Hujan, pagi hari dan sedang sendiri.
Memutar banyak peristiwa lama untuk menyeruak pada permukaan.
Menggenang, berusaha mengalir menuju muara tapi tertahan dalam ingatan tulisan-tulisan lama.
Menjadi orang yang terus menunggu itu, pada akhirnya akan melelahkan.
Menjadi orang yang berjuang sendirian itu, pada akhirnya akan berakhir kasihan.
Kata mereka, cinta adalah kumpulan maaf yang cuma-cuma, pemakluman-pemakluman tanpa batas, pengecualian-pengecualian yang ikhlas.
Kata mereka, cinta adalah benteng tabah, apa-apa yang tak terkatakan, juga rangkaian-rangkaian penerimaan.
Mereka sedang menelan cinta yang sedih tanpa mereka sadari. Mereka sedang mengoyak harapannya sendiri. Mereka sedang mencari penyakit hati.
Mereka lupa, bahwa cinta adalah peluang untuk memilih dan dipilih. Bertahan atau menyerah, berlari atau menjatuhkan diri, tajam logika atau keras hati. Pilihan-pilihan untuk pergi selalu ada, saat diam di tempat tidak berarti apa-apa dan tidak dianggap berharga.
Mereka lupa, bahwa 'kesalingan' adalah garis mulai pertama. Sebab saat hati dan pikiran saling berlawanan sangatlah menguras tenaga. Sebab saat rasa itu tumbuh, ia perlu di rawat sama-sama, bukan hanya imaji sendiri yang mampu membuatnya tetap subur berbunga.
Menjadi yang terus memberi maklum, maaf, menunggu, menerima dan merawat sepihak pada akhirnya akan menenggelamkanmu dalam reruntuhan mimpi-mimpi. Sendirian, dingin, tanpa uluran tangan yang tulus menyelamatkan. Menangis, menyesakkan dan menindas banyak waktu juga kesempatan-kesempatan.
Sekali lagi tentang cinta, adalah cermin kewarasan, ruang ketenangan, malam yang lelap, makan yang lahap, mata yang tak kosong, senyum yang tulus dan harap tak luruh. Jika itu sedang hilang dari dirimu, bersihkan lagi caramu melihat cinta.
Mungkin definisi cinta yang berjuang kita———tidaklah sama.
Gerimis pagi, 29 Maret 2022 06.17