menguatkan dan menghangatkan. rasa yang timbul saat manusia melalui badai bersama.
memelena

seen from United States
seen from Costa Rica
seen from Australia
seen from China

seen from Malaysia
seen from United States
seen from China

seen from China

seen from Thailand
seen from Türkiye
seen from South Korea
seen from Türkiye
seen from Germany
seen from China

seen from South Korea
seen from Germany
seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from United States
menguatkan dan menghangatkan. rasa yang timbul saat manusia melalui badai bersama.
memelena
Memilih untuk menguatkan
Yuriko
Kekuatan itu yang mampu menguatkan yang lain, bukan melemahkan.
5 September 2017 | 12.30
langkah
langkah seringkali terjadi dengan cara yang tidak bisa dimengerti, meski setiap manusia boleh membangun harapan.
langkah kadang kala gentar saat dipertemukan dengan kenyataan, meski sebenarnya sudah menyiapkan untuk risiko terburuk.
lalu aku, dalam langkah lemahku, dalam imajiku yang nyaris pupus berantakan.
kamu, dengan hangat menyiapkan diri. menjadi yang menemani. dan menguatkan.
Menguatkan Hati di Tengah Hari-Hari yang Penuh Ujian
SURAU.CO – Dalam hidup, setiap orang sedang membawa beban yang tidak selalu terlihat. Ada yang menutupinya dengan senyum, ada yang menyimpannya dalam diam, dan ada pula yang menanggungnya sambil terus berusaha tetap tegar. Namun satu hal yang pasti: tidak ada ujian yang datang tanpa seizin Allah, dan tidak ada kesulitan yang hadir tanpa membawa hikmah. Sering kali kita merasa letih. Letih…
Teman yang Banyak Belum Tentu Menguatkan, Tetapi Teman yang Beriman Pasti Menuntun
SURAU.CO – Di dunia ini, kita bisa memiliki ratusan bahkan ribuan teman. Ada yang hadir di masa sekolah, ada yang singgah di tempat kerja, ada yang sekadar lewat dalam perjalanan hidup kita. Namun dari sekian banyak itu, berapa yang benar-benar membawa kita lebih dekat kepada Allah?. Hasan al-Bashri rahimahullah mengingatkan sebuah hakikat yang sering kita abaikan: “Perbanyaklah berteman dengan…
Hidup yang tidak sesuai impian bukanlah hidup yang gagal, dan hidup yang sesuai impian belum tentu hidup yang berhasil, aku hanya harus melakukan tugas yang diberikan kepadaku dengan baik
Back Yi-Jin “Twenty Five Twenty One”
“ Dan Alloh pun berkata bahwa apa yang diberikan kepada itu itu adalah kebutuhan kita, karena kemauan kita belum tentu kita butuhkan dalam menjalani hidup”
Nai_98
Janji adalah janji, salah satu indikator integritasmu terletak pada bagaimana cara kamu memenuhi janjimu
Adzan Maghrib baru saja usai sekitar lima belas menit yang lalu. Bergegas aku untuk siap-siap menemui seorang teman dengan membawa bungkus penyetan kesukaan.
Selang beberapa detik keluar kos, satu persatu tetes kecil jatuh menembus Hoodie abu yang kukenakan. Gerimis. Langkahku sempat terhenti sejenak. Berpikir untuk mengurungkan niat silaturahmi dan kembali ke kos.
"Hais, cuma gerimis. Ngga sampe lima menit kok. Bentar lagi sampai". Batinku yang mencoba menguatkan diri dan tak ingin menghancurkan kepercayaan teman ku ini
Perlahan, aku coba kuatkan langkah menerjang gerimis maghrib yang sepi dan gelap. Lengkap sudah menambah syahdu malam mingguku.
Baru seperempat perjalanan, tetes kecil bertambah banyak. Seolah olah dia tak ingin turun sendiri ke bumi dan mengajak ribuan kawan lainnya untuk membasahi bumi. Bress. "Lari". Batinku. Sesekali kulihat ke atas, nampak begitu deras hujan malam ini. Tapi tak mungkin menepi. Ini terlalu sepi dan gelap bagi gadis mungil sepertiku jika akan menepi.
Perlahan tapi pasti, aku terus berlari. Kaos kaki basah. Diikuti rok plisket yang basah. Hoodie basah. Jilbab basah. Diikuti kacamata yang berembun hampir hampir tak kelihatan jalan karena kaca tertutup air.
Hingga akhirnya "assalamu'alaikum", sapa ku pada penghuni kos temanku dengan nafas masih terengah engah. Namun tak kunjung dibukakan pintu. Kuulangi lagi. Alhamdulillah kali ini ada yang menjawab.
Perlahan aku masuk, dengan kondisi basah dari atas sampai bawah. Ah tak nyaman sekali batinku. Setelah sampai, aku kira akan ada yg menanyai keadaanku. Apakah aku baik baik saja? Apakah tadi kehujanan? Dan sederet imajinasi pertanyaan lain
Ah dasar aku yang terlampau pamrih. Sambil menertawai diri sendiri dan mengeringkan outfit ku, akhirnya aku sadar, bahwa hidupmu ya hidupmu bukan tentang orang lain dan bukan urusan orang lain.
Seberapa hebat niatmu dan proses mewujudkan pengabulan niatmu, orang ngga bakal liat itu. Mereka hanya akan melihat hasil akhir apa yang bisa kamu berikan. Tak perduli apakah kamu kehujanan sampai mati rasa pada jari jarimu, tak perduli kamu terluka sampai kamu ngga bisa ngerasain sakit karena saking seringnya, tak perduli seberapa banyak air mata yang udah dikeluarin sampe bikin matamu berkantong. Ngga ada yang perduli dan mengerti. Karena, yang paham sakit, luka, penat, arti air mata..ya cuma diri kamu sendiri. Itulah yang menyebabkan kamu tumbuh menjadi lebih dewasa dan bisa seperti sekarang ini.
Jadi pengen meluk diri sendiri, nge puk puk bahu sendiri, nggenggam tangan sendiri, dan
"hai diriku, aku bangga padamu. Makasih udh mau jalan sejauh ini dan masih tetap bisa senyum pula. Aih sayang kamu. Jaga diri baik baik yah, perjalanan kita masih panjang ok. Fighting"