Terpendam
Seolah tak ada tempat yang lebih aman dan nyaman lagi, hanya sekedar untuk menyembunyikan perasaan. Gemerlap hati menjadi sebaik-baiknya posisi menyirat kata yang dia ucapkan secara hati-hati. Atau, dia terlalu hati-hati. Takut pada hal yang belum terjadi.
Kamu hanya bisa tersenyum. Kamu hanya bisa berharap. Kamu hanya bisa berdo'a. Hingga mencintai diri sendiri pun seperti keterpaksaan, mengingat perasaannya belum jua terungkapkan.
Sesekali ia bergumam; melihatnya bahagia sudah cukup baginya. Namun, ia sendiri juga yang menjawab; andaikata jika akulah yang menjadi penyebab senyum bahagianya.
Ia hanya mampu menjadi makhluk yang penuh dengan keinginan. Keinginan terpendam. Pada akhirnya, tangis pun terpendam. Luka pun terpendam. Bahkan, untuk tawa untuk menghibur diri pun terpendam. Ia terdiam.
Bukankah perasaanmu saat ini menjadi prioritas. Maka beranikankah untuk mengungkap, jangan sampai merasakan ikhlas yang menyakitkan.

















