Bermain-main dengan kesempatan
Permukaan air laut berkecipak pelan. Salah satu kepala anak muda dari rombongan mahasiswa muncul. Mereka melakukan diving di salah satu laut lombok. Menyemburkan air. Aku (Tegar) melirik pergelangan tangan. Baru setengah jam.
Tegar: "Ada yang tertinggal?"
Pemuda: (tertawa, menggeleng)
Tegar: "Kau sudah selesai?"
Pemuda: (menggangguk, tertawa) "Sudah cukup, Mas Tegar. Terlalu lama maka semakin terasa hambar kenangannya, hilang rasa spesialnya. Bagiku jauh lebih menyenangkan menyimpan sepotong kejadian yang hanya selintas terjadinya. Itu akan membuat penasaran saat mengenangnya, bukan? Dibandingkan kejadian yang kita rekam dengan kamera atau foto, yang kita lihat berkali-kali. Tidak ada celah untuk membayangkan lagi kenangan itu."
Tegar: "Teman-temanmu masih menyelam?"
Pemuda: "Tentu saja, mereka tidak akan naik ke permukaan sebelum sisa oksigen di dalam tabung menyentuh batas berbahaya." (Tertawa)
Tegar: "Apa saja yang kau lihat selama setengah jam?"
Pemuda: "Banyak, Mas Tegar. Serombongan barracuda, tiga ekor kuda laut, ikan pari raksasa, gurita, tidak terhitung bintang laut, tripang, ikan badut, ubur-ubur, belut laut, dan sebagainya. Dan, ah-ya, jangan lupakan dua ekor penyu yang sedang menari. Bukan main. Itu amat hebat."
Tegar: "Penyu menari? Kau berapa kali datang ke sini?"
Tegar: "Dan kau merasa cukup hanya menyelam setengah jam?"
Pemuda: "Begitulah. Jauh lebih menyenangkan mengenang sesuatu yang hanya melintas terjadinya. Bahkan dalam banyak kesempatan jauh lebih menyenangkan mengenang sesuatu yang sepantasnya terjadi tapi kita tidak membuatnya terjadi, meski kita bisa dengan mudah membuatnya terjadi."
Tegar: (melipat dahi, tidak mengerti)
Pemuda: "Mendaki gunung misalnya. Akhir tahun lalu aku mendaki puncak Jaya Wijaya, di Papua. Butuh enam bulan persiapan, perjalanan yang panjang, pendakian yang melelahkan. Hanya tinggal seratus meter lagi dari puncak tertinggi yang bersalju itu, aku memutuskan turun.:
Pemuda: "Hanya butuh lima belas menit lagi untuk tiba di puncaknya, Mas Tegar. Dan aku bisa berfoto, bilang ke semua orang bahwa aku pernah menaklukan puncak Jaya Wijaya. Tapi buat apa? Justru semua itu lebih menyenangkan saat dikenang bahwa aku pernah punya kesempatan menaiki puncak itu, mudah sekali menyelesaikan sepotong sisanya, tapi aku memutuskan untuk cukup. Memutuskan kembali. Memutuskan untuk mereka-reka seperti apa rasanya saat tiba di puncak."
Pemuda: "Percaya atau tidak, membayangkan seperti apa hebatnya perasaan itu akan jauh lebih hebat dibandingkan kalau aku benar-benar tiba disana, bukan? Bisa jadi aku kecewa setelah benar-benar tiba di sana, ternyata semua itu tidak sehebat yang kubayangkan. Dengan mengurungkan menjejaknya waktu walau tinggal selangkah, semua itu akan membuat kenangan, bayangan dan pengharapan itu tetap istimewa. Tetap hebat seperti yang kubayangkan." (menyeringai ringan)
Tegar: (bergumam) "Apakah dunia memang begitu? Kita tidak akan pernah mendapatkan sesuatu jika kita terlalu menginginkannya. Kita tidak akan pernah mengerti hakikat memiliki, jika kita terlalu ingin memilikinya."