Re-Charge
Saya mengenali diri saya sebagai seorang ekstrovert, dimana saya suka bergaul dan nyaman diantara banyak orang. Sebatas itu pemahaman saya di beberapa waktu lalu.
Keadaan menjadi agak berbeda semenjak saya kuliah di Korea, saya harus menjalani kehidupan dengan benar-benar lebih mandiri, entah untuk belajar, atau bermain.
Dulu waktu kuliah sarjana saya juga merantau di Surabaya selama lima tahun, namun terasa begitu menyenangkan karena berada di negara sendiri, bahasa lokal dan nasional, serta makanan-makanan yang normal. Kuliah di luar negeri ini, culture-shock nya kadang masih begitu terasa menurut saya.
Lepas enam bulan pertama, saya merasa kalau sepertinya “boleh juga” untuk menjadi seorang penyendiri, melakukan apapun sendirian. Namun, lama-kelamaan saya merasa ada yang kurang, ada yang janggal.
Saya baru memahami tentang bagian lain dari ekstrovert dan introvert ini, yaitu bagian tentang bagaimana metode yang tepat untuk re-charge semangat.
Jadi ekstro dan intro ini bukan hanya soal nyaman atau tidak nyaman ketika berkumpul dengan orang, pendiam atau suka ngomong di depan, terbuka atau tertutup kepribadiannya, active or passive, dan seterusnya.
Saya mulai merasa biasa menjalani kehidupan mahasiswa ini dengan sendiri, belanja sendiri, naik bus keliling kota sendiri, bersepeda di tepi sungai sendiri, ya saya bisa. Not bad I think.
Normally ketika saya sendiri, saya cenderung menggunakan untuk merenung, berfikir, dan menulis.
Tapi yang bahaya, jika terlalu berfikir, maka jadinya akan overthinking, malah kemana-mana.
Nah yang baru sadari adalah masalah re-charge semangat, saya tidak bisa memungkiri bahwa saya butuh teman. Saya butuh bertemu dengan orang, bertukar cerita, berbagi tawa, dan melihat mereka saling bahagia.
Ini bukan tentang rindu atau hal-hal menyangkut perasaan, tapi ini lebih kepada energi positif yang disalurkan oleh teman-teman itu ketika kita bertemu. Energi positif itu tidak bisa digambarkan atau dikuantifikasikan dalam bentuk prosentase, tapi yang dapat saya pastikan adalah saya dapat merasakannya.
Jadi, berkaitan dengan hal-hal tersebut, saya jadi lebih rileks ketika menjalani hari. Ada waktu dimana saya butuh sendiri namun bukan berarti saya seorang introvert. Ada waktu juga dimana saya butuh bertemu dengan kawan untuk mendapatkan bias energi positif dan keceriaan yang mereka bawa.
Ternyata, hidup ini masih penuh misteri, bahkan kita saja belum mengenal diri kita seutuhnya.
Mari tetap berusaha mengenali diri lebih baik lagi, untuk kita dan keluarga.
Daejeon, 20th January 2022















