Cerpen: Email
Hari ini sebuah notifikasi muncul dari aplikasi surat elektronik. Aku pikir itu email yang berisi iklan yang menawarkan produk baru atau diskon belanja, ternyata dari seorang kawan satu almamater. Tumben sekali dia pake cara lama dengan mengirim email seperti ini, kan bisa chat whatsapp. Sebuah email yang membuatku duduk lama memperhatikan setiap kata dan paragraf yang disampaikan. Sebuah email dengan kesan peringatan yang membuatku harus mencerna baik-baik setiap kalimatnya.
Assalamu’alaikum, apa kabar? Haha basa-basi sekali aku ini. Ya jelas kamu baik-baik aja, kan barusan kita masih chattingan.
Aku mau menyampaikan sesuatu dan sengaja aku menyampaikannya lewat email, supaya semuanya jelas. Semoga kamu bisa lapang dengan apa yang akan aku sampaikan.
Dari semua cerita-cerita yang kamu sampaikan ke aku, menurutku kamu terlalu baik kepada banyak lawan jenis, kepada banyak laki-laki. Membuat mereka terlalu nyaman di dekatmu dan mereka merasa aman untuk cerita apapun ke kamu.
Aku hanya sekadar mengingatkan, berhati-hatilah. Kamu menumbuhkan apa yang tidak mereka tanam. Perasaan aman dan nyaman itu lebih berbahaya dari perasaan cinta. Kamu harus sadar itu.
Aku udah lama kenal kamu, aku paham kamu seperti apa. Kamu seperti memberikan angin segar kepada banyak laki-laki, membuat mereka terpikat kepadamu. Mereka kemudian bisa saja memiliki perasaan masa lalu yang tumbuh ketika kamu sudah bersanding dengan orang lain.
Kau paham sesuatu?
Aku katakan sekali lagi, jangan terlalu baik kepada banyak laki-laki. Sikapmu itu seperti bom waktu, tinggal menunggu kapan meledaknya. Jagalah dirimu lebih baik. Kau tidak perlu terlalu dekat kepada mereka semua jika sekadar ingin menjadi perempuan yang baik, bukankah demikian?
Sekali lagi ku ingatkan, tidak ada pertemanan yang murni antara laki-laki dan perempuan. Akan selalu ada perasaan yang mengikutinya, entah diungkapkan atau dipendam.
Sebagai kawan, aku hanya bisa mengingatkan. tetap saja kamu yang memiliki hidupmu.
Aku kehabisan kata-kata. Entah harus kubalas apa email ini.
Potret Memori | Jakarta, 20 September 2020










