Kamu masih beruntung. Sendu pilu yang mengerumuni seluk pikirmu, itu masih pasangka atau dugaan-dugaan yang terlalu kamu besar-besarkan. Kamu hanya 'merasa' bukan 'nyatanya'. Tentu saja itu bukan sengsara sesungguhnya.
Katamu 'merasa tak pantas mendapatkan teman'. Kataku 'tak ada orang yang tak mempunyai teman'. Waktu pertama kali kau berbicara padaku, dan setelah aku mendengarkan cerita panjangmu, apakah kau tak menganggapku sebagai teman? Tidak seperti sepasang kekasih yang bisa dianggap sah setelah ijab dan qobul, seorang teman tak memerlukan persetujuan masing-masing, cukup salah satu yang mengerti, sudah lebih cukup untuk dianggap teman.
Lalu, kau berkata 'tak pantas mendapatkan cinta'. Sungguh memuakan. Cinta seperti apa yang kamu maksud? Apa terpurukmu karena tak bisa mencintai orang lain sesuai harapmu? Jika benar begitu, kau hanya salah memilih jalan. Kamu terlalu keras memikirkan masa depan, padahal itu masih berupa imajinasi. Simpan dulu pikirmu itu, hadapi saja kenyataan yang sudah jelas saat ini benar-benar kau rasakan.
Perihal cinta, jika sudah berkeinginan mencintai orang lain, maka sebelumnya kau harus sudah dengan sepenuhnya bisa mencintai diri sendiri dan menerima diri sendiri. Karena inilah syarat pertama jika ingin mencintai orang lain, jika saja sejak awal kau lakukan itu, maka kau tidak akan merasan sesak sesakit itu.
Terakhir kau bilang 'tak pantas mendapatkan segalanya'. Jangan berlagak dunia bisa kau genggam semua, apa yang kau mau bisa terwujud sekejap mata. Dunia ini sangat kejam. Sedangkan telapak tangan kita luasnya segitu-gitu saja. Jika cukupnya hanya satu yang bisa kau genggam, jangan berusaha mengambil seluruhnya. Jika kamu terus memaksa, bisa saja tidak ada sama sekali yang bisa kamu genggam. Bukankah ini lebih menakutkan.
Belajarlah bersyukur dengan apa yang kau miliki saat ini. Cukup melangkah dalam garis yang telah diatur, jangan menjadi melebar karena serakah. Karena yang berhak mendapatkan segalanya hanya Tuhan-mu saja