Rasanya sudah lama aku ingin lepas. Rasanya sudah lama pula keinginanku itu sulit terwujud. Tak perlu mengatakan ikhlas, namun tiap kali kamu dengannya, aku mencoba untuk tidak jadi penganggu. Tiap kali kamu memintaku pergi, aku mencoba untuk tidak menoleh bahkan kembali lagi. Aku tahu, kamu masih mengejarnya. Aku tahu kamu berbohong bila mengatakan tidak takut kehilangan dirinya. Aku tahu semua sampai kamu berbicara aku lah orang paling sok tahu tentang hatimu. Sayang, mengerti lah, mungkin mata ini buta karena cinta. Yang tetap ingin melihatmu ada di depanku, meski bukan aku yang kamu inginkan. Aku bukan marah padamu, yang tiba - tiba bisa sekejap membuat segalanya berubah. Namun, aku marah pada diriku sendiri, yang tidak pernah bisa membuatmu tegas pada satu pilihan. Aku lelah dibuat lemah. Kamu mencaci, lalu pergi dan ku lihat kamu bersama dengannya lagi. Awalnya aku tidak ingin berair mata, cukup tersenyum aku rasa cukup. Jatuh memang, sakit pasti, tapi tiada yang bisa aku lakukan selain bangkit. Merelakanmu lagi, lagi dan lagi. Sampai aku menenangkan diri, sebab menurutku, itulah kebahagiaanmu. Sekarang, aku tidak tahu harus berbuat apa lagi ketika kamu datang kembali. Belum sembuh luka, kamu datang seolah menawarkan cinta. Belum pulih hati, kamu memeluk seakan aku lah yang ada di hati. Sayang, aku hanya ingin cinta yang tak begini.















