Menjaga Husnudzon kepada Allah
"Ada yang membuatku sedih selain 'silent treatment'; 'silent reflux'."
Bismillah, cerita ini sengaja dikenang lewat tulisan supaya bisa dibaca ulang lain waktu. It's okay, kita sedang berjalan di medan masing-masing yang kadang terjal dan berliku, bukan?
Belum genap sepekan ketika Aisyah memasuki usia 5 bulan (awal November), qodarullah menjadi titik awal perjuangan buat kami.
Tanpa tahu kenapa, tidur malam Aisyah jadi sangat tidak nyenyak. Beberapa kali juga menunjukkan tanda-tanda kalau dia tidak nyaman.
Sebelumnya, Aisyah sudah mulai jarang bangun saat malam hari untuk menyusu. Saat usia 4 bulan, ketika kubangunkan tiap 2 jam, sudah tidak mau menyusu. Ternyata ritmenya sudah berubah jadi selang 3 jam. Sejak hampir usia 2 bulan pun kalau waktunya menyusu dia tidak bangun dan nangis, hanya mengangkat kakinya lalu dibanting. Hehe, lucu memang, ternyata itu adalah cara dia 'mengkode' ibunya untuk menyusu. Barakallah, shalihah.
Tapi, Aisyah jadi sering terbangun di malam hari, menangis dan menunjukkan ketidaknyamanan. Ingin menyusu terus menerus. Setelah selesai, tidur pun terbangun jika diletakkan di kasur.
Sepanjang malam harus dipangku, bahkan digendong sambil diayun karena sering terbangun dan menangis. Padahal sudah dipangku. Kalaupun bisa ditaruh, 15-30 menit kemudian bangun lagi. Paling lama satu jam atau satu setengah jam, itu pun jarang bisa selama itu.
Sejak saat itu, Aisyah juga jadi tidak terlalu aktif lagi. Bahkan tidak mau tengkurap sendiri atau ditengkurapkan. Padahal sebelumnya anaknya aktif dan tertawa ceria kalau diajak 'gojek', seneng tengkurap sendiri.
Awalnya aku kira dia kelelahan. Padahal 2 hari sebelumnya baru dipijat. Memang biasanya rutin pijat minimal sebulan sekali. Sambil tiap hari juga dipijat sendiri sebisanya.
Aku bilang ke suami, growth spurt mungkin ya. Suami juga husnudzon, bisa jadi mau tumbuh gigi.
Kami tunggu sepekan, kok tidak membaik. Tidak ada tanda muncul gigi juga. Akhirnya coba dipijatkan lagi. Barangkali lelah sekali dia. Hasilnya nihil. Sama saja.
Rasanya aku mulai terbiasa tidur sambil duduk sepanjang malam. Ibu mertua pun ikut bantu jaga malam. Kami bergantian ambil alih Aisyah demi tidurnya lebih nyaman. Tapi namanya orang tua, sudah bukan waktunya lagi begadang mengurus bayi, bukan? Sepertinya beliau kelelahan, akhirnya masuk angin cukup lama dan aku minta untuk istirahat saja. Walaupun begitu, ketika sudah sehat beliau tetap sering membantu, tidak lagi memangku Aisyah lama-lama, tapi bantu menenangkan Aisyah dan minta aku buat istirahat dulu. Semoga Allah berkahi beliau.
Aku galau, bukan hanya karena Aisyah tidak tidur nyenyak. Tapi pikiran tidak karuan sibuk menebak Aisyah kenapa. Karena aku sadar ada beberapa tanda kalau Aisyah terlihat tidak nyaman.
Aku coba bilang ke suami dan ibu mertua tentang tanda Aisyah yang sepertinya tidak nyaman, tapi mereka bilang tidak apa-apa. Hal biasa. Mungkin ini, mungkin itu.
Aku tahu maksud mereka mungkin agar aku tidak terlalu khawatir. Tapi tetap saja khawatir. Diam-diam nangis sendiri. Merasa bersalah karena Aisyah jadi seperti ini. Lebih menyesakkan dada lagi, ketika aku kasian sama Aisyah yang terbangun, terlihat tidak nyaman dan gelisah, tapi tiba-tiba ditengah tangisnya dia berhenti dan senyum sebentar. Yaa Allah, nangis banget kalau pas momen seperti ini. Nyeseeeek.
Dua pekan lebih berlalu dan tidak ada perubahan. Akhirnya aku memutuskan konsul dengan DSA. Dari cirinya, kukira asam lambung atau GERD. Kutanyakan ke dokter juga saat periksa. Sejauh ini memang tidak ada sering muntah. Hanya terlihat seperti mau muntah tapi tidak ada yang keluar. Jadi menurut dokter tidak perlu dikhawatirkan, karena memang Aisyah terlihat seperti 'tidak kenapa-kenapa'. Beliau lebih fokus pada tumbuh kembang karena ada hal yg harus dikejarkan diusianya. Yaps, di bulan kelima ini memang jarang sekali stimulasi karena Aisyah jadi rewel dan sering minta gendong.
Beberapa hari setelah periksa, alhamdulillah Aisyah sudah mau lebih banyak bergerak lagi, mau tengkurap sendiri walaupun hanya sebentar. Tapi untuk keluhan dan tanda-tanda yang lain masih ada.
Sebulan berlalu, masih tetap melewati malam-malam panjang dengan kekhawatiran yang sama, sambil terus berdoa minta kenyamanan buat Aisyah.
Aku sempat rungsing, jadi gampang marah. Sering tiba-tiba marah sama suami. Pernah nangis kayak anak kecil ketika bilang sama ibu mertua kalau Aisyah menunjukkan tanda-tanda dia tidak nyaman, tidak baik-baik saja. Haha, yaa Allah kalau ingat ini lucu sekali. Alhamdulillah beliau banyak maklumnya. Huhu.
Intinya saat itu rasanya kalut banget. Mungkin karena campuk aduk, badan lelah, pikiran lelah, khawatir tapi juga bingung harus bagaimana. Berusaha husnudzon sama Allah kalau ini akan segera berakhir namun juga masih menyimpan banyak tanya 'sampai kapan Aisyah harus seperti ini?'. Ibu mana sih yang tidak sedih melihat anaknya tidak nyaman? Berlarut-larut pula.
Bulan Desember, tiba waktu Aisyah mulai MPASI. Alhamdulillah Allah mudahkan. Makannya lahap dan habis. Tak lama, qodarullah Aisyah batuk pilek. Ini berpengaruh sekali sama nafsu makannya dan tidurnya jadi lebih 'effort' lagi. Saat itu, tubuh Aisyah terlihat kurus. Sangat kurus. Sepertinya BBnya terjun jauh.
Tapi untuk batuk pilek aku memang sengaja tidak periksa, karena insyaAllah kalau sudah waktunya akan sembuh dengan sendirinya dan tubuhnya akan membentuk sistem imun, begitu yang kupahami. Kalau kata dr. Apin, yang penting lebih sabar aja.
Alhamdulillah menjelang akhir tahun, fase bapil berakhir. Aisyah sudah kembali makan dengan lahap. Badannya sudah terlihat lebih berisi lagi.
Sayangnya, masih dengan tidur yang belum nyenyak dan tanda-tanda tidak nyamannya.
Aku ingin 'menerima' kalau Aisyah baik-baik dan biasa saja, tapi hatiku bilang ada yang tidak baik-baik saja, yang aku pun tidak tahu apa. Sempat kena herpes dan bulan Januari bahkan aku terlambat haid sampai 14 hari.
Sebenarnya ada beberapa hari dimana Aisyah bisa tidur lebih nyenyak. Kalaupun sering terbangun tidak sesering ketika 'fase berat' dan tidak menangis, paling hanya merengek pelan. Masih mencoba untuk husnudzon sama Allah, tapi mau dibarengi ikhtiar periksa lagi.
Awal tahun aku coba cari di google dan menyebutkan semua tanda yang ada di Aisyah, muncul beberapa artikel tentang 'silent reflux'. Tidak banyak, dan kebanyakan juga artikel dari luar. Artikel Bahasa Indonesia sepertinya belum banyak yang membahas kasus ini pada bayi. Di youtube aku menemukan postingan orang luar, seorang ibu yang mengalami ini seolah berjuang sendirian.
Bagaimana tidak, orang lain yang hanya beberapa saat melihat memang tidak akan nampak tanda-tandanya.
Semakin banyak kubaca, cari juga di youtube dan instagram, semakin merasa "yaa Allah, kok... banyak banget tanda yang Aisyah juga begini, kirain hal biasa".
Sebenarnya lumayan tenang karena kemungkinan bisa sembuh sendiri di usia 12 sampai 18 bulan. Tapi beberapa hal masih butuh pengarahan dari dokter, terkait jadwal makan, porsinya, dan juga tumbuh kembang Aisyah.
Tanpa bermaksud mendiagnosis sendiri, akhirnya mencoba periksa lagi ke DSA yang berbeda. Aisyah didiagnosa ISK. Tapi hatiku rasanya masih ada yang mengganjal, seperti gemuruh yang belum reda. Beberapa tanda seperti masih diabaikan.
Aku kekeuh untuk membawa Aisyah ke Jogja dan periksa dengan DSA ahli gastro. Berdasarkan cirinya, memang tanda reflux, kata beliau, namun tanpa muntah. Silent reflux. Serupa dengan GERD.
Aku paham, orang dewasa saja bisa sesakit itu dan tidak nyaman ketika GERD-nya kambuh. Bagaimana dia yang masih bayi, belum bisa bicara. Yaa Allah, naaak.
Setelah diberikan obat untuk lambungnya, alhamdulillah tidur Aisyah lebih baik. Aisyah ceria, banyak tertawa dan mengoceh. Bahagia sekali rasanya. Namun, belum lama ini aku mencoba menaikkan porsi makan Aisyah, beberapa hari kemudian qodarullah kambuh dan tidak nyaman lagi. Mungkin belum siap dan harus pelan-pelan sekali naik porsinya. Huhu, sedih lagi padahal rasanya baru sebentar lihat Aisyah seceria itu lagi.
Sepertinya men-treatment dia harus ekstra lembut karena berpengaruh dengan asam lambungnya yang naik. Kalau bayi pada umumnya boleh berbaring 20-30 menit setelah menyusu, Aisyah harus menunggu satu jam dulu atau lebih. Begitu pula setelah makan.
Alhamdulillah, saat ini kami masih berjuang. Kemungkinan perjalanannya masih panjang. Namun dengan penjelasan dokter, kini perasaan khawatirku lebih reda. Sekarang masih terus berusaha untuk selalu berhusnudzon sama Allah. Aku percaya Allah akan siapkan musim semi untuk kami di waktu yang akan datang. Sembari terus melangitkan doa, meminta agar selalu dikuatkan, diberi kesabaran dalam melewati masa-masa ini.
Adanya hal 'ghoib' alias hal-hal yang aku tidak tahu ini, membuatku jadi belajar untuk lebih pasrah lagi sama Allah.
Kelak, akan aku ceritakan ini sama Aisyah. Bahwa sejak kecil dia telah berusaha dan berjuang melewati banyak hal yang membuatnya tidak nyaman, yang bahkan orang lain tidak benar-benar bisa memahaminya. Semoga dengan begitu, dia tumbuh menjadi anak yang memiliki daya juang hebat meski kelak diterpa ketidaknyamanan hidup lainnya. Semoga dia mengerti, bahwa tidak semua orang bisa memahaminya, dan ketika demikian, bersandar pada Allah adalah yang terbaik. Semoga kami selalu bisa husnudzon sama Allah, sekalipun harus menghadapi takdir yang tidak kami sukai. Semangat yaa nak, Allah selalu bersama kita. Barakallahu fikum, anakku Aisyah. 🫶🏻