Manakala Akhirnya Kita Tidak Memaafkan
-hnfhdws-
They deserve what they've served.
Mengumpat, mengutuk; lebih enak dan mudah, kan? Rasanya mereka memang pantas mendapatkan itu. Tapi jika kezaliman dibalas kezaliman, jadi siapa yang sebetulnya zalim? Tarik napas dalam - dalam lalu keluarkan kadang bisa sedikit membantu. Kadangkala suatu hari ingat kesalahan itu, situasi hati biasanya mulai sempit lagi. Kelapangan hati betul - betul diuji, kalau kata orang Jawa; kudu legowo.
•
Forgiveness is a heal.
Yang aku dengar di antah-berantah tiba - tiba muncul lagi –memaafkan menuntun kesehatan– ide yang agaknya susah untuk diterima belakangan ini. Mungkin ini maksud Allah menempatkan Sang Pemaaf di list golongan orang yang masuk surga-Nya. Memaafkan memang sesulit itu dibanding meminta maaf, katanya, dan sekarang kata aku juga begitu.
•
Evaluasi diri.
Kembali lagi dan akan terus kembali. Jika kita ingin sesuatu, dan sesuatu itu adalah ridho nya Allah, harus tau gimana cara kejar targetnya. Di sini intinya, gak ada makhluk yang sempurna, begitupun diri sendiri. Kalau sewaktu - waktu ada hal yang kurang nyaman dari orang lain, mungkin itu caranya Allah membalas perbuatanku di masa lalu, atau positifnya cara untuk jauh lebih dekat sama Allah — teguran - teguran kecil. Malah aku baru tertampar oleh suatu tulisan;
"..tidak usah merasa paling tersakiti karena diri ini juga mungkin pernah jadi luka bagi orang lain."
Baru sadar, pembiasaan mendahulukan koreksi diri diatas menilai perbuatan orang lain terhadap kita itu bukan bentuk menyalahkan diri sendiri. Tapi, lebih kepada kita yang punya kekuatan atas kendali terhadap diri sendiri, as a prove bahwa hati kita bukan orang lain yang mengendalikan.
Evaluasi diri adalah mengenyampingkan ego, memperbaiki kecacatan, menerima ketidaksempurnaan. Mungkin bagian dari self love juga ya.
Tarik napas dalam - dalam lagi, sebelum akhirnya melepas. Karena manakala kita tidak memaafkan, bisa jadi merugikan diri sendiri; menolak saat ditawarkan opsi masuk surga lewat jalur kelapangan hati. Lagipula, setiap baik-buruk yang kita lakukan pasti ada balasannya di sisi Allah.
Jadi inget semboyan hidup selama ini, "being kind is a courage" — "jadi baik itu sebuah keberanian," berani lapang, berani menerima, dan berani mengambil keputusan bahwa akhirnya kita memilih jadi orang yang memaafkan.
Seperti epic ending film Cinderella; "I forgive you." katanya, tanpa aba - aba ke ibu tirinya yang belum sempat minta maaf. Hoho. She said the positive F word, is Forgive. What a glorious.
(Kalau mamahku baca pasti bilang: "Kebanyakan nonton film")
Dan dengan ini aku juga meminta maaf kepada teman-teman yang pernah berinteraksi dan merasa tersakiti dari perbuatan atau perkataanku.
•
Epilog
Titip do'a. Semoga Allah melindungi, melembutkan hati serta pikiran kita, dijauhkan dari penyakit hati. Semoga Allah senantiasa mengampuni kita semua. Aamiin.



















