seen from United States

seen from Thailand

seen from United Kingdom
seen from Spain

seen from Italy

seen from Thailand
seen from Spain

seen from Thailand
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from China

seen from Thailand

seen from Ukraine

seen from Malaysia
seen from Malaysia
seen from United States
seen from Ukraine

seen from Slovakia

seen from United States
Catatan yang Belum Selesai Kepada Kekasih yang Hidup dalam Kenang
Adakah senja yang menyemburat jingga di sana, di langit-kotamu?
Ini adalah minggu. Di kotaku biasanya langit lebih senang mengirimkan hujan. Tapi tidak hari ini. Hari Minggu. Hari yg semestinya dipenuhi dengan keceriaan, dan, matahari yg cerah barangkali bisa mewakilinya, menyimbolkannya.
Sebenarnya aku tidak benar-benar tahu alasan langit hari ini begitu cerah, barangkali hanya kebetulan, atau memang benar adanya. Tidak ada yg tahu, aku pun begitu, hanya menerka. Tapi aku suka membayangkannya, kalau Tuhan memang sengaja menurunkan matahari yg cerah ini untuk menambah keceriaan. Minggu ceria, seperti katamu- dulu.
Aku ingat, kata itu kudengar pertama kali setelah kukatakan aku mencintaimu. Lewat tengah malam. Waktu yang tidak biasa sebetulnya untuk menyatakan kata cinta. Tapi aku melakukannya. "Minggu ceria," katamu, setelah kau katakan menerima cintaku. Dan aku mengamininya. Minggu ceria. Minggu-paling-ceria, dini hari paling bahagia.
Kau tahu, saat itu, aku berdoa, tidak pernah merasa kantuk dan hari terus minggu. Agar aku selalu merasa merdu seperti lagu, senyum selalu menyemburat di p, dan Minggu selalu terasa ceria.
Tapi kusadari selalu ada hal yang tidak sesuai. Aku ketiduran dan matahari telah menandakan pagi.
Tidak. Aku tidak akan akan mengajakmu mengenang kisah yang pernah lalu. Bukan itu maksud tulisan ku. Kenangan biarlah dia menetap di tempat yang seharusnya. Di hati. Di kertas. Di senja. Di film. Di masakan. Juga di hal-hal lainnya. Aku tidak akan mengajakmu untuk mengenang. Aku pun tidak berniat untuk mengenang, hanya tidak sengaja. Ada hal yang membuat semua kenang menggenang begitu saja. Lalu untuk apa aku menulis ini? Untuk alasan itu, sejujurnya aku pun tidak tahu. Tidak. Aku tidak berpura-pura tak tahu. Aku memang tidak tahu.
Aku hanya ingin menulis. Itu saja. Tanpa tahu untuk apa. Tanpa tahu akan jadi seperti apa -setelah aku menulisnya.
/23:35/
lagi lagi kita bertemu. kali ini bukan kamu dan sepeda birumu di minggu pagi. malam yang sama dan tempat yang sama. persis sekali seperti 5 bulan yang lalu.
"sudah ya tidak usah dipaksakan. kita seharusnya memang berteman saja. aku pikir itu lebih baik."
lucu. seharusnya malam minggu itu menjadi spesial karena kita baru bertemu setelah lama termakan oleh jarak. tapi itu saja yang kamu ucapkan. segampang itu.
dan setelahnya setiap kali kita bertemu. benar-benar. kamu menganggapku teman.
minggu pagi dan senyum.
"sendiri saja?"
klasik. seharusnya kamu tahu aku akan datang kesini dengan dua kemungkinan. bersamamu atau seorang diri.
malam ini seharusnya menjadi malam yang menyenangkan. sebab akhirnya aku melupakan sejenak tugas tugas yang belum tuntas itu. dan kedua kalinya kamu merusak malam mingguku.
"apa kabar? sendiri saja?"
aku baik. tidak. tentu saja tidak, bodoh. bagaimana bisa kamu setenang itu sedangkan kakiku rasanya lemas sekali. teringat pada malam itu. dan lagi. harus berapa kali kamu bertanya. jawabannya akan sama. aku hanya akan datang bersamamu. seorang diri. atau tidak akan datang sama sakali.
Teruntuk Mas,
Mas, ini aku yang masih menyukaimu. Tanpa niat ingin berhenti juga tak lagi berharap memiliki.
Melalui tulisan ini,aku hanya ingin berterimakasih.
Terimakasih karena tidak keberatan untuk mengambil peran besar dalam perjalananku yang panjang. Terimakasih karena telah menjadi alasan agar aku tak menyerah dengan mudah. Terimakasih atas senyummu yang tak pernah enggan merekah. Sungguh, aku pernah mencapai titik lebih dari bahagia hanya karena semua hal tentangmu yang sederhana.
Mas, sukaku padamu tidak lagi terlampau mendalam, tapi juga tidak kunjung menghilang, entah sampai kapan. Tak mengapa kan?
Mas, kamu tak perlu khawatir, atas segala hal tentangmu yang sederhana, aku sudah mengikhlaskanmu dengan istimewa.
Tertanda, Aku yang selalu meng-aminkan doamu, meski di dalam doamu tak ada namaku.
"tersesat"
Ada beberapa yang terkadang aku merasa cukuplah aku yang tahu. Sederhananya, cukuplah aku dan tuhan yang tahu. Barangkali akan ku tempatkan begitu rasa ku terhadap mu, bahwa cukuplah aku yang merasa.
Tak ada asa ku ingin kamu juga mencintaiku seperti bagaimana aku mencintaimu, biarkan saja aku yang merasa karena rasa ku padamu terlalu dalam, terlalu luas. Aku hanya takut kamu tersesat, sebagaimana tersesatnya aku menaruh rasa terhadap mu
-tatjtiyah-
Tapi kata mu cinta hanyalah sketsa paling dasar dari seni kehidupan. Kini kau sudah berupa lukisan dan kuas adalah dia yang mencintaimu setengah-setengah
JALANG 2017
Aku bukan atlet lari, tapi aku suka mengejarmu.
- Niken Taurista
because I’m excited for the new lore