Aku tak tau, mengapa aku masih saja memikirkanmu. Masih seringkali menyebut namamu, masih selalu saja mengenangmu. Diam-diam aku masih memperhatikan sosial mediamu, memastikan bahwa kamu baik-baik saja, selain itu juga memastikan bahwa kamu tidak bersama orang lain saat ini, yang jika diartikan, sama halnya memastikan bahwa aku baik-baik saja.
Pernah sekali aku sakit, ketika melihat ada salah satu akun tersemat inisial namamu didalamnya. Dan ketika itu dengan emosi yang menggebu aku harus berusaha mengikhlaskanmu dengan paksa. Kau tau? Itu menyakitkan. Mengikhlaskan orang yang masih sangat berharga untuk bersama orang lain? Siapa yang tidak merasakan sakit? Aku kembali retak. Aku kembali patah.
Namun hal itu tidak berlangsung lama. Hatiku kembali membaik, setelah mengetahui bahwa inisial namamu tak lagi tersemat didalam akunnya. Kembali aku tersenyum. "Ternyata kamu masih sama saja. Masih sering memainkan perasaan perempuan. Kasihan perempuan itu, ternyata nasibnya sama denganku" kataku pada diri sendiri.
Kadang aku heran, mengapa masih saja mengharapkanmu untuk kembali lagi suatu saat nanti? Mengapa aku masih berharap kamu untuk menjadi masa depanku? Padahal sudah jelas, kamu tidak mau kembali. Hahhh aku yang melepasmu, aku juga yang memikirkan kamu. Hampir setiap hari. Hampir setiap jam. Hampir setiap saat. Yaa, aku masih belum mampu menghapus namamu, kenanganmu, dan juga rasaku.
Sebelumnya aku tak pernah sejatuh ini pada seorang lelaki. Aku tau, rasa ini salah. Bukan, bukan rasa ini maksudku. Rasa ini benar, namun waktunya yang kurang tepat. "Hai, aku rindu" inginku teriakkan kata itu padamu. Maafkan aku yang masih saja mengharapkanmu. Akan kusimpan rapih rasa itu. Dariku yang masih dan ingin kamu kembali (suatu saat nanti).
___________________________________________________
nurlinaismawati//Pojok Kota, 11 September 2019
__________________________________________________________