"Mencintai diri sendiri itu pelajaran hidup yang tidak akan pernah selesai,".
Saat menulis ini, aku sedang mendengarkan lagunya Queen. Judulnya sama seperti judul postingan hari ini, Keep Youself Alive.
Dua hari lalu, aku mendapatkan kabar yang...mengerikan. Dreadful. Singkatnya, kabar itu adalah tentang seorang mantan teman dekat yang hampir berhasil mengakhiri hidupnya setelah membaca apa yang kutulis untuknya: "Aku tidak mau berteman denganmu lagi. Aku tidak mau bertemu denganmu lagi. Selamanya,".
Keras ya kalimatnya? Namun, itu bukan tanpa alasan. Hubungan pertemanan kami sudah berlangsung bertahun-tahun lamanya. Lebih dari 5 tahun, bayangkan. Selama bertahun-tahun, aku sudah berusaha menjadi teman yang baik. Aku berusaha ada untuknya ketika dia membutuhkanku. Aku menghormati boundary yang dia tetapkan. Aku menerima dia apa adanya sebagai teman.
Namun, apakah dia melakukan hal yang sama kepadaku? Oh, tidak. Hampir tidak pernah. Sudah banyak cerita di mana dia tidak menghormati boundary yang kutetapkan. Melanggar janji denganku juga pernah. Last, dia tidak berhenti menanyakan soal gajiku. Like, what? Teman macam apa yang setiap telepon menanyakan soal gajiku, ya kan?
Sudah lama sebenarnya intuisiku memberitahu bahwa dia somehow bukan seseorang yang kukenal delapan tahun lalu ketika masih sekolah. Dia...sakit. Sakit jiwa.
Namun, dengan alasan, "Ah, dia tuh sakit. Aku yang waras harusnya ngalah aja,", aku memberinya excuse lagi dan lagi.
Kupikir dia suatu hari nanti kepalanya akan terbentur ke tembok begitu dan sadar bahwa selama ini dia bodoh. Sangat bodoh dan irasional. Kupikir dengan treatment yang tepat dan kalau aku berjuang menariknya dari lingkungan toxic, dia akan kembali seperti dulu lagi.
Aku teringat skripsi yang kutulis tentang Sunshine dan Moonshine Policy yang diterapkan di Korea Selatan. Saat melakukan penelitian, aku menemukan sebuah teori dasar hubungan di antara sesama manusia. Teori Timbal-Balik Sahlin namanya. Teori itu berkata bahwa seorang pemberi harus menerima dan penerima harus memberi, dengan begitu hubungan akan lancar di antara dua pihak. Tidak bisa seorang pemberi terus-menerus memberi, sementara penerima terus-menerus menerima.
Karena itulah aku memutuskan untuk pergi. Walk away. Aku tidak bisa terus-menerus jadi si pemberi dan dia tidak boleh jadi si penerima selamanya. Aku berhenti bersikap sok malaikat dan menjadi pahlawan kesiangan. Aku manusia biasa. Aku bisa sakit hati dan sedih juga.
Namun, reaksi ekstrim yang dia tunjukkan setelah membaca suratku membuatku...takut. Sudah sedikit lagi, sedikit lagi, kemudian keluarganya datang dan menyelamatkannya. Buru-buru mereka membawanya ke kamar untuk diberi penenang.
Bagaimana kalau aku harus bertanggung jawab atas nyawa seseorang?
Apakah jahat jika aku memilih menyelamatkan diriku dan meninggalkannya sendiri?
Dua pertanyaan itu terus menggema di kepalaku dan membebani hatiku. Aku takut. Takut sekali. Aku takut kata-kataku membunuh orang lain.
"Nggak, itu bukan salahmu,".
"Kalau kamu sudah menyelamatkan diri, kamu nggak bisa menyelamatkan orang lain,".
"Kamu sudah berusaha yang terbaik delapan tahun ini! Saatnya menghargai dirimu sendiri,".
"Kamu baik, kok. Kamu sudah memberikan yang terbaik,".
Saat dua pertanyaan itu terus menggema dalam kepalaku, teman-temanku datang menjadi suara-suara rasional. Rasanya seperti tanganku ditarik dari ujung jurang supaya menjauh sebelum jatuh lagi. Mereka menggenggamku, berkata bahwa aku sudah berusaha dan tidak ada yang bisa kulakukan lagi. Mereka meyakinkanku bahwa saat ini aku perlu menyelamatkan diri. Mereka tidak ingin aku jatuh lagi ke jurang itu.
Berat, kau tahu? Berat rasanya meninggalkan seseorang yang turut membentuk siapa diriku sekarang. Seseorang yang keberadaannya membuatku terpacu jadi lebih baik lagi. Berat rasanya melihatnya berubah menjadi pesakitan. Seseorang yang perlu dijauhkan dari berbagai benda untuk mencegahnya menyakiti diri sendiri.
Namun, aku ingin tetap hidup.
Jujur, I want to keep myself alive.
Aku tidak bisa membayangkan betapa hancur hati teman-temanku yang lain jika aku berubah seperti itu juga. Keluargaku juga akan hancur melihatku sakit dan terluka.
Dan kurasa...menjadi egois dalam mencintai diri sendiri itu perlu. Bukan begitu?