Aku lebih terbiasa denganmu yang jujur. Terdiam memasang wajah manis dihadapanku bukan berarti kau peduli, kan? Hanya katakan saja yang sejujurnya, aku tak akan melukai hatimu yang lain. Simpan saja hatimu dan bicaralah denganku, aku siap menerimanya.
Aku lebih tidak siap jika kau baik hanya karena kau tidak ingin membuatku menangis.
#Ceritaku Bagian 002: Mencoba Pergi tapi Kau Dibenci
Kawan, tolong baca ini sejenak. Renungkan jika memang kau pernah mengalaminya.
Apakah kau pernah mencoba untuk terlihat baik di mata orang lain, tapi kau lelah karena tidak dihargai?
Apakah kau pernah berusaha dengan segenap waktu dan kemampuanmu untuk menolong orang lain, tapi kau tidak pernah mendengarnya berterima kasih?
Apakah kau memiliki banyak teman, tapi tidak ada satupun yang mengerti?
Kau lelah dan mencoba untuk pergi, tapi kau malah dibenci oleh mereka. Merasa bingung dan hidup ini sia-sia. Pada akhirnya kau putus asa.
Aku hanya ingin bilang, pergilah. Tak apa. Kau pantas mendapatkan kebahagiaan lain di luar sana meskipun hanya kau satu-satunya yang mengerti.
Tak apa, kawan. Orang lain bukanlah sumber atas kebahagiaanmu, melainkan kebahagiaan itu ada di dalam dirimu sendiri. Jika memang kau merasa orang lain tidak pernah mengerti dengan keadaanmu, atau mereka mereka tidak tahu bagaimana caranya berterima kasih, kau sudah tahu jawabannya; mereka sampah.
Kebahagiaan bukan dilihat dari seberapa banyak teman yang kau miliki, tapi seberapa berharganya waktu yang kau lewati. Jika kau punya banyak teman tapi waktumu terasa hampa dan sia-sia, kau sudah memilih jalan yang salah.
Seharusnya jika memang kau mengatakan bahwa mereka adalah teman, kau pantas mendapatkan kebahagiaan. Ya ya... aku tahu. Awalnya kalian memang terlihat sangat bahagia, bukan? Tapi tolong lihat dari sisi yang lain. Apakah ketika kau membutuhkannya, mereka ada?
Dengar. Semakin tua usiamu, semakin kau sadar jika tidak ada yang namanya teman baik. Satu per satu mereka akan pergi memilih untuk jalannya masing-masing. JIka kau terus memaksakan untuk mengikufi standar orang lain, kau bukannya akan berjalan bersama, melainkan terseok-seok mengejar hal yang berlalu.
Jangankan kalian, aku saja pernah mengalaminya. Begitu sakit rasanya ketika kau sudah begitu peduli kepada temanmu sendiri. Tapi ketika kau jatuh dan membutuhkannya, dia tak peduli. Bahkan ketika aku berada di titik terendah dalam hidupku, temanku menghilang.
Sedih? Kecewa? Terluka?
Tentu saja.
Bagaimana bisa temanku yang selalu menumpahkan air matanya dipundakku, memohon padak ketika dia membutuhkan pertolongan, menumpahkan keluh kesahnya di hadapanku, kini acuh.
Apakah dia tahu jika aku sedang jatuh dan terluka? Tentu saja dia tahu. Tapi dia tidak peduli.
Apa yang aku lakukan setelahnya?
Meskipun membutuhkan waktu lama untuk menyesuaikan diri dan meraih kembali kepercayaan diriku, kini aku jauh lebih bahagia dari sebelumnya. Aku sudah tidak peduli dengannya ataupun orang lain yang hanya menjadi benalu dalam hidupku.
Lucunya, ketika aku sudah melupakannya, orang-orang itu datang dan membenciku. Benci karena aku menganggap mereka kini hanya seperti sampah. Lho, bukannya memang seperti itu?
Mau seberapa kerasnya mereka mencoba menjatuhkanku, aku tak peduli.
Sudahlah, intinya, kau pantas bahagia apapun jalanmu kedepan. Kau hanya cukup tersenyum, lupakan, dan hadapi.
Bukankah wajar jika Tuhan memberikan apa yang kau butuhkan, bukan apa yang kau inginkan? Aku hanya ingin tahu, memangnya seberapa banyak pengorbananmu kepada Tuhan? Setahuku, kau hanya bertemu dengan-Nya disaat kau jatuh, tapi tidak menoleh padanya disaat kau bangkit dan bahagia.
Jangan menyusahkan diri sendiri jika kau hanya ingin terlihat baik di mata orang lain. Mereka memang punya mata, tapi tidak dengan hati. Sebesar apapun kau berusaha baik, mereka akan selalu menganggapmu seperti sampah.
Aku memiliki empat dari lima tangkai bunga nan indah. Ku tanam dengan sangat hati-hati. Setangkai di antaranya hilang bersama dengan perasaanku yang lalu.
Kemudian kau datang dengan setangkai bunga lain, memintaku untuk menanamnya bersama dengan empat tangkai bunga yang sudah ada. Manisnya kau berkata, “aku akan melengkapi kekurangan itu, dan aku akan membantumu menanam yang lain.”
Akhirnya, aku setuju.
Tapi suatu hari, hal buruk terjadi.
Lima tangkai bunga yang kupunya, kini tinggal empat. Setangkai bunga darimu ternyata hanyalah bunga palsu.
Empat tangkai bunga yang kupunya, kini tinggal tiga. Janji yang kau ucapkan untuk merawatnya ternyata hanya sebatas janji. Kau memang menjaganya tapi tidak menyiramnya. Menjadikan bungaku kering dan akhirnya mati.
Tiga tangkai bunga yang kupunya, kini tinggal dua. Aku menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri kecerobohan yang kau buat menjadikan setangkai bunga itu mati, tapi kau tidak mau mengakuinya. Yang kuinginkan hanyalah permintaan maaf atas kesalahanmu, tapi ternyata kau malah menyalahkanku dan enggan untuk mengucapkan kata maaf.
Dua tangkai bunga yang kupunya, kini tinggal satu. Bagaimana bisa bunga yang kutanam dengan sepenuh hati, dan kau membantuku untuk menjaganya kini hanya tersisa satu tangkai? Betapa hancurnya hatiku ketika mengetahui jika setangkai bunga yang kutanam itu berada di tangan wanita lain. Apa yang ada di pikiranmu sampai-sampai kau setega ini?
Satu tangkai bunga yang kupunya, kini kujaga dengan sangat hati-hati. Taman yang dulu terisi dengan bunga indah, kini hanya tinggal kenangan.
Apakah aku akan membiarkannya pergi? Tentu saja tidak.
Biarkan aku menjaga satu saja bunga yang tersisa. Berharap jika taman yang dulu berisi lima tangkai bunga akan menjadi ratusan bunga setelahnya jika dia bertemu dengan orang yang tepat.