Hari ini saya ingin menceritakan tentang pengalaman saya dan 34 orang lainnya dari kelas AA mata kuliah Perekonomian Indonesia beberapa minggung yang lalu. Tepatnya pada tanggal 5 sampai 7 Mei 2017, kami pergi ke salah satu desa di Kabupaten Malang dan mengikuti aktifitas masyarakat desa. Selesai persiapan dan akhirnya kami berangkat pukul 16.00 dari Universitas Brawijaya dan tiba di desa pukul 18.30.
Desa yang kami tuju adalah desa Putukrejo, kecamatan Kalipare, Kabupaten Malang. Desa ini merupakan salah satu desa tertinggal di Kabupaten Malang. Tujuan dari kegiatan kami adalah mengetahui kehidupan masyarakat desa dan mengenal aktifitas ekonomi mereka. Sesampainya di desa, kami langsung dibagi ke rumah warga. Kami menempati sektitar 18 rumah warga dengan kriteria yang sama (masih ada bagian rumah yang tidak memakai kramik). Setiap rumah ditempati oleh dua orang mahasiswa/i. Selama tiga hari dua malam, kami hidup bersama keluarga pemilik rumah tersebut dan mengikuti aktifitas mereka.
Saya tinggal bersama keluarga bapak RT 28 di desa tersebut. Walaupun menyandang jabatan sebagai ketua RT, kondisi mereka tidak sesuai dengan ekspektasi saya selama perjalanan menuju desa. Sebelum berangkat, saya sudah tahu bahwa saya akan tinggal bersama keluarga ketua RT di sana. Jelas saja yang saya bayangkan adalah rumah yang setidaknya memiliki kamar mandi di dalam rumah dan lantainya sudah diberi kramik.
Saya seorang mahasiswi yang merantau di kota orang. Saya berasal dari kota Depok, Jawa Barat yang sangat dekat dengan ibu kota Indonesia, yaitu Jakarta. Selama saya tinggal di perkotaan, seorang ketua RT tentunya memiliki rumah yang di atas standar. Tetapi, berbeda dengan kondisi yang saya lihat di desa ini. Mereka hanya keluarga sederhana yang bekerja sebagai buruh tani dan memiliki sedikit lahan untuk ditanami tebu. Saya belajar bahwa, jabatan merupakan tanggungjawab dan pengorbanan, bukan tempat untuk mencari keuntungan. Menurut saya, sebenarnya bisa saja bapak yang menjadi ketua RT mengambil sedikit bantuan pemerintah yang disalurkan untuk warganya. Tapi saya hanya bisa tersenyum dengan perasaan miris. Apa yang bisa dikorupsi lagi, saat bantuan pemerintah belum maksimal untuk warga desa?
Contohnya adalah alat penggiling padi yang dibeli dari hasil iuran warga. Maka, itu lah pelajaran utama yang saya dapat dari keluarga ini. Jabatan merupakan pengorbanan. Sedikit orang yang benar-benar mau memimpin karena ingin membantu. Bisa saja bapak itu berpikir, tidak perlu peduli hal yang lain karena memikirkan perut sendiri saja sudah pusing. Saya belajar makna memimpin yang sesungguhnya dari seorang ketua RT di desa Putukrejo.
Bapak dan ibu adalah seorang buruh tani dan mengelolah kebun tebunya. Setiap jam lima pagi bapak sudah bersiap dan berangkat ke sawah untuk bekerja. Ibu menyiapkan memasak, menyiapkan makanan untu anaknya Ira (2 SMA) dan merapihkan rumahnya. Kemudian, jam delapan pagi, ibu bersiap dan berangkat ke kebun tebu untuk ngarit (membersihkan daun kering pada tebu, memotong rumput liar dan ilalang). Selesai ngarit, ibu meyusul bapak sambil membawakan makanan. Upah mereka menjadi buruh tani sebesar Rp 40.000/ hari. Sedangkan, hasil kebun tebu mereka hanya bisa dinikmati satu kali dalam setahun (saat panen). Kondisi ini membuat mereka harus memikirkan cara lain untuk menambah pendapatan. Mereka memiliki sumper pendapatan lain, yaitu menjual kelapa dari pohon kelapa yang mereka punya. Walaupun bukan menjadi pendapatan yang tetap, setidaknya mampu memenuhi kebutuhan mereka. Selama tinggal di sana, saya selalu disuguhi makanan yang sangat enak. Ini saya berkata jujur. Ibu sangat pandai membuat sambal dan yang tidak bisa saya lupakan adalah sayur yang terbuat dari batang talas. Ibu bilang nama makanan itu Lompong. Saya belum pernah memakannya, tetapi saat pertama kali mecoba makanan ini benar-benar enak. Saya berpikir untuk mencoba memasaknya sendiri, kalau ada pohon talas. Kesederhanaan yang digambarkan dari kehidupan keluarga ini memperlihatkan bahwa hidup enak tidak harus mahal. Kebersamaan dalam keluarga walaupun dengan hidangan yang sederhana, ditambah rasa lelah bekerja seharian yang menajdi cerita saat makan bersama bagi saya sulit ditemukan pada keluarga yang tinggal diperkotaan.
Keluarga di desa benar-benar menghargai orang yang datang ke rumahnya. Saat saya tiba, sudah saya katakan “Pak, bu kami di sini mengikuti kegiatan bapak dan ibu. Tidak perlu memperlakukan kami dengan berlebihan karena tujuan kami ingin mengetahui dan merasakan kehidupan bapak dan ibu”. Walaupun saya sudah mengatakan itu, tetap saja mereka tidak mengizinkan saya untuk ikut melakukan pekerjaan mereka yaitu ngarit dan menegerjakan sawah. Akhirnya, setelah lama membujuk ibu, saya diizinkan untuk ikut mereka ke sawah. Di sana saya diajak oleh Ira mencari siput air untuk makan. Tetapi, kami tidak sempat memasak karena aktifitas lain yang harus saya lakukan di rumah bapak kepala dusun. Rumah warga di desa ini memang tidak diberi lantai kramik, tetapi khusus ruang tamu mereka beri kramik. Saya memandang ini sebagai bentuk bahwa warga desa di sini benar-benar mengutamakan kenyamanan tamu. Salah seorang teman saya yang tinggal di rumah lain mengatakan bahwa, keluarga tempat mereka tinggal merenovasi kamar mandinya karena kami akan tinggal di rumah mereka. Saya tidak menyangka bahwa masyarakat desa Putukrejo benar-benar menyambut kedatangan kami.
Pada hari kedua, kami mengadakan kegiatan kelas profesi bersama anak-anak. Anak-anak di sana sangan antusias dengan kegiatan yang kami. Sangat miris, karena masih ada anak-anak di sana yang tidak tahu cita-cita mereka. Dalam kegiatan tersebut kami meceritakan tentang beberapa profesi yang dapat menjadi pilihan untuk cita-cita anak di desa tersebut. Kami juga mengajarkan mereka cara membuat celengan dari botol bekas. Tujuan dari kegiatan ini untuk mendorong minat mereka agar giat menabung. Pada akhir acara, kami memberikan buku cerita tentang 25 nabi untuk mendukung minat baca anak-anak di desa tersebut.
Pada hari terakhir kami membagikan sembako kepada warga desa yang rumahnya kami tempati dan perangkat desa. Sebelum pulang saya berpamitan dengan bapak dan ibu ketua RT. Saat berpamitan saya diberikan oleh-oleh buah Kakao (Cokelat). Kemudian kami berpamitan kepada bapak kepala dusun. Saya belajar banyak hal di desa ini, yaitu sopan santun, bekerja keras, menghargai orang lain, bersyukur dan saling membantu.
PUTUKREJO MENGAJARKAN …. Hari ini saya ingin menceritakan tentang pengalaman saya dan 34 orang lainnya dari kelas AA mata kuliah Perekonomian Indonesia beberapa minggung yang lalu.