“Sabtu di awal jam, tanah basah sebab hujan. Aromanya, sesedap asap kopi. Sial, dalam tarikan napas yang panjang, masih saja engkau yang datang.”
—
cherry valley forever
Xuebing Du
Jules of Nature
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
Cosimo Galluzzi
sheepfilms
trying on a metaphor

★
$LAYYYTER
Claire Keane

Love Begins
Alisa U Zemlji Chuda
ojovivo
h
I'd rather be in outer space 🛸
todays bird
KIROKAZE

JVL
No title available
No title available

seen from United Kingdom

seen from Malaysia
seen from Netherlands
seen from United States

seen from Singapore
seen from Germany
seen from Malaysia
seen from Nigeria

seen from Malaysia
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Brazil
seen from United States

seen from United Kingdom

seen from United Kingdom
@kusiknala
“Sabtu di awal jam, tanah basah sebab hujan. Aromanya, sesedap asap kopi. Sial, dalam tarikan napas yang panjang, masih saja engkau yang datang.”
—
Hai, kenalkan aku rindu, yang tak pernah usai walau bertemu
Hiahiahia
Mentari datang, kehangatan memeluk sebagian badan, apa yang sedang ia lakukan sekarang? Apa ia merenggut kebahagiaan?
Mentari pagi tak tampak
Bulan datang, menjaga malam agar tak lagi gelap, walau hanya beberapa bagian, ia mampu memberi hangat
Begitu setianya langit kepada mentari, ia membawa hujan untuk menutupi kesedihannya. Mengamuk, membuat seisi bumi menggelegar, agar kelak tak ada lagi yang berani menyakiti
Yang terakhir
Indahnya suara malam yang bisu, begitu hangat, hingga aku menggigil bersama ingatan palsu
Sudah tak berharap
Sebuah kata menimbulkan tanya, sebuah tanya menimbulkan luka, hingga suatu saat ia berkata-kata dan akhirnya aku mati tanpa rupa
Akhir agustus
Angin berhembus, mencekik badan seolah mendekap, ingin rasanya pulang, melihat ia yang salah menatap
Jangan menyesal
Mau Tukar Jiwa? Supaya kamu mengerti bagaimana menjadi aku.
Aerisyh (via angingurun)
Pelangi dimalam hari, tanpa hujan, tanpa hembusan. Ia berseri-seri, tersenyum kepada bulan, karena ia satu-satuanya harapan
Bidadari di kosan
Terlelap dalam buaian bulan, tertidur dengan bantalan hujan, setengah kering setengah basah, ia lelap didalam dekapan, menunggu mentari yang tak kunjung datang, berharap kehangatan datang tak menyimpang
Malam selamat malam
Bersandar ketiang jendela, menunggu adzan magrib yang tak kunjung tiba, disebelahmu, membelakangiku, tak terlihat, tapi hegitu dekat
Hening
Ia hilang, tenggelam, tertelan malam, bersama bintang, yang tak lagi terang
Malam di Kutek
Bercerita kepada sore, tentang senja yang mulai menemani. Kehangatan begitu mendekap, tapi sayang ia hanya bertahan sesaat
Kamu? Bukan
Kebahagiaan datang, meluncur sangat cepat, menabrak semua yang terhalang, semoga bertambah cepat tiap saat, agar tak ada lagi yang berani menantang
April sudah datang
Jarak memang bukan ukuran, buktinya, aku yang selama ini hanya beberapa jengkal duduk di samping mu, tetap saja kau abaikan, sedangkan dia, yang selalu meninggalkan mu, tetap saja kau harapkan
Seharusnya bulan sadar, tanpa bintang ia tak mungkin bercahaya. Tanpa malam ia mungkin tak pernah dianggap