma kamu yang membuatku terpikat.
Padahal dari semua yang datang, cuma kamu yang kuharapkan tak pernah hilang.
Padahal dari semua yang silih berganti, cuma kamu yang bertahan di hati.
Padahal dari semua yang menyapa, cuma kamu yang menyisakan tawa.
Tau Tidak?
Tau tidak? Berapa orang yang gigit jari atau meringis, yaa paling tidak senyum kecut setelah melihat postingan yg kau kirim.
Tau tidak? Berapa pula yang terpaksa meredam rasa iri nya dan mati-matian memantik rasa ikhlas dari dalam jiwa agar tak menjadikan dirimu sebagai pembandingnya.
Bahkan,
Tau tidak? Ada berapa banyak yang menahan rasa kecewanya dan mengubur dalam-dalam harapanya karena hatinya yang kembali patah.
Tau tidak? Ada banyak mimpi yang harus disiasati tumpukan asa yang harus kembali ditata.
Semoga aku, kamu, dan semuanya bisa sama-sama menjaga rasa. Bahagia yang mana yang harus dibagikan.
Selamat mengembara.
Selamat mengelola rasa,
Menjemput bahagia.
Kepada siapapun yang sedang dalam fase keduanya atau salah satu diantaranya.
Khusnasani, 30 Agustus 2019
[Bahagia]
Ada sebagian orang—yang untuk—merasa bahagia, mereka harus pergi ke luar kota. Dan sebagian yang lain, bahagia, bagi mereka, “...sederhana.”
“Bahagia itu disini,” menepuk dadanya. “Jiwa yang mengenal Allah, jiwa yang menghamba dengan sepenuhnya kepada Allah.” Barangkali, demikianlah yang akan dikatakan orang-orang yang mampu merasakan bahagia dengan sederhana. Maa syaa Allah..
Untuk bahagia, kita kira sejauh apakah kaki harus melangkah? Sedangkan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullahu Ta’ala pernah berkata ketika berada di dalam penjara, “Seandainya benteng ini dipenuhi dengan emas, tidak ada yang bisa menandingi kenikmatanku berada di sini.”
Jiwa-jiwa yang tetap merasa tenang, jiwa-jiwa yang tetap teguh dalam pendirian. Jiwa yang bersabar, jiwa yang ikhlas, jiwa yang jujur, jiwa yang setelah maksiatnya segera kembali dan bertaubat kepada Rabb-nya.
Merekalah, yang memiliki kebahagiaan yang sejati. Bahagia yang tidak harus dicari lagi, bahagia yang tidak akan meninggalkannya pergi. Bahagia yang tidak membutuhkan harta untuk dibeli.
Orang-orang seperti ini, dengan melihatnya saja akan menumbuhkan getaran di dalam hati. Seolah bahagianya terpancar, menular.. Maa syaa Allah, laa quwwata illa billah..
“Seandainya,..” Demikian ujar seorang salaf, “..seandainya para raja dan pangeran itu mengetahui kenikmatan yang ada di hati kami ini, tentu mereka akan menyiksa kami dengan pedang.”
@aviliaarmiani
Yang akan menghentikan seseorang, bukan kegagalan, tetapi keputusasaan. Yang akan membuat manusia berhasil, bukan hanya harapan, melainkan juga keteguhan
- Manusia terlangka di bumi.
Tawakal itu berusaha sampe mentok gak ada jalan baru pasrah sama Allah. Kalau masih ada jalan terus pasrah sama Allah namanya nyerah.
Kemarin.
Waktu itu, ketika aku masih punya banyak waktu untuk mu, kamu bersikap acuh. Menganggap bahwa aku akan terus berada di sana menunggumu. Padahal waktu terus bergulir, menyisakan sedikit sesal dalam dirimu karena sudah sempat menyia-nyiakan aku.
Dulu sekali aku merengek meminta waktmu lebih banyak. Namun kamu bersikap biasa saja, seolah tidak penting. Padahal kamu tahu, hadiah terbaik yang bisa diberikan seseorang kepada yang dicintainya ialah WAKTU, bukan materi, uang dan setumpuk harta lainnya.
Jadi jika saat ini kalian yang sedang membaca ini telah menemukan seseorang yang sesempit apapun waktunya ia selalu memberikan sebagian waktunya untukmu pertahankanlah, berjuanglah bersamanya. Sebab menemukan yang sama sepertinya akan sukar.
Jangan lupa berterima kasihlah padanya, karena ketika dia menyerahkan waktunya sama aja ia menyerahkan sebagian hidupnya yang tak akan pernah kembali secara cuma-cuma kepadamu.
Dulu, ketika setumpuk draft tulisan ku kirimkan padamu tak ada barang satu pun yang terbaca. Alasannya selalu sama, maaf belum sempat ku baca, begitulah kalimatnya. Seolah kamu manusia paling sibuk sealam jagat raya.
Pun setiap kali ku tuliskan sesuatu khusus untukmu, ketika kamu mengalami hari buruk, ketika kamu terjatuh, ketika kamu gagal ujian semuanya sama katamu; kamu lebih membutuhkan kehadiranku ketimbang tulisanku itu :")
Dukungan, apalagi komentar tak pernah benar-benar ku dapatkan darimu.
Padahal andai kamu mau menyempatkan sedikit saja waktu untuk membaca sesuatu di sini, maka akan kamu temukan segala rasa yang tak bisa ku ungkap karena kalah pada segala argumen mu.
Aku suka menulis, namun tak ku dapati dukungan darimu.
Aku memerlukan waktumu, tapi sedikitpun tak pernah terusahakan untukku.
Aku nggak asyik, kaku, membosankan dingin katamu. Berbeda dengan teman-teman perempuan mu itu, ya.
Aku nggak suka keramaian, makanya nggak mungkin ku ajak nongkrong katamu lagi.
Kalimat demi kalimat itu terserap dan tersimpan rapi dalam memori kepalaku.
Andai kita berganti posisi, akan kamu rasakan bagaimana tertatihnya aku mendampingi mu. Bagaimana kerasnya usaha ku untuk membersamai langkahmu.
Kemarin, semua sudah ku cukupkan.
Hari ini semua sudah berubah. Aku tak lagi mengemis meminta waktu mu. Tak lagi cemburu pada waktu mu yang lebih banyak tercurah bersama orang lain, ketimbang aku.
Aku akan tetap menulis, tak perduli akan kamu dukung atau tidak, pun akan kamu baca atau tidak sama sekali.
Karena memang untuk mencintaimu aku harus menyakiti diriku sendiri. Selagi masih hidup dan bernafas ku lakukan, karena untuk berhenti aku tak bisa, sekalipun begitu ingin.
Menunggu bersama laptop dan wifi Diknas, 08.49 | 19 Agustus 2019.