Mitsaqan Ghalidza 💍 — bermain peran sebagai seorang hamba.
(Marriage advice from Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri حفظه الله)
Allaah berfirman dalam QS. An-Nisaa’ ayat 21
“..istri kalian mengambil perjanjian yang sangat sulit (berat) dari kalian..”
Ini bukan tentang akad, ini tentang dibalik akad tersebut.
Ini tentang sebuah kehidupan.
Ini semua tentang perjuangan.
Ini semua tentang pengorbanan.
Dalam ilmu fikih, akad nikah adalah akad terberat dari semua akad yang ada di dunia, makanya Allaah menggunakan perumpamaan “Mitsaqan Ghalidza” (komitmen yang sangat berat).
Hanya tiga kali Allaah sebutkan istilah Mitsaqan Ghalidza dalam Al-Quran :
Untuk para Nabi ketika Allaah kasih amanah
Untuk bani Israil ; bagaimana sulitnya nabi Musa mendakwahi bani Israil (surah Al-Baqarah)
Untuk kehidupan suami istri, Allaah lagi-lagi menggunakan istilah mitsaqan ghalidza
Lucunya, mayoritas yang melangkah ke kehidupan ini sama sekali tidak ada persiapan, mentok-mentok di hari H, dan H+1 dibiarkan seperti air mengalir.
Itu yang fatal, harusnya yang dipersiapkan bukan hari H, tapi yang harus dipersiapkan adalah hari esok, pekan depan, bulan depan, dan tahun-tahun berikutnya. Bagaimana sang suami nge-leader dan istri menjadi anggota keluarga yang baik.
Dan yang sudah gagal itu banyak, kalau tidak disikapi dengan serius maka akan fatal.
Akan ada rasa sedih, bahkan mungkin akan ada air mata..
Nabi kita shallallahu ‘alayhi wa sallam pernah memberikan sebuah doa untuk menghilangkan kesedihan, untuk menghilangkan air mata tersebut, doa yang lumayan tidak pendek tapi juga tidak panjang.
Yang ingin digarisbawahi dari doa tersebut adalah inti dari kebahagiaan, inti dari hilangnya semua rasa sedih dan berat saat nanti kita mengarungi perjalanan rumah tangga.
Sumber 📎 : https://almanhaj.or.id/10052-doa-untuk-menghilangkan-kesusahan-minta-ampun-pada-hari-pembalasan.html
Ketika nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam mengajarkan doa menghilangkan rasa sedih tersebut, nabi kita memberikan sebuah opening,
“Ya Allaah, saya ini hanya seorang hamba dan saya ini adalah anak dari hamba-Mu yang laki-laki, dan saya hanyalah anak dari seorang hamba-Mu yang wanita.”
Mari kita renungkan, bukankah tiga dari pihak yang diangkat di awal doa ini semua inti dari keluarga : ayah, ibu, dan anak.
Dan nabi ajarkan sebuah pesan besar, bahwa untuk menghilangkan kepedihan, maka ayah, ibu, dan anak harus bermain peran sebagai seorang hamba.
Suami harus bermain peran sebagai seorang hamba.
Istri harus bermain peran sebagai seorang hamba.
Anak harus bermain peran sebagai seorang hamba.
Kalau tidak, maka akan berantakan.
Dari mungkin ratusan atau ribuan kasus rumah tangga yang Allah takdirkan saya (Ustadzuna حفظه الله) tahu dalam sesi konsultasi atau permasalahan. Mau selingkuh, mau KDRT, mau istri ngelawan, mau istri ngebentak suami, mau suami ga pulang, intinya cuma satu : masing-masing pihak ga bermain peran sebagai seorang hamba.
Akhirnya, suami bermain dengan ego kepemimpinannya, keegoisannya, arogansinya, yang terjadi — berantakan.
Lalu sang istri mulai dengan dendamnya, dengan ngejawabnya, dengan suara kerasnya, perlawanan sebagai seorang wanita — maka akan berantakan.
Ga ada yang bisa menyelesaikan permasalahan rumah tangga kecuali apabila jika kita bermain peran sebagai seorang hamba.
Seorang suami bisa memukul istrinya, tapi apakah itu cara bermain peran sebagai seorang hamba? Hamba itu rendah, suami bisa mencaci maki istrinya, tapi apakah seorang hamba pantas mengucapkan hal tersebut?
Ini core, adapun hak suami dan hak istri, kewajiban suami dan kewajiban istri, semua akan mudah jika kita sepakat bahwa kita adalah seorang hamba.
Mau di kuliahan seperti apapun tentang kewajiban suami dan kewajiban istri, ga akan ada manfaat, ga akan ada pengaruh kalau ga diamalkan. Dan terlebih kalau kita belum menerima status kita sebagai seorang hamba.
Oleh karena itu, jadilah seorang hamba yang baik, hamba yang takut kepada Allaah.
Makanya nabi shalallahu ‘alayhi wa sallam ketika berbicara kepada para suami beliau mengatakan,
Sumber 📎 : https://www.syafiqrizabasalamah.id/hakistri
Dan bagaimana nabi mengarahkan,
Adapun jika anda tahu diri bahwa anda adalah seorang hamba, maka bertakwalah kepada Allaah ketika anda menyikapi istri anda yang lebih lemah dari anda, yang bisa anda tekan, sudutkan, caci maki, tunjuk-tunjuk, pukul atau bahkan tampar, tapi anda adalah seorang hamba, maka tidaklah pantas seorang hamba berlaku demikian.
Rumah tangga itu ditentukan dari kemampuan suami dan istri dalam memainkan peran sebagai seorang hamba, apabila peran ini gagal dimainkan, maka akan ada bahaya dalam pernikahan.
Tapi kalau peran ini bisa diamalkan dengan apik, dengan indah, dengan meminta pertolongan kepada Allaah, maka rumah tangga ini akan menjadi rumah tangga yang sakinah mawaddah warahmah bukan hanya di dunia saja, tapi Allaah akan kumpulkan kembali kelak di akhirat-Nya
Seorang hamba itu ga punya bargain position, kalau suami masih mengedepankan arogansinya, maka dia gagal dalam bermain peran sebagai seorang “hamba”.
Hamba hanya fokus mengerjakan kewajiban, kewajiban, dan kewajiban. Hamba itu lebih rendah daripada pembantu (ga dapat salary)
Tapi justru ketika kita bisa fokus bermain peran sebagai seorang hamba, maka Allaah akan janjikan kebahagiaan di dunia dan di akhirat.
Semoga Allaah senantiasa memberikan kita pertolongan, dan semoga yang sedikit ini menjadi pengingat dalam mengambil keputusan yang konsekuensinya menggema seumur hidup.