🌧️ Tentang Hujan, Payung, dan Hal-Hal Kecil yang Membuatku Lelah.
Hari ini hujan deras turun dari pagi, seolah langit ikut menekan dadaku. Sepedaku terkunci dengan kunci baru yang entah kenapa tidak bisa dibuka. Kabelnya terlalu tebal untuk dipotong. Rasanya konyol, tapi benda sekecil itu bisa bikin langkahku terasa lebih berat.
Pacarku datang saat jam istirahat, membawa payung. Payungku sendiri tertinggal di kamarnya, dan aku sebenarnya ingin bersyukur—tapi hati ini justru ribut. Kami sempat berbaring sejenak, lalu sebuah candaan kecil tentang video di ponselku berubah jadi percikan api. Aku tahu dia hanya bercanda, tapi kata-katanya menempel, menggema, mengaduk emosi yang sudah campur aduk.
Aku berjalan sendirian, hujan masih deras. Beberapa mobil lewat terlalu cepat, menyiram air genangan ke tubuhku, bahkan sampai ke mulut. Aku berdiri di sana, basah kuyup, dan merasa semakin kecil di dunia yang besar dan bising.
Di tempat kerja, keadaan tidak lebih baik. Teman-temanku malas, pekerjaan mereka tertinggal, dan aku harus berlari ke sana kemari. Aku terbiasa menyelesaikan semuanya, tapi hari ini tubuhku sudah terlalu lelah untuk terus menjadi mesin.
Hari ini aku sadar—kadang bukan badai besar yang merobohkan kita. Tapi hal-hal kecil: kunci yang macet, genangan air, candaan yang salah tangkap, teman kerja yang tidak peduli. Semua menumpuk jadi hujan di dada.
Dan aku di sini, masih mencoba bernapas di bawah langit yang berat.
"Hari ini membuatku sadar, kadang lelah bukan datang dari satu hal besar, tapi dari tumpukan hal-hal kecil yang tidak pernah selesai. Dan di antara hujan, candaan, dan pekerjaan yang menumpuk, aku hanya ingin mengingatkan diriku sendiri: tidak apa-apa merasa marah, tidak apa-apa merasa kacau. Besok akan datang lagi, dan mungkin aku akan lebih siap menghadapinya."













