Mengambil hikmah dari sebuah pertengkaran. Seorang perempuan harus menghargai lelakinya, pun seorang lelaki harus memahami perempuannya. Karena perempuan dan lelaki bicara dengan bahasa yang berbeda.
Game of Thrones Daily

Origami Around

⁂
Acquired Stardust
trying on a metaphor
Today's Document
hello vonnie

Product Placement

Kiana Khansmith
art blog(derogatory)

Discoholic 🪩
No title available

Andulka

Janaina Medeiros
cherry valley forever
Three Goblin Art
taylor price
Peter Solarz
Cosimo Galluzzi

roma★
seen from Australia

seen from Netherlands
seen from United States
seen from United States

seen from United Kingdom

seen from United States
seen from Spain
seen from United States
seen from Australia
seen from United Kingdom
seen from Argentina
seen from United States
seen from Saudi Arabia
seen from United Kingdom

seen from Türkiye

seen from United States

seen from China

seen from Malaysia

seen from United States
seen from United States
@andyprasetyaa
Mengambil hikmah dari sebuah pertengkaran. Seorang perempuan harus menghargai lelakinya, pun seorang lelaki harus memahami perempuannya. Karena perempuan dan lelaki bicara dengan bahasa yang berbeda.
Darimu aku mengerti, bahwa yang dinanti tak selalu akan kembali
A6
Yang diharapin, ngerasa gak ya?
sama seperti jatuh cinta, melupakan tidak pernah secepat itu.
Tidak ada persahabatan yang sempurna di dunia ini. Yang ada hanya orang-orang yang berusaha sebisa mungkin untuk mempertahankannya~
Tuhan menciptakan pasangan, masa menciptakan kenangan, kita menciptakan harapan.
Untuk Kita, Aku Mengharapkan Banyak Hal
Aku tidak suka dengan segala hal yang kamu lakukan padaku malam ini, aku tidak suka dengan apapun yang kamu tinggalkan untukku hari ini.
Aku tidak suka caramu tertawa. Aku tidak suka caramu bicara. Karena esoknya aku pasti akan merindukanmu lagi.
Aku tidak suka tentang caramu memberiku kabar yang memang aku nantikan darimu, sementara aku tahu bahwa nantinya kamu akan kembali pergi tanpa sepenggal alasan dibibirmu.
Apa kau tahu, aku bahkan sangat benci waktu dimana aku harus melihat punggungmu menjauh. Waktu-waktu dimana harus aku simpan keegoisan untuk menahanmu agar kamu tetap disini, memeluk segala keluh kesah yang biasanya aku simpan sendiri.
Aku benci mengakui ini semua, tapi tubuh ini benar-benar tidak bisa bertahan lebih lama lagi tanpa lembut tatapanmu esok pagi.
Kau harus tahu, sebenci-bencinya kau akan keadaan tanpa aku. Aku lebih benci keadaan, dimana lelahmu kau simpan sendiri dan berdalih bahwa senyum dan tatapanku sudah kau cukupkan untuk meruntuhkan lelahmu seharian.
Sadarlah kekasih, kau tak mungkin menahan lelah ini yang terasa semakin membuncah, kau tak mungkin bisa menerima bahwa aku akan semakin menatapmu dengan penuh rasa salah.
Itulah kamu. Rasanya aku ingin membelah dadamu, memecah kepalamu, dan mengambil semua rasa bersalahmu agar kamu mau membagi lelahmu dan menjadikan aku merasa lebih berguna untukmu.
Ada emosi yang ingin aku luapkan, setelah sekian lama tertahan dalam wujud ketidakpuasan, tapi disisi lain, ada harapan yang ingin aku sampaikan, ada doa yang ingin selalu kupanjatkan. Agar kamu kembali menjadi seseorang yang tak lagi datang dan pergi tanpa ada rasa kecewa.
Aku ingin kamu tahu itu, jika tubuh ini sudah terlalu rapuh hanya untuk kamu sentuh, tapi aku tetap ingin kamu disini malam ini, menemani segala peluh yang tak kunjung sembuh.
Dan saat itu terjadi, aku hanya ingin pejamkan mata, tidur dipangkuanmu, dan akan aku ceritakan segala hal-hal bodoh yang hari ini aku lakukan. Yang aku harap sedikit kebodohanku dapat menghiburmu, bukan membebanimu.
Lalu aku pun akan mulai bertindak konyol untuk menghiburmu, juga menyiapkan telinga untuk mendengarkan ceritamu hari ini.
Dengan begitu aku tahu, Mengapa Tuhan menciptakan telinga dikepalaku. Untuk mendengarkanmu. Jangan biarkan aku menyesal jika suatu saat harus meninggalkanmu dengan rasa kecewa yang tak seharusnya ada. Walaupun sebenarnya sampai saat ini niat meninggalkanmu itu tak ada.
Sejatinya aku ingin kamu kembali, kembali seperti saat kamu memandangku sebagai seseorang yang sempurna dimatamu, kembali saat kamu memandangku sebagai tempat ternyamanmu merebahkan segala bentuk kegelisahanmu, dan bukan sebagai permasalahanmu.
Kau akan tetap menjadi kekasih yang memberiku segala kebaikan, kebahagiaan, sekalipun orang bilang bahwa kau terlalu buruk untuk dijadikan sebuah alasan. Entah apa yang akan orang lain bilang tentangmu, tapi aku akan tetap mencintaimu, dan kamu akan tetap menjadi kekasih terhebatku.
Semoga beberapa orang mengerti, kalau pura-pura lupa tidaklah sama dengan merelakan
Lelaki dipilih karena masa depannya, sedangkan wanita dipilih karena masa lalunya
Boleh jadi sebenarnya kita sudah saling mengerti, dan hanya butuh sebuah konfirmasi. Namun, boleh jadi semua yang ku kira hanya sebuah ilusi, yang tercipta dari dimensi prespektifku sendiri.
A6
Pengalaman Semasa Lockdown
Halo teman2, sampe hari ini 16 Maret 2020 dari Italia aku masih memantau kondisi perkembangan persebaran Covid-19 di Indonesia beserta penanganan2nya (berhubung lockdown jadi tiap hari laptopan terus sambil kuliah online hehe). Secara garis besar aku kecewa dengan pola penanganan pemerintah baik dari pusat ke daerah, atau sebaliknya hingga saat ini.
Jadi aku putuskan untuk mencoba menulis kembali. Juga untuk berbagi pandangan aja soal perkembangan pola persebaran di Italia dan di Indonesia semoga membantu ya.
Sumber data tabel: https://statistichecoronavirus.it/coronavirus-italia/
Resiko terpapar tiap individu disini terus nambah (termasuk aku juga krn masih sama2 manusia) dan hampir tiap pagi dengar sirine ambulans, tetangga marah2, atau kadang saling tepuk tangan sapa2an sama tetangga lain dari balkon. Sejauh ini klo ngliat tabel tersebut sudah ada 27.980 kasus positif terinfeksi dari total 60 juta org, artinya peluang individu terinfeksi di Italia naik jd 0,043%. Dengan kematian hari ini total mencapai 2.158 orang, bertambah 349 orang yg meninggal dari kemaren fatality rate di Italy menjadi yang terbesar di dunia mencapai 7,71%, jauh melampaui China yang kini 3,8% (mari kita doakan bersama2 supaya arwahnya diberi tempat terbaik oleh Allah dan diampuni dosa-dosanya).
Sedangkan di Indonesia, sejauh ini tercatat ada 134 kasus dari total 264 juta penduduk. Berdasarkan hal tsb, jadi sejauh ini peluang untuk terinfeksi Covid-19 di Indonesia adalah 0,00005%. Mungkin ini disebut statistik, tapi 1 nyawa hilang akibat meninggal tetap tidak bisa dibandingkan dari sekedar inputan data angka +1 di grafis :(
Dinamika Fatality Rate di Italy (Sumber: dok. Zakky R Dzulfikar)
Mari kita ingat2, kalo luas 1 negara Italia (301.338 km2) bahkan nggak lebih luas dari Pulau Sumatera, atau butuh 30 kali lipat luasnya untuk bisa menyamai China. Indonesia sungguh negara besar, luas, dan jauh lebih padat dibandingkan Eropa, atau bisa dikatakan gabungan dari luas banyak negara2 Eropa. Ini membuat keprihatinanku jadi sangat besar dengan pola dan cara persebaran virus Covid-19, jika koordinasi pemerintah sangat carut-marut, bahkan tidak ada regulasi jelas hanya selalu himbauan. Kemenaker juga tidak bisa klasifikasi tenaga kerja di Indonesia yang dominan sektor informal untuk input regulasi, tumpang tindih aturan, pembatasan transportasi di Jakarta tanpa adanya tekanan regulasi ke perusahaan tempat kita bekerja dengan bersamaan / didahulukan. Sampai berita bahwa tempat wisata makin membeludak di Puncak ataupun rekreasi Pantai di Banten. Bahkan kawan lama di Tembagapura sudah ada yg kontak minta pendapat krn di Merauke sudah ada 1 kasus terinfeksi.
Aku mau membandingkan pola dulu, tertanggal 27 Februari lalu seluruh institusi pendidikan di Lombardy diliburkan 2 minggu sampai 9 Maret 2020 (POLA INI MIRIP DENGAN HIMBAUAN KEPALA DAERAH DI INDONESIA). Ketika pengumuman sampai, saya masih memantau bahkan berdebat dengan mahasiswa lokal di grup angkatan dan mereka selalu beropini, “This is just fucking flu, enjoy your life please, tetap keluar aja seperti biasa, angka kematian rendah, kalian jangan terlalu terbawa anxiety, dan membuat gaduh grup ini dengan obrolan virus tiap hari". Kubu2an pendapat kawan dari China, Iran, Argentina dengan kawan dari Italia pun terjadi, karena mereka di China juga berdasarkan pengalaman genting kondisi keluarga, jadi menganjurkan utk tetap di rumah dan selalu pake masker serta cuci tangan. Ketika itu teman2 Asian masih dianggap dapat info dari ‘Bad Media’ menurut beberapa teman lokal, meskipun angka terinfeksi di Italia telah mencapai 655 orang. Rentang tanggal 27 Feb - 9 Maret itu saya terus pantau, ketika keluar utk belanja (krn sy memutuskan berdiam diri dikosan saja kecuali keluar belanja, Xenophobia makin parah juga tidak hanya di Italia, kasus rasial terhadap Asian karena dianggap penyebar virus). Situasinya waktu itu banyak sekali warga lokal yg berkeliaran di jalan, seperti biasa seakan tidak ada wabah, bahkan tanpa masker (anjuran Pemerintah awalnya tak perlu menggunakan masker kecuali yg ada symptom atau tenaga medis).
Tapi seiring berjalannya waktu, kenyataan berkata lain, sangat bertolak belakang. Tanggal 7 Maret Pemerintah Italia memutuskan untuk lockdown area Lombardy (regional Italia utara termasuk Milan) beserta 11 provinsi lain termasuk kota saya tinggal (Piacenza), karena kasus semakin parah ekskalasi terinfeksi melonjak DRASTIS ke angka 5.883 orang, dan kematian 17 orang, HANYA DALAM 8 HARI. Sejak itu orang2 dijalan sudah mulai berkurang, tapi tetap saja ketika ketemu orang2 di Supermarket, warga lokal sangat sedikit yang menggunakan masker, padahal di website resmi region Lombardy sudah dianjurkan untuk penggunaan masker atau merevisi peraturan awal (menurut saya pribadi tindakan advice yang ceroboh). Di fase ini pula sekitar 10 ribu warga Lombardy (utara) pulang kampung ke selatan dan berbagai penjuru kota Italia, dengan tanpa bertanggung jawab dan mengindahkan peraturan lockdown.
Puncaknya adalah HANYA DALAM 4 HARI KEMUDIAN, lewat Dekrit keluaran 11 Maret 2020 sekitar pukul 21.40 malam waktu Italia, pemerintah memutuskan Lockdown total seluruh wilayah. Angka ekskalasinya semakin parah yaitu 12.462 orang dengan kematian mencapai 827 orang. Pemerintah melalui dekritnya menyimpulkan untuk mengubah HABIT penduduk Italia yang suka nongkrong, ngopi, cipika-cipiki, dan meremehkan dengan cara ini. Saya hanya ingin mengingatkan dan menegur untuk teman2 merefleksi dari peristiwa kesombongan di Italia, untuk tidak aji mumpung, dan STAY DI RUMAH untuk saling menjaga satu sama lain. Saya tau ini sulit sekali dengan tuntutan pekerjaan, dll, tapi tolong diusahakan semaksimalnya sembari tetap mencari nafkah. Karena mungkin kita bisa kuat dan sehat, tapi belum tentu untuk ayah-ibu kita, anak-anak kecil, kakek-nenek ataupun saudara2 terdekat kita.
Klo ada yg bilang, “Lho kan di Italia faskes kesehatannya bagus. Lha di Indonesia?” Dulur-dulurku saya beri info, memang benar bahwa sistem jaminan kesehatan di Italia adalah salah satu yang terbaik di Eropa dan bahkan dunia. Namun, dengan jumlah penambahan kasus yang terus berlipat sebanyak ribuan kasus setiap harinya, kini semua RS yang ada sudah sangat kewalahan. Ventilator tidak memadai, ruangan pasien khusus suspect penuh, bed juga penuh, pasien untuk kemoterapi bahkan harus tertunda penanganannya. Pemerintah sampai meminta funding hingga sekarang karena dana medis juga makin terbatas, dan bahkan meminta bantuan tenaga medis dari China untuk sama2 menangani kasus di Italia sebagai bentuk solidaritas. Ini belum jika memikirkan bagaimana nasib pasien lain yang bukan terinfeksi virus tapi butuh penanganan darurat. Beberapa teman juga melakukan appointment harus ditunda untuk diterima RS setelah 5 hari. Bahkan yg terbaru, dokter dan perawat sudah sangat depresi karena harus memilih pasien mana yang harus diselamatkan dan tidak, karena fasilitas dan tenaga sudah tidak memadai. Juga ditambah informasi kalau pasien yang sekiranya sudah terlalu tua (di atas 80 tahun) dan/atau yang sudah terlalu kronis sakitnya, tidak akan diterima lagi di RS akibat ketiadaan tempat utk menampung pasien.
Semua kembali lagi ke HABIT DAN KEBIASAAN kita dan lingkungan sekitar kita untuk bisa menghentikan persebaran virus Covid-19 ini. Kalo kita denial, acuh, bahkan sombong dan menyerah dengan keadaan, kebiasaan baru tidak akan tercipta, menggagalkan persebaran virus hanya jadi keniscayaan. Sejauh ini saya bersama 4 teman lain dari Indonesia masih tinggal di momen lockdown dalam kota ini, kami terpaut jarak 1 ½ jam dengan kereta dari saudara2 Indonesia kami di Milan. Kami mengikuti prosedur pemerintah, WHO dan CDC, serta arahan KBRI.
Seperti menjaga jarak 1 meter, membawa surat jika keluar rumah, tidak bepergian keluar kota, keluar rumah untuk belanja (ada aturan 15 orang maksimal dalam 1 ruangan supermarket), tidak menimbun makanan & keperluan secara berlebihan (keluar hanya 6-7 hari sekali), tidak panic buying, tidak kongkow2 dan berkumpul, keluar rumah untuk alasan medis atau alasan darurat seperti pulang kampung saja. Kita juga mengikuti arahan hasil Kulwap (Kuliah Whatsapp) di grup Mahasiswa di Italia bersama pembicara dari kawan WNI yg studi PhD Microbiology di Radboud University beberapa pekan lalu. Dari situ kita semakin mendapat informasi tentang Virus ini, menjalankan saran untuk makan sehat, menambah imunitas, jahe (karena anti-inflamasi tinggi), reresik, serta cuci tangan selalu dan mengoptimalkan penggunaan masker dimanapun kita berada. Kami semua dalam keadaan sehat, terus kuliah, bekerja dan akan berupaya terus sehat dengan saling menjaga satu sama lain :)
Aku sertakan link dibawah dari website media Italia tentang aturan ketika lockdown untuk sekedar informasi & pertimbangan, bukan untuk dijiplak mentah2, jika mungkin ingin bertanya silahkan saya sangat senang jika bisa berbagi.
https://www.corriere.it/cronache/20_marzo_13/passeggiate-sport-all-aperto-certificati-seconde-case-ecco-regole-governo-7af1adf4-64eb-11ea-ac89-181bb7c2e00e.shtml
Semoga membantu sebagai pengingat dan penegur, serta terima kasih telah meluangkan waktu membaca, jangan lupa berdoa selalu. Salam solidaritas seduluran !
(foto ketika pertama kali tiba di Piacenza, 7 September 2018)
Selagi aku mampu bertahan hanya dengan berdiam diri maka diamlah. Dengan berdiam diri itu sudah mampu membuktikan aku kuat.
Seandainya saja aku bisa menemanimu disana. Seandainya aku dapat berbuat sesuatu untuk menghapuskan setiap luka dalam sorot matamu, aku akan melakukannya.
Menyentuhmu, mungkin. Membelai wajahmu yang terlihat lelah itu, mengusap pipimu, melarikan jemari untuk menutup kedua mata yang tampak sedih, dan bercerita tentang kebodohan masa lalu.
Aku ingin, tapi aku tak bisa.
Bagaimana kau bisa dicintai kalau kau tidak membiarkan dirimu untuk dicintai?
Bagi kami, perbedaan adalah kehendak Tuhan. Maka kami yakin perbedaan itu adalah anugerah. Sesederhana itu saja.
Semua orang kuat dengan caranya. Walaupun bukan dengan cara kamu, dia akan tetap kuat. Kerana manusia itu dijadikan dengan adanya semangat. Moga terus kuat, semua! Insya-Allah.
Selamat menikmati kerinduan, tanpa pertemuan